Kang Sejo Melihat Tuhan

KANG SEJO MELIHAT TUHAN

 
Ilustrasi Kang Sejo Meliha Tuhan . Sumber: di sini


ANTARA BERAGAMA & BERKETUHANAN


Bukan salah saya kalau suatu hari saya ceramah agama di depan sejumlah mahasiswa Monash yang, satu di antaranya, Islamnya menggebu. Artinya, Islam serba berbau Arab. Jenggot mesti panjang. Ceramah mesti merujuk ayat, atau Hadis. Lauk mesti halal meat. Dan, semangat mesti ditujukan buat meng-Islam-kan orang Australia. Tanpa itu semua jelas tidak Islami.

Saya pun dicap tidak Islami. Iman saya campur aduk dengan wayang. Dus, kalau pakai kaca mata Geertz, seislam-islamnya saya, saya ini masih Hindu. Memang salah saya, sebab ketika itu saya main ibarat: Gatutkaca itu sufi. Ia satria-pandita. Tiap saat seperti tidur, padahal berzikir qolbi. Jasad di bumi, roh menemui Tuhan. Ini turu lali, mripat turu, ati tangi: mata tidur hati melek, seperti olah batin dalam dunia kaum sufi. Biar masih muda, hidup Gatutkaca seimbang, satu kaki di dunia satu lagi di akhirat. Mirip Nabi Daud: hari ini puasa, sehari esoknya berbuka. Dan saya pun dibabat ...

Juli tahun lalu saya dijuluki Gus Dur sebagai orang yang doanya pendek. Bukan harfiah cuma berdoa sebentar. Maksudnya, tak banyak doa yang saya hafal. Namun, yang tak banyak itu saya amalkan. "Dan itu betul. Artinya, banyak ilmu ndak diamalkan buat apa?" kata Pak Kiai sambil bergolek-golek di Hotel Sriwedari, Yogya.

Apa yang lebih indah dalam hidup ini, selain amal yang memperoleh pengakuan Romo Kiai? Saya merasa hidup jadi kepenak, nikmat. Dalam deretan Sufi, Al Adawiah disebut "raja." Wanita ini hamba yang total. Hidupnya buat cinta.
Gemerlap dunia tak menarik berkat pesona lain: getaran cinta ilahi. Pernah ia berkata, "Bila Kau ingin menganugerahi aku nikmat duniawi, berikan itu pada musuh-musuh-Mu. Dan bila ingin Kau limpahkan padaku nikmat surgawi, berikanlah pada sahabat-sahabat-Mu. Bagiku, Kau cukup." 
Ini tentu berkat ke-"raja"-annya. Lumrah.


KANG SEJO YANG SEDERHANA


Lain bila itu terjadi pada Kang Sejo. Ia tukang pijit -maaf, Kang, saya sebut itu- tunanetra. Kang Sejo pendek pula doanya. Bahasa Arab ia tak tahu. Doanya bahasa Jawa: Gusti Allah ora sare (Allah tak pernah tidur): potongan ayat Kursi itu. Zikir ia kuat. Soal ruwet apa pun yang dihadapi, wiridannya satu: "Duh, Gusti, Engkau yang tak pernah tidur ..." Cuma itu.

"Memang sederhana, wong hidup ini pun dasarnya juga sederhana," katanya, sambil memijit saya. Saya tertarik cara hidupnya. Saya belajar. Guru saya ya orang macam ini, antara lain. Rumahnya di Klender. Kantornya, panti pijat itu, di sekitar Blok M. Ketika saya tanya, apa yang dilakukannya di sela memijit, dia bilang, "Zikir Duh, Gusti ..." Di rumah, di jalan, di tempat kerja, di mana pun, doanya ya Duh, Gusti ... itu. Satu tapi jelas di tangan.
"Berapa kali Duh Gusti dalam sehari?" tanya saya. "Tidak saya hitung."
"Lho, apa tak ada aturannya? Para santri kan dituntun kiai, baca ini sekian ribu, itu sekian ribu," kata saya
"Monggo mawon (ya, terserah saja)," jawabnya.
"Tuhan memberi kita rezeki tanpa hitungan, kok.
Jadi, ibadah pun tanpa hitungan."
"Sampeyan itu seperti wali, lo, Kang," saya memuji.
"Monggo mawon. Ning (tapi) wali murid." Dia lalu ketawa.

Diam-diam ia sudah naik haji. Langganan lama, seorang pejabat, mentraktirnya ke Tanah Suci tiga tahun yang lalu. 'Senang sampeyan, Kang, sudah naik haji?" "Itu kan rezeki. Dan rezeki datang dari sumber yang tak terduga," katanya. "Ayat menyebutkan itu, Kang." "Monggo mawon. Saya tidak tahu." Ketularan bau Arab, saya tanya kenapa doanya bahasa Jawa. "Apa Tuhan tahunya cuma bahasa Arab?" "Kalau sampeyan Dah Duh Gusti di bis apa penumpang lain ..."
"Dalam hati, Mas. Tak perlu diucapkan."


KISAH KANG SEJO MELIHAT TUHAN


Ia, konon, pernah menolak zakat dari seorang tetangganya. Karena disodor-sodori, ia menyebut, "Duh, Gusti, yang tak pernah tidur ..." Pemberi zakat itu, entah bagaimana, ketakutan. Ia mengaku uang itu memang kurang halal. Ia minta maaf.
"Mengapa sampeyan tahu uang zakat itu haram"? tanya saya.
"Rumah saya tiba-tiba panas. Panaaaas sekali."
"Kok sampeyan tahu panas itu akibat si uang haram?"
"Gusti Allah ora sare, Mas," jawabnya.

Ya, saya mengerti, Kang Sejo. Ibarat berjalan, kau telah sampai. Dalam kegelapan matamu kau telah melihatNya. Dan aku? Aku masih dalam taraf terpesona. Terus-menerus






Sumber : 
Mohammad Sobary
Tempo, 12 Januari 1991
Read more ...

Tuhan Tersenyum

TUHAN TERSENYUM


Ilustrasi Tuhan Tersenyum.  Sumber: di sini

Pernahkah Tuhan tersenyum atau melucu?


Dalam kitab suci tak saya temukan dua hal itu. Begitu juga dalam hadis nabi. Pemahaman tekstual saya atas agama terbatas. Pengajian saya masih randah, kata orang Minang. Tapi kalau soalnya cuma "adakah khatib yang melucu, atau marah," saya punya data. Di tahun 1978, seorang khatib melucu di masjid UI Rawamangun. Akibatnya, jemaah yang tadinya sudah liyep-liyep jadi melek penuh. Mereka menyimak pesan Jumat, sambil senyum. Tapi khatib ini tak cuma menghasilkan senyum itu. Ia diganyang oleh khatib yang naik mimbar Jumat berikutnya. "Agama bukan barang lucu," semburnya. "Dan tak perlu dibikin lelucon. Mimbar Jumat bukan arena humor. Karena itu, sengaja melucu dalam khotbah dilarang ..." Vonis jatuh. Marah khatib kita ini. Dan saya mencatat "tambahan" larangan satu lagi.

Sebelum itu demonstrasi mahasiswa sudah dilarang "yang berwajib". Senat dan Dewan dibekukan. Milik mahasiswa yang tinggal satu itu, "melucu buat mengejek diri sendiri", akhirnya dilarang juga. Kita memang perlu norma. Tapi juga perlu kelonggaran. Maka, saya khawatir kalau menguap di masjid bakal dilarang. Siapa tahu, di rumah Allah hal itu tak sopan. Buat jemaah yang suka menguap macam saya, karena jarang setuju dengan isi khotbah, belum adanya larangan itu melegakan. Saya dengar Komar dikritik banyak pihak. Soalnya, dalam ceramah agamanya ia melucu. Tapi Komar punya alasan sahih. Ia, konon, sering mengamati sekitar. Di kampungnya, banyak anak muda tak tertarik pada ceramah agama. "Mengapa?" tanya Pak Haji Komar. "Karena isinya cuma sejumlah ancaman neraka." Wah ... Itu sebabnya ia, yang memang pelawak, memberi warna humor dalam ceramahnya. Dan remaja pun pada hadir.


Tuhan tersenyum : Jangan bawa organmu ke surga


Don't take your organs to heaven 
Heaven knows we need them here.

:)

Saya suka sufisme. Di sana Tuhan dilukiskan serba ramah. Dan bukannya marah melulu macam gambaran kita. A'u dibaca angu, tidak bisa. Dzubi jadi dubi, tidak boleh. Khotbah lucu, jangan. Lho? Bukankah alam ini pun "khotbah" Tuhan? Langit selebar itu tanpa tiang, bulan bergayut tanpa cantelan dan aman, apa bukan "khotbah" maha jenaka? Apa salahnya humor dalam agama? Di tahun 1960-an, Marhaen ingin hidup mati di belakang Bung Karno. Dalam humor, saya cukup di belakang Bung Komar. Artinya, bagi saya, humor agama bikin sehat iman. Dus, tidak haram jadah. Di Universitas Monash saya temukan striker: "Jangan bawa organmu ke surga. Orang surga sudah tahu kita lebih memerlukannya di sini". Imbauan ini bukan dari Gereja, melainkan dari koperasi kredit. Intinya: kita diajak berkoperasi. Dengan itu kita santuni kaum duafa, kaum lemah. Ini pun "khotbah" lucu.

Dalam kisah sufi ada disebut cerita seorang gaek penyembah patung. Ia menyembah tanpa pamrih. Tapi di usia ke-70 ia punya kebutuhan penting. Doa pun diajukan. Sayang, patung itu cuma diam. Kakek kecewa. Ia minta pada Allah. Dan ajaib: dikabulkan.

Bukan urusan dia bila masalah kemudian timbul, sebab Allah-lah, bukan dia, yang diprotes oleh para malaikat. "Mengapa ya, Allah, Kaukabulkan doa si kakek? Lupakah Kau ia penyembah patung? Bukankah ia kafir yang nyata?"

Allah senyum. "Betul," jawabnya, "Tapi kalau bukan Aku, siapa akan mengabulkan doanya? Kalau Aku pun diam, lalu apa bedanya Aku dengan patung?"

Siang malam aku pun berdoa, semoga humor kaum sufi ini tak dilarang.




Sumber: 
Mohammad Sobary
Tempo 27 Oktober 1990
Read more ...

Apakah Itu ?

APAKAH ITU ?


Ilustrasi Apakah Itu ?  Sumber : di sini


APAKAH SESUATU ITU ?

"Apa yang diperlukan agar seseorang mendapatkan pencerahan?"  tanya para murid.


Kata Sang Guru,  

"Kamu harus menemukan apa itu yang jatuh dalam air dan tidak menimbulkan riak; menerobos pepohonan dan tidak menimbulkan suara memasuki kebun dan tidak menggoyangkan seujung rumput pun."


 Setelah berminggu-minggu direnungkan tanpa hasil, para murid berkata,

"Apakah sesuatu itu?"


"Sesuatu?" kata Sang Guru. "Tetapi itu bukan sesuatu sama sekali."

"Kalau begitu, bukan apa-apa?"

"Bisa dikatakan demikian."


BAGAIMANA MENCARI SESUATU ITU ?


"Lalu bagaimana kami harus mencarinya?"

"Apakah saya menyuruhmu mencarinya?  

Itu dapat ditemukan, tetapi jangan pernah dicari.  

Carilah dan kamu akan kehilangan."





Sumber: 
Berbasa-basi Sejenak
Anthony de Mello SJ
Penerbit Kanisius
Cetakan 1, 1997
Read more ...

Sendal Jepit Kesederhanaan

Sendal Jepit Kesederhanaan

 

Ilustrasi Sendal Jepit

 

Mungkin ada pesona tertentu yang menghubungkan rohani para penyair. Setahu saya, ada dua penyair yang terpesona pada kesederhanaan. 

Yang satu Taufiq Ismail. Yang satu lagi Emha Ainun Nadjib. 


Bulan Juni, 1979, ketika Ki Mohamad Said Reksohadiprodjo meninggal dunia, Taufiq terharu. Ia merasa kehilangan. Ia lalu menulis sajak, buat mengenang orang tua sederhana tapi memancarkan kewibawaan itu. Yang paling pertama ia ingat tentang orang tua itu ialah sandal jepitnya, yang selalu berbunyi soh, soh, soh, menggosok debu Jakarta, menggosok debu Indonesia. Di rumahnya, Taufiq mencari sepatu lari, yang ia beli di negara dunia kesatu. Harganya, tentu saja, mahal. Dan itu membuat Taufiq malu mengenang kesederhanaan Ki Mohamad Said. Penyair ini silau melihat kehidupan orang tua itu.

Ketika Mohamad Kasim Arifin, mahasiswa IPB yang selama 15 tahun "menghilang" di Waimital, P. Seram, kembali ke IPB dengan kisah suksesnya membantu petani transmigran yang miskin, Taufiq juga terharu. Kasim, sahabatnya itu, meraih keberhasilan dengan swadaya, tanpa sepeser pun bantuan dana dari pemerintah. Begitu melihat dirinya sendiri, seorang dokter hewan yang hanya bersyair-syair saja kerjanya (begitulah diakuinya dalam sajaknya untuk mengenang Mohamad Kasim Arifin), ia merasa perlu menyembunyikan wajahnya menyembul di kali Ciliwung itu. Kasim yang hidupnya tak gemerlapan itu pun, seperti halnya Ki Mohamad Said, membuatnya merasa malu, risi, dan bersalah. Getaran apakah yang membuat kita bisa merasa risau dan terpojok tak berdaya seperti itu? Mungkin cuma Taufiq sendiri yang tahu jawaban persisnya. Tapi, saya kira Taufiq mengharapkan agar kita punya lebih banyak lagi tokoh seperti Ki Mohamad Said dan Kasim Arifin. Ia, dengan kata lain, tak ingin melihat Ki Mohamad Said berangkat meninggalkan kita. Kematian memang sering bisa memberikan kenangan seperti itu. Dan, celakanya, kita seperti baru sadar, bahwa orang seperti itu penting dan kita perlukan.

Dalam "Sajak-sajak Sederhana"-nya, nampak bagaimana penyair Emha Ainun Nadjib gandrung pada kesederhanaan itu. 

"Tuhanku" katanya. "Ambillah aku sewaktu-waktu. Kematianku kehendak sederhana saja. Orang-orang menguburku hendaknya juga dengan sederhana saja."

Barangkali, ini pesan Emha. Tapi barangkali juga salah satu cermin dari pergulatan batinnya sebagai seorang seniman. Seperti Taufiq Ismail, Emha Ainun Nadjib juga kuat memperlihatkan pada kita pemihakannya pada nilai kesederhanaan.


Ketika Soedjatmoko meninggal dunia, Emha juga menulis kenangan. Ada sesuatu yang ia kagumi pada diri intelektual beken itu. Oleh karena itu, tak segan ia menyebut Soedjatmoko sebagai ulama. Benar, kata Arab itu artinya memang persis mencerminkan kehidupan Soedjatmoko: orang yang banyak ilmu. Tapi pemberian gelar ulama itu jelas memiliki konotasi lebih: bahwa almarhum bukan cuma berilmu tapi juga, dan ini yang lebih penting, mampu memberikan teladan laku bagi siapa saja.

Goenawan Mohamad bahkan menyebut Soedjatmoko bukan cuma teladan ilmu, melainkan juga teladan "laku". Bagi Soedjatmoko, apa yang dikatakan dan yang ditulis tidak cuma cermin ketangkasan berolah pikir, melainkan juga cermin pergulatan batinnya. Orang bilang, keteladanan adalah sesuatu yang hilang dari kita. Kita tak lagi punya sesuatu yang kita banggakan. Tak ada lagi sosok pribadi yang layak kita jadikan teladan. Tampil secara sederhana saja misalnya, juga sesuatu yang tak mudah. Imbauan untuk menyederhanakan hidup sebetulnya pas buat kita. Ia bukan cuma problem bagi orang kaya yang cenderung hidup gemerlapan. Orang miskin pun, entah berkat rangsangan virus apa, banyak yang tak mau tampil apa adanya. Mereka tidak gemerlap, mungkin juga memperlihatkan sikap anti pada gaya hidup itu, barangkali hanya karena belum ada kesempatan.


Benar kekaguman Taufiq pada Ki Mohamad Said, karena orang itu telah membuktikan dalam hidupnya. Ia bukan cuma orang sederhana, melainkan mungkin kesederhanaan itu sendiri.





Sumber:
Mohammad Sobary
Jawa Pos 12 Januari 1992
Read more ...

Gado-gado Cak Nun

Gado-gado Cak Nun


Malam Minggu kemarin, 20 September 2014, di lapangan Korpri Provinsi Lampung, ada hajatan budaya yang digagas teman-teman SEKALA Lampung.  Di acara tersebut, hadir teman-teman dari Galaxy Nasyid, Paduan Suara Universita Lampung, Cerpenis Lampung Mbak Yuli Nugrahani, Budayawan Lampung Isbedy Setiawan, Pak Gie Sugiyanto, Tokoh Masyarakat, Pemuka Agama, Anggota DPR, dan Budayawan Emha Ainun Najib, dan tentunya saya, sebagai penonton (sopo rek sing takok ! ... ha ha :D )

Acara dibuka dengan penampilan dari teman-teman grup Nasyid Galaxy, Paduan Suara Universitas Lampung, pembacaan puisi oleh Isbedy Setiawan dan Yuli Nugrahan.

 Galaxy Nasyid in Action

 "Muli" oleh Isbedy Setiawan

Yuli Nugrahani dengan "Menuntut Bukti"-nya


 Emha Ainun Najib, tentang Kebhinneka Manunggal Ikaan


Tokoh Masyarakat dan Tokoh Agama Lampung




Beberapa wacana yang tercatat di kepala, dari acara budaya bertema Kebhinneka Manunggal Ika an, yang diprakarsai  Sekala Lampung, dan kemudian saya beri judul sendiri Gado-gado dari Cak Nun, diantaranya :


1. Gado-gado itu enak, ketika bahan-bahannya berkualitas. Kolnya, kacangnya, lontongnya, kentangnya, tahunya, semuanya fresh (dan kemudian diolah dengan benar). Gado-gado enak, ketika bahan-bahan tadi tetap menjadi dirinya sendiri: Kol ya benar-benar kol, bukan kol-kolan, dan seterusnya. Demikian analogi untuk Kebhinneka Manunggal Ika an.
Jika selama ini kita terlalu terpaku dengan Kebhinnekaan, ke depan kita juga perlu memberikan porsi perhatian lebih besar terhadap Kemanunggal Ikaan. Ketika Lampung, Jawa, Sunda, Bali, menjadi lampung-lampungan, Jawa-jawaan, Sunda-sundaan, Bali-balian, dan seterusnya, apakah akan menjadi gado2 Indonesia yang berkualitas ?!
Jadi cara berfikirnya: Manunggal ika, menyatu tanpa kehilangan identitas aslinya. 

Lampung, Jawa, Bali, madura dan seterusnya itu lebih dulu ada dari yang namanya Indonesia, justru Indonesia tak akan ada tanpa semua tadi.
Maka yang dibutuhkan justru menjaga identitas itu, dan untuk kepentingan Kemanunggal Ikaan, yang dibutuhkan adalah perekat berupa "keterbukaan", "saling menerima perbedaan" ...
Saya senang mendengar sudah ada yang mulai mengumpulkan "kata-kata mutiara Lampung" ... itu merupakan modal.  (Cak Nun)

2. Dari sisi religiusitas, kalimat "Allahuakbar" adalah bentuk tertinggi ketakjuban akan pengalaman empiris. Ketakjuban dari (kesadaran) sang rendah kepada (karya) Sang Maha Tinggi. Maka rancu ketika kalimat maha sakral tersebut justru digunakan untuk kepentingan gagah-gagahan. (Cak Nun)
3. Acara semacam ini, ada baiknya dikonsep agar seperti fase-fase yang disampaikan Bapak pendidikan : "ing ngarso Sung tulodo, ing madyo mangunkarso, tut wuri handayani". ketika semakin ke sana porsi saya dan kita yang tua-tua semakin sedikit, dan bisa digantikan dengan yang muda-muda ini, itu berarti acara yang digagas Skala Selampung dan komunitas-komunitas yang hadir di sini, semakin berhasil (Cak Nun)
4. Kearian lokal, Filsafat lampung "Piil Pasenggiri", dari yang saya alami dalam keluarga saya, terutama dari Ibu saya, lebih bermakna sebagai "gengsi" yang diukur sebagai segi Kemanfaatan orang Lampung terhadap dirinya dan orang lain (Advokad Lampung, dulunya orang teater -- namanya lupa)
5. Pluralitas itu realitas, menolaknya berarti menolak realitas. Realitas yang bersumber dari Sang Sumber hidup. Jika punya pendirian demikian silahkan resikonya ditanggung sendiri (Corat-coret Penulis).

Dan satu pesan Cak Nun, ketika aktivitas ini diselenggarakan menjadi rutin, idealnya peran Cak Nun dan para tokoh senior semakin sedikit porsinya, seiring meningkatnya porsi peran generasi muda Lampung.  

Itulah corat-coret ide, pemikiran, wacana tentang Kebhinneka Tunggal Ika an yang sempat tercatat dalam artikel Gado-gado Cak Nun ini.  Semoga hajatan semacam ini bisa diselenggarakan secara terus menerus, untuk membuat Lampung, Indonesia lebih sejuk, lebih damai, dengan berpijak pada budaya Indonesia itu sendiri.




Tabik pun !

Salam Hangat,



Thomas Pras









Read more ...

Kotak Sosio-Kultural

Kotak Sosio-Kultural 

 

  ilustrasi kotak sosio kultural.  sumber: di sini

"Makin lama makin cinta pada Muhammadiyah. 
Saya ingin bila kelak saya mati, keranda saya ditutup bendera Muhammadiyah." 

Ini ucapan Bung Karno. Ketika tokoh ini kemudian wafat dalam kesepian di Wisma Yaso, Jakarta, jenazahnya disalatkan oleh almarhum Buya Hamka, tokoh yang pernah disudutkannya secara politis. Buya Hamka bersedia menyembahyangkan Bung Karno karena Menteri Sekretaris Negara Alamsyah, waktu itu, membujuk agar Buya berbesar jiwa. Saya dengar alasan ini dari Buya Hamka sendiri dalam suatu salat Jumat di Mesjid Agung Al-Azhar, Jakarta. Saya tidak tahu pasti, adakah keranda Bung Karno kemudian ditutup bendera Muhammadiyah. Samar-samar saya ingat, ada berita dari seorang warga Muhammadiyah, bahwa wasiat beliau dipenuhi.


Nurcholish Madjid pernah menulis di harian Pelita, komitmen kita sebagai umat Islam ialah komitmen pada nilai, bukan pada golongan. 
Pemikiran ini menarik. Kita tahu, nilai memiliki kepastian relatif. Sedang golongan tidak. Seseorang boleh "berkulit" haji, berbendera Muhammadiyah atau NU memang; tapi jaminan dari orang itu bahwa ia akan senantiasa lurus dan bersikap luhur sebagaimana nilai-nilai yang melekat pada baju yang dipakainya, tidak ada. Bagaimanakah corak pemihakan Bung Karno pada Muhammadiyah? Kita tidak tahu. Bung Karno sendiri tak secara eksplisit menjelaskannya. Sementara itu sumber tertulis tidak ada. Dugaan saya, Bung Karno punya banyak komitmen nilai, sekaligus golongan.

Di tengah kaum Marhaen, ia bilang ia juga Marhaenis. Di tengah orang-orang Komunis dia bilang bahwa dia seorang Marxis. Orang pun tahu, ia juga menyebut dirinya seorang agamawan. Apakah Bung Karno plin-plan? Ia Bapak bangsa. Ia merasa harus berdiri di atas semua golongan. Agaknya ia beranggapan, meskipun tak dikatakannya, keragaman identik dengan perpecahan. Sedang ia gandrung akan persatuan. Kata Bernard Dahm, hanya Bung Karno-lah yang karena ke-Jawa-annya, bisa menggabungkan ketiga hal berbeda satu sama lain itu ke dalam satu sintesa harmonis. Karena bagi orang Jawa, segala sesuatu itu pada dasarnya satu.


Dalam salah satu sajak religiusnya, Farriduddin Attar memandang Dunia, penyair Taufiq Ismail bicara tentang pemikiran Attar. Bagi Attar, katanya, dunia ini nampak sebagai sebuah kotak. Manusia hidup, beranak, bercucu, berkemenakan, bekerja, tidur dan bermimpi, di dalam kotak. Manusia, di dunia ini, kerjanya sibuk membuat kotak-kotak.

Amir Machdum, guru saya, melarang saya masuk partai politik. Alasannya, partai mengurung, membatasi kita. Padahal ia sendiri, dulu, orang PNI. Saya sendiri anak Muhammadiyah karena lahir di lingkungan Muhammadiyah, dan sekolah di sekolah Muhammadiyah. Setelah saya tahu NU, ibadah saya mirip NU tapi "partai" saya tetap Muhammadiyah.

Ketika mahasiswa, kotak yang saya pilih HMI. Tapi ketika Ogi Indra Yoga, golongan independen, mencalonkan diri jadi ketua Senat Mahasiswa FIS UI (nama dulu), saya mendukungnya karena dia populer, rajin bekerja, dan mau berpikir. Masriel Mansyur, lawannya dari HMI, tidak saya dukung. Benar dugaan saya, Masriel kalah.

Toh saya menolak tawaran Ogi, sang pemenang, untuk menjadi salah satu stafnya. Saya memperlihatkan solidaritas terhadap kawan-kawan HMI lain, yang tak satu pun mendapat tawaran Ogi. Dalam hal ini, saya tegas memperlihatkan warna "jaket" HMI. "Lebih baik, kalau tidak mau, bilang saja tidak mau. Jangan banyak alasan," katanya.

Belakangan saya mikir, kita gandrung demokrasi dan sadar akan kebhinekaan etnis, agama, dan corak pemikiran dalam masyarakat kita, tapi mengapa kita tak cukup longgar mendengar argumen lain yang tak sejalan dengan kita? Mengapa kita tak sabar menghadapi kebhinekaan? 

"Kalau mau serba seragam," kata Rendra, "lebih baik jadilah pembuat batu bata."


Keseragaman memang mengesankan berfungsinya mesin rekayasa yang otoriter, kaku, dan dingin, mirip teriak kebulatan tekad yang mekanistis. Saya lebih suka kebhinekaan. Tapi dalam kebhinekaan ada cacat yang tak saya sukai. Di sini orang bisa, dan mungkin mudah, tergelincir ke dalam kotak fanatisme yang selalu siap mengurung kita. Potensi ricuh dalam kotak ini sama besar dengan rasa sumpek di bawah keseragaman yang serba otoriter. Kedua-duanya, dengan kata lain, punya kemungkinan untuk jadi jelek.

Namun, karena lazimnya orang harus memilih, bagi saya, kebhinekaan itu baik, asal kita tidak terkurung. Artinya, di saat diperlukan, kita harus bisa keluar dari kepompong (agama, kelompok, golongan, etnis, partai politik) yang mengurung kita karena, sekali lagi mengutip Nurcholish Madjid, komitmen kita pada nilai, bukan pada golongan.





Sumber:
Mohammad Sobary
Editor, No. 24/Thn. IV/23 Februari 1991
Read more ...

Kesalehan Sosial, Kesalehan Ritual

Ilustrasi Kesalehan Sosial: Anak-anak SD Muhammadiyah membersihkan Sungai, sumber : di sini

Ketika dalam "Robohnya Surau Kami" A.A. Navis memasukkan Haji Saleh (yang yakin bakal masuk sorga itu) ke neraka, sebenarnya ia sedang berbicara tentang suatu corak keagamaan yang tak ia "restui". Navis sedang menggugat kesalehan ritual: jenis kesalehan yang ukurannya ditentukan berdasarkan seberapa taat seseorang menjalankan salat lima waktu, seberapa panjang zikir-zikir sesudah salat, dan seberapa sering salat sunat ia lakukan. Pendek kata, kesalehan itu ditentukan berdasarkan ukuran serba legal formal sebagaimana kata ajaran.

Dan biasanya, untuk ini ada-ada saja orang yang merasa memiliki otoritas buat menilai kredibilitas moral orang lain. Ia menjadi semacam tim pemeriksa dan penilai keimanan orang lain. Islam bukan agama individual. Ajaran yang dibawa Gusti Kanjeng Nabi Muhammad itu, dari "atas" memang dirancang buat rahmat bagi semesta alam. Orang yang paling saleh pun dengan demikian tak punya hak monopoli atas agama itu. Kita tak berhak menentukan tingkat kesalehan tetangga sebelah. Dan tak satu pun di antara kita punya wewenang "mengontrol" ibadah orang lain. Terutama bila hal itu disertai sikap sinis dan cemooh, seperti Haji Saleh dalam Robohnya Surau Kami itu.

Kita tahu Bang Navis orang Minang dan ia sedang bicara tentang situasi kultural Minang. Tapi corak keagamaan itu tak dengan sendirinya cuma milik orang Minang. Di Jawa pun, pada saat yang sama, tiga puluhan tahun yang lalu, ketika perpecahan ideologi kultural kuat mewarnai kehidupan masyarakat, gejala serupa juga menonjol. Terjadinya polarisasi santri-abangan, sebagaimana dirumuskan Clifford Geertz, adalah produk zaman tersebut. Namun juga tak berarti cuma milik zaman itu. Sekarang pun, setelah tiga puluhan tahun yang berlalu, kecenderungan agamis seperti itu toh masih juga terasa.

Maka pada tahun 1980-an, ketika Gus Dur giat menganjurkan agar kita istirahat sebentar dari kesibukan berdebat tentang batalnya wudlu, untuk khusyuk bersama-sama memikirkan bagaimana kemiskinan umat ditangani, ia seperti memberi jawaban atas persoalan yang merunyamkan A.A. Navis tersebut. Dengan kata lain, Gus Dur sedang berbicara tentang kesalehan sosial: suatu bentuk kesalehan yang tak cuma ditandai oleh rukuk dan sujud, melainkan juga oleh cucuran keringat dalam praksis hidup keseharian kita. Orang semacam Gus Dur dan mayoritas umat yang miskin tentu saja juga memerlukan penyelamatan sorgawi seperti Haji Saleh itu.

Bedanya, Haji saleh mengesankan sikap hidup egoistis, ingin mencari selamat sendiri, sedangkan Gus Dur tampak altruis, ingin menikmati penyelamatan sorgawi bersama umat. Kalau boleh, mungkin mau masuk sorga dengan sandal kulitnya itu sekaligus. Kecuali itu, Haji Saleh yakin bahwa sorga bisa digapai dengan kesalehan ritual.
Gus Dur melihat bahwa sorga justru (setelah melihat konteks sosio-ekonomis umat yang compang-camping) harus lebih diraih dengan kesalehan sosial.

Usahanya "menerobos" pintu Bank Summa untuk melakukan kerja sama ekonomi dengan membuka BPR, misalnya, jelas mempertegas wawasan keagamaannya. Dalam kitab suci disebutkan bahwa sorga itu ada tingkatan-tingkatannya.

Tanpa menodai ajaran, saya sering menafsirkan bahwa rasanya, sekarang pun saya sudah menikmati sebagian kenyamanan sorga itu. Maka, tafsiran saya selanjutnya, sorga bagi rakyat kecil, mayoritas umat yang miskin tentu juga sederhana tingkatannya: yakni sekadar buat pemenuhan kebutuhan jasmani (sandang, pangan, papan).
Buat kebutuhan rohani, (membaca salawat buat Kanjeng Nabi, maupun segala puja dan puji kepada Allah) tentu dirasa sebagai kebutuhan luks. Dus, belum merupakan kebutuhan primer.

Tafsiran serupa saya dengar pernah dibuat oleh seorang pastur muda yang arif. Sehabis mengkhotbahi habis-habisan para "domba" yang miskin, ia antar mereka pulang. Di tengah nyala obor, di sepanjang jalan licin dan becek di daerah Malang, terjadilah dialog antara sang pastur dan dan para jemaahnya. Sang pastur kemudian menyimpulkan: saya ini keliru. Kongkret, mereka butuh makan. Tapi saya beri mereka cerita tentang sorga, cinta kasih, dan Tuhan Bapa ... Pemikiran keagamaan seperti ini ternyata juga bukan monopoli kaum terpelajar, seperti Romo Pastur muda tadi.

Di Desa Ciater, Serpong, tempat saya melakukan penelitian tentang hubungan antara agama dan tingkah laku ekonomi, saya temukan seorang haji tua, pedagang kecil, yang beranggapan bahwa kesalehan itu terletak dalam praksis, bukan dalam doa-doa. Ketika saya tanyakan kepadanya, orang yang bagaimana yang disebut sebagai orang saleh, Haji Asnen bin Haji Thalib itu menjawab: "Orang yang menyeimbangkan ushali dan usaha," katanya. Baginya, kedua hal itu harus diseimbangkan.

Namun, jika ia harus memilih, ia akan lebih memilih yang kedua dulu. "Mengapa?" tanya saya. "Karena kalau anak-anak lapar, kita harus memberikan jawab kongkret: kasih makan. Dan makan itu kita peroleh dari usaha." "Doa mah kaga enak dimakan," katanya lagi. Dengan kata lain, haji dari Betawi ini pun sedang bicara bahwa dalam kondisi tertentu, kesalehan sosial terasa agak lebih, dan karena itu perlu didahulukan dari kesalehan ritual. Dengan begini, gugatan Navis kini terasa berdengung kembali dan memperoleh lagi relevansinya.

Bukan haji kalau ia tak bisa memperkuat argumentasinya dengan contoh kuat. Maka, Haji Asnen pun mengutip sebuah Hadis. Katanya, seorang sahabat pernah memuji kesalehan orang lain di depan Kanjeng Nabi. "Mengapa ia kau sebut sangat saleh?" tanya Gusti Kanjeng Nabi Muhammad SAW. "Soalnya, tiap saya masuk masjid ini dia sudah salat dengan khusyuk dan tiap saya sudah pulang, dia masih saja khusyuk berdoa."

"Lho, lalu siapa yang memberinya makan dan minum?" tanya Kanjeng Nabi lagi. "Kakaknya," sahut sahabat tersebut. "Kakaknya itulah yang layak disebut saleh," sahut Kanjeng Nabi lebih lanjut. Sahabat itu diam. Sebuah pengertian baru terbentuk dalam benaknya. Ukuran kesalehan, dengan begitu, menjadi lebih jelas diletakkan pada tindakan nyata. Kesalehan, jadinya, lalu dilihat dampak kongkretnya dalam kehidupan sosial. Tentu saja, hanya kesalehan sosial yang bisa diukur dengan cara seperti itu.


 Dalam agama, sebenarnya kedua corak kesalehan itu merupakan wajah sebuah kemestian yang tak usah ditawar. Secara normatif, keduanya haruslah merupakan bagian hidup tiap-tiap hamba. Kita, pendeknya, selalu diminta tampil ideal. Artinya, secara ritual kita saleh, secara sosial pun kita mestinya saleh juga. Maka, betapa pun pahitnya harus diakui bahwa memang, silang selisih antara mereka yang lebih menggarisbawahi kesalehan ritual dengan mereka yang lebih memilih kesalehan sosial masih bisa terjadi terus-menerus. Ini tak menjadi soal. Sebab, bukankah silang selisih itu sendiri merupakan sebuah dialog untuk mencapai takaran ideal itu juga?




Sumber: 
Mohammad Sobary
Jawa Pos, Minggu Legi, 29 Desember 1991
Read more ...