Tampilkan postingan dengan label Kang Sobary. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kang Sobary. Tampilkan semua postingan

Bunglon


BUNGLON



Lukisan di tubuh manusia membentuk gambar Bunglon, sumber: di sini

BUNGLON DAN KESELAMATAN


Adakah hal yang begitu penting dalam hidup kita, melebihi keselamatan?
Agama mengajarkan perilaku agar manusia memperoleh keselamatan. Islam memiliki doktrin selamat dunia dan akhirat. Kristen menekankan salvation (penyelamatan jiwa). Ketika saya mau hijrah ke Jakarta dua puluhan tahun lalu, nenek, kakek, ayah, paman, pakde, dan tetangga-tetangga memberi saya sangu (bekal) slamet (selamat). "Tak sangoni slamet" (aku bekali kau selamat), kata mereka. Tiap kali saya pulang ke kampung, yang pertama-tama mereka tanyakan ialah apakah saya dalam keadaan "selamat".

Pak Arno, salah seorang guru SMA saya, memberi saya petuah tentang empat "S" (sluman, slumun, sarwo, slamet). Intinya, bergaul di mana saja, dalam kelompok apa saja, orang harus berperilaku begitu rupa agar jangan lupa memperhitungkan upaya mencari selamat. Pinter itu perlu, tapi pinter yang membawa selamat. Kaya juga baik, asal kekayaan itu juga membikin kita selamat. Miskin pun tak dicela, karena bukankah yang penting selamat? Kalau jasad dan jiwa selamat, harta bisa dicari. Ditambah moralitas Jawa bahwa hidup di dunia cuma sesaat, ibarat cuma orang mampir ngombe (singgah buat minum di kedai), sikap toleran terhadap kemiskinan dan mengutamakan keselamatan di dunia yang kelak akan tiba, menjadi lebih jelas lagi. Selamat terletak di atas segalanya!

Di depan gedung LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) itu ada jalan memotong ke arah kompleks perumahan menteri. Di jalan itu mangkal sejumlah kecil ojek. Satu di antara tukang ojek itu seorang kakek dari Blitar, Jawa Timur. Saya sering menggunakan ojek kakek itu. Vespa tua itu tersuruk-suruk di jalan-jalan Jakarta, mengantar penumpang dengan mengutamakan keselamatan. "Biar pelan asal jalan, lambat tapi selamat," kata kakek itu. Ketika baru kenal tiap kali mau berangkat dengan vespa itu saya selalu ditanya, apakah saya terburu-buru. Sebagai sesama Jawa, saya paham ke mana arah pertanyaannya. Maka, biarpun saya harus mengejar waktu, saya selalu menjawab bahwa waktu saya cukup longgar.

"Soalnya, Pak," kata kakek itu, "bagi saya yang penting itu selamat. Kalau penumpang terburu-buru pun akan saya minta kerelaannya untuk saya antar secara pelan asal jalan," katanya. Ketika sebuah Kopaja berhenti mendadak, dan kakek itu terpaksa menginjak rem secara mendadak juga, sehingga ujung ban depan vespanya hampir menempel bagian belakang Kopaja yang sembarangan itu, si kakek bukannya hanya tidak marah, melainkan malah merasa beruntung. "Untung tidak nabrak," katanya kalem. Ketika bus kota memepetnya di trotoar, dia cuma menggerutu: piye bus iki karepe ("apa maunya bus itu"). Rem diinjak dengan kalem. Dan kami berhenti. Tak ada makian apa-apa. Yang ada malah sikap syukur, karena bagaimanapun semuanya selamat. Kalau prinsip mengutamakan selamat di jalan raya itu terdengar oleh Polantas, kakek kita dari Blitar itu pasti mendapat hadiah istimewa. Sekurang-kurangnya ucapan terima kasih.


PRINSIP ASAL SELAMAT KAKEK & CUCU BUNGLON


Bagaimana upaya memanjat
Supaya selalu selamat 
Bagaimana cara jatuh 
Supaya tidak mengaduh 
Kakekku yang amat cermat 
Turunkan ilmu secara cepat
(Taufiq Ismail)


Prinsip "asal selamat" itu tak cuma berlaku di jalan raya. Dalam tiap langkahnya kakek itu menomorsatukan keselamatan. Ia memang bukan sembarang tukang ojek.Ia dulu pernah bekerja di kantor. Memang benar, ia hanya pegawai rendahan. Tapi pernah ia menolak perintah atasan untuk menandatangani kuitansi fiktif. Semua pegawai sudah bertandatangan, dan mereka kebagian rejeki. Cuma si kakek dari Blitar yang tak mau. "Saya butuh uang seperti mereka juga. Tapi saya tak setuju caranya," katanya. "Cara itu tidak membawa selamat," tambahnya. "Lho, bukannya atasan yang menyuruh? Bukankah atasan menanggung semuanya?" kata saya. "Betul. Tapi atasan saya itu punya atasan. Dan atasannya atasan saya juga punya atasan lagi. Raja yang paling kuasa pun punya atasan. Kepada atasan yang paling atas itu saya takut ...," katanya.

Kakek kita dari Blitar ini mengingatkan saya pada sajak Kisah Kakek dan Cucu Keluarga Chameleon yang ditulis oleh penyair top kita, Taufiq Ismail. Chameleon alias bunglon memiliki kemampuan untuk secara alamiah menyelamatkan diri dengan cara mengubah warna kulit sesuai keadaan sekitar. Dalam sajak itu, kakek bunglon menceritakan pengalamannya bahwa ia pernah ditangkap manusia. Dokter hewan yang bisa bicara bahasa bunglon telah memindahkan bintil-bintil di bawah kulit dan getah di ujung lidah si kakek, ke tubuh manusia "Dalam waktu dua musim hujan saja, sesudah bintil-bintil itu masuk ke kulit manusia, manusia di dunia ini sudah lebih sempurna cara berganti warna mereka. Dan lidah mereka, semakin bergetah keadaannya," tulis Taufiq Ismail lagi.

Teman-teman kakek dari Blitar itu mungkin juga sudah menjadi bunglon. Mereka menyesuaikan warna "tubuh" mereka dengan warna "tubuh" sang atasan. Itulah "ilmu selamat" dalam pengertian mereka. Sebab, kalau mereka menolak, atasannya akan menganggap mereka klilip (penghalang) dan harus disingkirkan. Nasib mereka kemudian akan sama dengan nasib kakek dari Blitar: terpental. Di sini kita berhadapan dengan dua fenomena: kakek dari Blitar dan kawan-kawannya. Sering kita harus memilih satu di antara keduanya. Ini pilihan susah. Dua-duanya punya justifikasi sebagai "ilmu selamat".


Barangkali, umumnya kita adalah potret dari kawan-kawan kakek kita dari Blitar karena dua alasan. Pertama, kita umumnya lebih mengutamakan upaya penyelamatan jasad ketimbang roh. Kedua, kita diam-diam telah menukar kulit kemanusiaan kita dengan kulit bunglon. Kita semua, pendeknya, mungkin sudah jadi bunglon.




Sumber:
Mohammad Sobary
Kompas, 21 November 1991
Read more ...

Wolo-wolo Kuwato

WOLO WOLO KUWATO


 Ilustrasi Wolo-wolo Kuwato, Parmin Tukang Becak menunggu Penumpang.  Sumber: di sini


WOLO WOLO KUWATO DOA TAK BISA DIMAKAN


Dalam sebuah bacaan pesantren disebutkan kisah seorang ahli ibadah. Siang malam kerjanya berdoa melulu hingga istrinya marah karena tak ada lagi yang bisa dimakan. "Barang apa yang hidup merayap perlu makan. Carilah pekerjaan, Bang, karena sudah terbukti doa tak bisa dimakan," gerutu istrinya.

Tak enak didengar tetangga, ia berjanji mau bekerja. Ini hanya dalih semata. Sebab, sebenarnya, ia pergi ke gua agar bisa berdoa lebih khusyuk tanpa dicereweti sang istri. Pagi hari berangkat, sorenya baru pulang. Kepada istri ia berbohong bahwa majikannya akan membayar jerih payahnya sekaligus kelak, setelah beberapa lama bekerja. Suatu sore istrinya memasak aneka makanan. Ia heran, dari mana semua itu diperoleh? Tapi, belum sempat ditanya, si istri menjelaskan bahwa utusan majikan suaminya tadi datang mengantar bahan pangan dan sejumlah uang. "Baru aku berdoa sebentar, sudah Kaukirim bayaran begitu banyaknya," gumam orang itu.

Makin yakin ia pada kemurahan Tuhan, makin edan ia berdoa di gua.  Tentu saja, bukan apa yang dikatakan yang penting dalam kisah ini, melainkan arti simbolis yang dikandungnya. Selebihnya kita bebas menolak atau menerimanya.


WOLO WOLO KUWATO WERUH SAK DURUNGE WINARAH



Parmin, seorang tukang becak, dia memang gila porkas. Banyak dukun sudah ia datangi. Tiap orang gila dan kere yang seperti gila di Yogya ia kuntit: siapa tahu dalam omelannya terdapat petunjuk nomor. Sering ia tidur di kuburan mencari impen (impian). Jerih payahnya menarik becak pun ludes di meja Sitompul, agen porkas. Buat Parmin, hidup berarti porkas. Senik, istrinya, minta dipulangkan ke rumah orangtuanya karena tak tahan lagi hidup dalam alam porkas yang panas. Dan Gafur, anak tertuanya, berhenti sekolah karena tak ada biaya. Pendeknya, keluarga Parmin berantakan. Mertua ikut bingung.

Orangtua Parmin sendiri kehabisan nasihat. "Arep dadi opo to kowe, Min, Min ...," (mau jadi apa kamu), kata orangtuanya. Lama-lama Parmin mikir. Iya, ya. Mau jadi apa? Memang bukan tugas sosiolog atau psikolog untuk mengentaskan Parmin dari Porkas. Ini lebih merupakan urusan rohaniwan macam Pak Kiai atau Romo Mangun.

Yang jelas, bosan ke dukun, Parmin pergi ke kiai di Wonokromo, dekat dari rumahnya.
"Ada apa?" tanya Pak Kiai yang sudah tua itu.
"Saya mohon petunjuk, Pak Kiai."
"Saya cuma kiai. Tidak bisa memberimu nomor kode," kata Pak Kiai.
Parmin pun terkesiap heran, bagaimana Pak Kiai tahu bahwa ia pecandu porkas. ???
"Bukan, Pak Kiai. Saya mau tobat," kata Parmin.
Setelah pasrah bongkokan, artinya diapakan saja oleh Pak Kiai monggo mawon, jiwa Parmin "dicuci". Diajari pula salat dan berdoa. Tapi susah. Lidah Parmin tidak cocok untuk menyebut kata-kata Arab. "La Khaula wala kuata illa ...," kata Pak Kiai pelan. "La wala wala ...," Parmin tergagap-gagap.

Pak Kiai mau ketawa. Berkali-kali dicoba, hasilnya tetap la wala wala. Pusing juga ahli rohani itu. "Kalau nyebut porkas lancar, ya Min?" Parmin mesem. Akhirnya, jalan keluar ditemukan. Doa dipermudah. Yang penting intinya: wolo-wolo kuwato. Pas betul. "Tapi bukan cuma itu, Min. Mesti ditambah Duh, Gusti. Jadi, "Duh, Gusti, wolo-wolo kuwato. Artinya, kamu sambat, mengeluh, mengadu, pada Tuhan sambil terus giat narik becak." Tiap malam Jumat Parmin "digarap" Pak Kiai. Pesan beliau: "Kalau ada kegaiban, jangan heran. Gusti memang Mahagaib. Pokoknya, syukuri, dan perbanyak doa, giat usaha. Itulah laku utama," bisik Pak Kiai.

Kegaiban itu datang. Hampir tiap pagi, istrinya menemukan selembar uang lima ribuan di bawah pintu. Parmin lapor pada Pak Kiai. Jawab beliau, "Syukuri dan perbanyak doa." Dulu, Parmin dirongrong nafsu "ingin punya". Kini, di bawah asuhan Pak Kiai, seluruh jiwanya diliputi rasa pasrah. Ia ayem. Semeleh atau tawakal, memberinya ketenangan. "Hamba tak berdaya, kecuali atas pertolongan-Nya". Mudahnya: "Duh, Gusti, wolo-wolo kuwato". Di shopping centre, ia pernah berkali-kali, sejak pagi sampai jam lima sore, belum dapat penumpang. Ia panik. Apalagi belum sesuap pun nasi masuk perutnya. "Duh, Gusti wolo-wolo kuwato," keluhnya. Menjelang jam enam, seorang penumpang datang. Tanpa menawar ia langsung nomplok di becak itu. Begitu turun ia menyelipkan tiga lembar lima ribuan di saku Parmin. Ini pun dilaporkannya pada Pak Kiai. Hanya satu hal tak dilaporkannya. Ia ingin bikin kejutan.

Tapi belum sempat kejutan dibikin, ia terkejut. Pak Kiai wafat. Parmin merasa shock kehilangan godfather. "Min, sesaat sebelum pergi, Pak Kiai mengucapkan syukur bahwa kau sudah mengkredit becak," kata putra Pak Kiai.
Parmin kaget. Lo? Beliau sudah tahu? Memang, sejak sering ditemukannya "uang gaib" di rumah, ia menabung. Kepada istrinya ia berpesan untuk tak mengutik-utik uang di bawah bantal itu. Soal makan seadanya, ditanggulangi dari narik becak harian. Tabungannya itu digunakannya untuk mengangsur becak Bah Gendut. Begitu becak lunas, ia ingin "matur" Pak Kiai. Namun, beliau, ternyata, tak memerlukan laporan. Pak Kiai sudah tahu sak durunge winarah (tahu rahasia di balik tabir) "Yah, namanya juga wong suci," pikir Parmin.

Sekarang, setelah kepergian Pak Kiai, uang "gaib" tak lagi ditemukan di bawah pintu. Dalam hati Parmin bertanya-tanya. Namun, ia sadar, kegaiban toh tak bisa terjadi terus-menerus. Kegaiban hidup memang ada. Tapi hidup tak bisa semata disandarkan pada kegaiban itu. La khaula dan mengayuh becak barunya itulah kunci hidup yang sekarang dipegangnya.





Sumber:
Mohammad Sobary
Tempo 2 Februari 1991
Read more ...

Gengsi

Gengsi

Sumber: di sini


Meskipun gengsi itu tidak enak dimakan, sering dalam hidup ini kita mati-matian memburunya. Demi gengsi orang bersedia melakukan apa saja, berapa pun besar ongkos dan risikonya. Banyak tindakan melawan hukum, tata susila dan moral, dilakukan demi mengejar gengsi. Lain orang lain pula simbol-simbol yang dipandang bergengsi.

Unsur etnis, kesukuan, agama, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, jenis kelamin dan tingkat usia seseorang, sering mewarnai perbedaan-perbedaan tadi. Unsur lokal (di daerah mana atau kompleks apa) seseorang tinggal, juga mempengaruhi corak perbedaan gengsi tadi. Di kompleks perumahan sederhana, orang masih bisa bangga betapa ia baru pulang dari Blok M membeli mesin cuci atau video. Pekerjaan "mulia" itu biasanya diemban oleh, maaf agak terus terang, kaum ibu.

Di kalangan sarjana, lain lagi ulah orang untuk menunjukkan gengsi ini. Pernah seorang doktor dari Indonesia memberi ceramah di Universitas Monash, Australia, di depan mahasiswa Indonesia. Dalam sepuluh dari tiga puluh menit ceramahnya ia sibuk bicara tentang dirinya, termasuk bahwa ia murid Ivan Illich dan Rostow yang beken itu. Arti simbolik dari "pidato"-nya itu pun merupakan usaha menunjukkan gengsi untuk menimbulkan efek "wah". Memang banyak orang terkesima mendengar murid Rostow itu bicara. Namun ada juga yang tampak gelisah. Saya malah mengantuk. Ketika ceramah selesai, orang pun menggerutu. Katanya, ceramahnya tidak bermutu. Saya tidak setuju. Mana bisa doktor tidak bermutu? "Kamu tidur kok bisa tidak setuju," gerutu salah seorang. Maksud saya, mutu sudah terang ada, cuma tak setinggi langit harapan kita. Memang salah para pendengar. Mereka terlalu banyak berharap. Orang sering keliru, dikiranya kualitas luar negeri (dan murid sarjana kenamaan) mesti hebat.

Sebenarnya, kita musti sepaham dulu dalam dua hal: bahwa kebesaran guru belum tentu merembes ke murid, dan bahwa doktor haruslah pertama-tama dilihat, apa boleh buat, cuma sebagai lambang selesainya sebuah proses administratif. Artinya, tak usah dulu bicara tentang kemampuan akademisnya. Namun, apa yang terjadi di sekitar kita memang lain. Kita terlanjur menilai, doktor itu sebuah gengsi akademis yang tinggi. Sikap seorang doktor dengan orang awam pun jadinya ada keserupaan. Mereka, pada dasarnya, kelewat bangga terhadap gengsi. Kenyataan tidak seimbangnya gelar dengan kemampuan akademis, atau, tak seimbangnya gengsi dengan esensinya sebagai seorang doktor, merupakan soal lain. Kita lihat saja, misalnya, betapa gigih mahasiswa sekadar mengejar lulus demi gelar. Jadi demi gengsi. Dan bukan memburu esensi.

Sudah barang tentu sikap mereka salah. Tapi kurang adil kita menimpakan kesalahan hanya pada para pemburu gengsi itu. Soalnya, mungkin kita semua punya kontribusi terhadap terbentuknya sikap dan orientasi hidup seperti itu. Mungkin kita semua sudah gila gengsi. Membanggakan mantan guru, almamater, jabatan, orang tua, atau gelar akademis, diam-diam lalu menjadi lumrah. Tidak punya kemandirian dianggap biasa. Jarang jadinya orang yang berani bersikap lugas, apa adanya. Kalau toh ada juga, itu sebuah kekecualian. 



Beberapa bulan lalu, saya berkenalan dengan seorang yang rambutnya mulai memutih. Saya sulit menduga sebagai apa dia. Dia hanya mengaku bekerja di sebuah departemen, yang saya tahu pusat penelitiannya baik. Tapi ketika saya tanya apakah dia peneliti, dengan datar dia menjawab: "Saya cuma birokrat." Tak ada kesan apa-apa di wajahnya. Di masyarakat kita, birokrat sering dipandang remeh. Setidak-tidaknya gelar birokrat tampak tak seluhur cendekiawan, dramawan, penyair atau ahli ini ahli itu. Citra birokrat terlanjur negatif. Pengakuan "saya cuma birokrat" itu lalu terasa mengesankan kegetiran. Tapi mungkin juga keberanian. Penasaran saya jadinya. Dari orang lain akhirnya saya tahu, dia bukan sembarang orang. Dia seorang Dirjen. Kabarnya, Menteri pernah menawarinya rumah di Menteng. Tapi dia menolak. Lebih suka dia tinggal di rumah sederhana yang dibelinya sendiri.

Sebagai birokrat, rumus kerjanya cuma dua: "Bikin tiap orang yang keluar dari kamarmu tersenyum bahagia. Jadikan jabatanmu sarana ngibadah (beribadah)". Saya kagum. Saleh orang ini. Tak banyak di negeri kita orang yang bicara tentang jabatan sebagai sarana ngibadah. Umumnya, jabatan dijadikan wahana mewujudkan impian-impian dan sarana menjunjung tinggi (secara sosial, ekonomi, dan politis) gengsi keluarga, anak cucu dan para cicit.




Sumber:
Mohammad Sobary
Suara Pembaruan, 18 Januari 1992
Read more ...

Terserah Tuhan

TERSERAH TUHAN

Ilustrasi Terserah Tuhan. Sumber: di sini


Hidup di zaman kebangkitan Islam (kalau benar konsep ini menggambarkan realitas sosial sekarang) memiliki persoalan tersendiri. Ke dalam lingkungan mana pun saya masuk, di sana saya jumpai orang yang semangat Islamnya menggelora.

Ketika di Universitas Muhammadiyah Jakarta saya diminta bicara di depan segenggam mahasiswa "penjaga mesjid", saya diingatkan agar lebih menguasai Islam secara tekstual. Karena, pendekatan saya, kata salah seorang dari mereka, bersifat "ilmu sosial" biasa. Bagi banyak pihak, yang bersifat formalis macam ini, sesuatu termasuk "agama" hanya bila ia diwarnai Quran dan Hadis. Dari tahun ke tahun, ada saja mahasiswa Indonesia, di Universitas Monash, yang bersemangat memburu daging halal. Dasarnya, daging di supermarket haram karena disembelih tidak dengan cara Islam. Penjelasan --bahwa makanan para ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) halal bagi Muslim-- tidak pernah laku.

Akhir-akhir ini, saya memberi ceramah. Tanpa menyebut sepotong pun ayat, saya bicara agama. Buat saya, agama terpancar dalam hidup, bukan dalam kitab. Saya tidak kitab minded, karena, agama lebih menuntut tindakan, bukan kecanggihan ilmu, dari pemeluknya. Kita bisa jadi pemeluk yang baik tanpa harus menjadi ahli. Persoalan muncul. Saya diultimatum oleh wanita berjilbab: "Lain kali, hati-hati. Kalau ceramah begitu di Indonesia bisa pulang tinggal nama."

Betapa mengerikannya. Memang, hanya orang yang paham yang tahu bahwa saya pun sebenarnya berpijak pada ayat Tuhan, yakni ayat kauniah yang tak disebutkan dalam kitab suci. Mas Djohan (Djohan Effendi) pernah bicara tentang guru yang membikin murid bertanya-tanya.

Saat pelajaran agama, anak-anak diajak membersihkan halaman, kamar mandi dan WC.

"Pak, katanya, pelajaran agama?" tanya seorang murid.
"Ya, ini juga pelajaran agama," kata Pak Guru, tenang.  
"Dasar teorinya: 'kebersihan adalah sebagian dari iman'.  
Nah, dengan tindakan tadi, kita buktikan, kita pun beriman.."
Anak-anak mesem.
Agama, dengan begitu, masih tetap agama biarpun tak diwarnai bunyi ayat-ayat dalam kitab suci.


Hardi itu lulusan PGA. Ia setengah kiai. Paham Quran dan Hadis. Bahkan, juga kitab kuning. Tapi, ia gelisah. Ada yang tak beres dalam hidupnya. Ia pun datang pada Pak Kiai, mohon petunjuk.
"Kamu tidak butuh kiai macam saya," kata Pak Kiai.
"Pergilah kamu pada Kamin."

Hardi kaget. Orang tahu, Kamin itu cuma tukang bakso. Tahu apa tukang bakso, yang tak pernah sekolah, tentang rahasia hidup? "Kiai gendeng," pikirnya.
"Tidak, saya serius, Nak," kata Pak Kiai.

Hardi sungkem. Seperti sujud, ia mencium dengkul Pak Kiai, sambil minta maaf atas 'gendeng'-nya tadi. Tapi, mengapa Kamin? Ia masih penasaran. Tentu saja, Pak Kiai bermaksud baik. Bukankah, kadang, kiai tak mau bicara langsung?

Dengan rumusan itu di kepala, ia pergi ke rumah Kamin.
Tak ada yang istimewa di sana, selain bahwa Kamin sekeluarga bekerja keras. Anak-anaknya dikerahkan untuk membantu mencuci gelas. Yang lain mengerok kelapa muda untuk campuran es. Yu Ginah, istrinya, menggoreng krupuk.

Setelah periksa sana periksa sini, Kamin ke warung kecil di depan rumahnya itu, melayani pembeli. Warung itu maju. Bakso, krupuk udang, dan es kelapa, jadi pasangan serasi. Pembeli berjejal. Anak-anak Kamin, empat orang, semua sekolah. Biayanya, ya, dari warung kecil itu. Biaya sekolah dari situ. Biaya hidup dari situ. Mereka hidup tentram.

Hardi mulai tertarik. Ia mencoba mengamati lebih dekat, lebih dalam. Setelah salat bersama pada suatu hari, mereka dialog.  Tapi, Kamin itu pendiam. Ia bicara sedikit.

"Apa doa kang Kamin sehabis salat?" tanya Hardi.
"Saya serahkan hidup ini pada Tuhan," jawabnya, polos.

"Warung Anda maju. Apa rahasianya?"
"Tidak ada. Semua terserah Tuhan."

"Anak-anak Anda sekolah. Apa rencana Anda untuk mereka?"
"Semua saya serahkan Tuhan."

"Maksudnya?"
"Saya orang bodoh, tidak tahu apa mereka bisa jadi pegawai, buruh, atau tukang bakso juga. Saya percaya, Tuhan mahapengatur. Jadi, semua terserah Tuhan."

Hardi pernah mendengar, orang barat yang mengagumi Soedjatmoko, menganggap bahwa almarhum adalah jenis orang yang belum dirusak oleh sistem pendidikan tinggi. Ia masih murni.

Kamin, si tukang bakso ini, iman dan takwanya juga murni, dan total.
Hardi sujud. Bijaksana Pak Kiai mengirim dia ke Kamin.  
Ketulusan macam Kamin itu, memang, yang belum dimilikinya selama ini.




Sumber: 
Mohammad Sobary
Editor, No.32/Thn.IV/27 April 1991
Read more ...

Doa Kang Suto

DOA KANG SUTO

Ilustrasi Doa Kang Suto.  Sumber: di sini


SEBELUM KANG SUTO MUNCUL


Pernah saya tinggal di Perumnas Klender. Rumah itu dekat mesjid yang sibuk. Siang malam orang pada ngaji. Saya tak selalu bisa ikut. Saya sibuk ngaji yang lain. Lingkungan sesak itu saya amati. Tak cuma di mesjid. Di rumah-rumah pun setiap habis magrib saya temui kelompok orang belajar membaca Al Quran. Anak-anak, ibu-ibu dan bapak-bapak, di tiap gang giat mengaji. Ustad pun diundang.

Di jalan Malaka bahkan ada kelompok serius bicara sufisme. Mereka cabang sebuah tarekat yang inti ajarannya berserah pada Tuhan. Mereka banyak zikir. Solidaritas mereka kuat. Semangat agamis, pendeknya, menyebar di mana-mana. Dua puluh tahun lebih di Jakarta, tak saya temukan corak hidup macam itu sebelumnya. Saya bertanya: gejala apa ini?

Saya tidak heran Rendra dibayar dua belas juta untuk membaca sajak di Senayan. Tapi, melihat Ustad Zainuddin tiba-tiba jadi superstar pengajian (ceramahnya melibatkan panitia, stadion, puluhan ribu jemaah dan honor besar), sekali lagi saya dibuat bertanya: jawaban sosiologis apa yang harus diberikan buat menjelaskan gairah Islam, termasuk di kampus-kampus sekular kita? Benarkah ini wujud santrinisasi?

Di Klender yang banyak mesjid itu saya mencoba menghayati keadaan. Sering ustad menasihati, "Hiasi dengan bacaan Quran, biar rumahmu teduh." Para "Unyil" ke mesjid, berpici dan ngaji. Pendeknya, orang seperti kemarok terhadap agama.


MUNCULNYA KANG SUTO


Dalam suasana ketika tiap orang yakin tentang Tuhan, muncul Kang Suto, sopir bajaj, dengan jiwa gelisah. Sudah lama ia ingin salat. Tapi salat ada bacaan dan doanya. Dan dia tidak tahu. Dia pun menemui pak ustad untuk minta bimbingan, setapak demi setapak.

Ustad Betawi itu memuji Kang Suto sebagai teladan. Karena, biarpun sudah tua, ia masih bersemangat belajar. Katanya, "Menuntut ilmu wajib hukumnya, karena amal tanpa ilmu tak diterima. Repotnya, malaikat yang mencatat amal kita cuma tahu bahasa Arab. Jadi wajib kita paham Quran agar amal kita tak sia-sia." Setelah pendahuluan yang bertele-tele, ngaji pun dimulai. Alip, ba, ta, dan seterusnya. Tapi di tingkat awal ini Kang Suto sudah keringat dingin. Digebuk pun tak bakal ia bisa menirukan pak ustad.

Di Sruweng, kampungnya, 'ain itu tidak ada. Adanya cuma ngain. Pokoknya, kurang lebih, ngain. "Ain, Pak Suto," kata Ustad Bentong bin H. Sabit. "Ngain," kata Kang Suto. "Ya kaga bisa nyang begini mah," pikir ustad. Itulah hari pertama dan terakhir pertemuan mereka yang runyem itu. Tapi Kang Suto tak putus asa. Dia cari guru ngaji lain. Nah, ketemu anak PGA. Langsung Kang Suto diajarinya baca Al-Fatihah. "Al-kham-du ...," tuntun guru barunya. "Al-kam-ndu ...," Kang Suto menirukan. Gurunya bilang, "Salah." "Alkhamdulillah ...," panjang sekalian, pikir gurunya itu. "Lha kam ndu lilah ...," Guru itu menarik napas. Dia merasa wajib meluruskan. Dia bilang, bahasa Arab tidak sembarangan. Salah bunyi lain arti. Bisa-bisa kita dosa karena mengubah arti Quran.

Kang Suto takut. "Mau belajar malah cari dosa," gerutunya. Ia tahu, saya tak paham soal kitab. Tapi ia datang ke rumah, minta pandangan keagamaan saya. "Begini Kang," akhirnya saya menjawab. "Kalau ada ustad yang bisa menerima ngain, teruskan ngaji. Kalau tidak, apa boleh buat. Salat saja sebisanya. Soal diterima tidaknya, urusan Tuhan. Lagi pula bukan bunyi yang penting. Kalau Tuhan mengutamakan ain, menolak ngain, orang Sruweng masuk neraka semua, dan surga isinya cuma Arab melulu." Kang Suto mengangguk-angguk.

Saya ceritakan kisah ketika Nabi Musa marah pada orang yang tak fasih berdoa. Beliau langsung ditegur Tuhan. "Biarkan, Musa. Yang penting ketulusan hati, bukan kefasihan lidahnya." "Sira guru nyong," (kau guruku) katanya, gembira. Sering kami lalu bicara agama dengan sudut pandang Jawa. Kami menggunakan sikap semeleh, berserah, pada Dia yang Mahawelas dan Asih. Dan saya pun tak berkeberatan ia zikir, "Arokmanirokim," (Yang Pemurah, Pengasih).


KALA KANG SUTO BERDOA


Suatu malam, ketika Klender sudah lelap dalam tidurnya, kami salat di teras mesjid yang sudah tutup, gelap dan sunyi. Ia membisikkan kegelisahannya pada Tuhan. "Ya Tuhan, adakah gunanya doa hamba yang tak fasih ini. Salahkah hamba, duh Gusti, yang hati-Nya luas tanpa batas ..." Air matanya lalu bercucuran. Tiba-tiba dalam penglihatannya, mesjid gelap itu seperti mandi cahaya. Terang-benderang. Dan kang Suto tak mau pulang. Ia sujud, sampai pagi ...




Sumber : 
Mohammad Sobary
Editor, No.21/Thn.IV/2 Februari 1991
Read more ...

Ayah dan Pici

AYAH DAN PICI


Ilustrasi Ayah dan Pici : Jawaharlal Nehru memakai Pici.  Sumber: di sini

AYAH


Manusia bukan gunung.  Ini pepatah Rusia yang saya dengar dalam film The Gulag Archipelago.  Artinya, manusia bisa berubah. Begitu juga Ayah.
Saya hidup dalam dunia kecil yang ruwet. Desa saya desa Muhammadiyah. Pengajian saya pun, di sore hari, Muhammadiyah; maka, jadilah saya anak Muhammadiyah. Ayah lain lagi. Ia sudah ada sebelum datang ke desa kami unsur pembaru itu.

Ia abangan. Apa boleh buat.
Abangan? Ia memang tak mendefinisikan diri begitu. Maka, baiknya diperjelas: ia tak salat lima waktu. Tapi ia pernah bertapa, seperti dilakukan Gusti Kanjeng Nabi Muhammad sebelum masa kenabiannya. Ayah juga mengajar saya berhenti makan sebelum terlalu kenyang seperti teladan Kanjeng Rasul. Dan ia pun doyan tirakat, seperti riadloh teman-teman NU di pesantren: makan cuma umbi-umbian, cegah daging, cegah garam. Dan melek malam. Wisdom-nya: jangan sebut keburukan orang. Lupakan kebaikanmu sendiri. Baginya, agama itu hidup. Kalau kita sudah mengerti makna hidup, baru kita paham apa itu agama. 

Ketika saya masih sembilan tahunan ia pernah menegur, "Untuk apa kamu jengkang-jengking (salat)? Tahu apa kamu?" Saya sedih. Di luar rumah, tahun 1960-an itu, teman-teman yang lebih dewasa bicara ideologi. Juga soal jihad, perang sabil, dan keluhuran agama. Tapi tiap lagu Genjer-Genjer dinyanyikan sebelum dan sesudah pertunjukan ketoprak, terasa di sana bagaimana pihak "musuh" meremehkan agama. Ada bahkan ketoprak dengan lakon: Patine Gusti Allah (Kematian Tuhan).

Di tengah kemiskinan yang mencekam, bicara tentang ideologi dan tentang kawan dan lawan memang terasa seperti jalan keluar yang baik. Ideologi membuat lupa bahwa sebetulnya kita lapar, dan bahwa kita tak mampu beli beras. Beras ibarat semahal emas. Kami makan bubur. Mungkin lebih tepat minum, sebab terlalu encer. Itu pun kadang kurang. Sering Ayah menahan diri dan tak makan. Hampir tiap malam Ibu tidur di lantai, di depan pintu, tanda prihatin. Menjelang tidur, Simbah selalu bicara tentang zaman normal, zaman lampau yang lebih baik, ketika Ayah masih anak-anak. Simbah, Ayah, dan Ibu percaya zaman susah itu akan berakhir segera setelah datang Ratu Adil suatu hari nanti. Saya tidak tahu Ratu Adil. Yang saya ketahui ialah bahwa saya takut. Sikap mereka, bicara setengah berbisik, bercerita setengah berharap, buat saya terasa seolah isyarat akan datangnya sesuatu yang lebih gawat.

Goro-goro, menurut orang Jawa, pertanda akan datangnya perubahan alam serta zaman. Dalam dunia wayang, setelah goro-goro di tengah malam itu, keluar Petruk, Semar, Gareng, Bagong: simbolisasi rakyat. Mereka mengawal, dan juga gigih membantu, satria utama menegakkan kebenaran. Gerakan 30 September PKI yang bikin bumi kita gonjang-ganjing, barangkali juga goro-goro itu. Pemerintahan diganti sesudahnya. Tatanan politik diubah. Pancasila dan UUD 45 dikedepankan. Partai politik dibuat sederhana. Dan kehidupan agama lebih semarak. Terbukti, ketakwaan kepada Tuhan jadi salah satu syarat pengangkatan seorang menteri.

Rapat-rapat raksasa dan ganyang ini ganyang itu harus juga menjadi jiwa dan semangat rakyat di zaman Orla dulu, tetapi deru "mesin" pembangunan Orba menggantikannya. Kurang lebih jargonnya berbunyi: partai/ideologi politik mengakibatkan perpecahan, pembangunan menghasilkan beras. Kongkret sekali. Keadilan sosial belum tercapai tak menjadi soal karena pembangunan belum selesai. Maka, rakyat harus membantu para "satria" mendorong roda pembangunan. Tiap suasana kritis, rakyat diminta mengetatkan sabuk. Ini demi pembangunan. Betul jihad itu bukan melulu berarti kibasan pedang dalam luapan rasa marah. Tapi kata itu telanjur tidak cocok buat alam pembangunan. Petugas KB malah diberi hak "mengintip" kamar tidur tiap pasangan suami-istri agar mereka tak terlalu banyak bersanggama. Alasannya pun jelas: lebih baik energi itu buat pembangunan.


AYAH DAN KEISLAMAN


Wajah Indonesia berubah cepat. Di sana-sini yang tampak cuma pembangunan dan pembangunan. Begitu juga wajah desa saya. Muhammadiyah makin gaya. Pembinaan umat meluas. Dan Ayah kini sembahyang. Ke sana kemari bersafari dan berpici. Seolah takut bahwa tanpa pici lalu bukan Islam. "Saya senang Ayah jadi santri," saya kasih komentar.

"Dari dulu, sebetulnya Ayah juga Islam," sahutnya. "Hanya dulu itu belum 'nglakoni' (menjalankan)." Dari dulu Islam? Saya tak mengerti. Dalam benak saya terpola rumusan Clifford Geertz: yang salat itu santri, yang tidak berarti abangan.

"Tidak begitu," kata Bambang Pranowo dalam disertasi doktornya di Universitas Monash Australia itu. "Keislaman bukan state of being. Ia state of becoming. Dikotomi santri abangan itu tidak tepat."

"Sekarang Ayah salat," Ayah menjelaskan, "tapi tetap seperti dulu: tak suka ideologi karena bikin ricuh, mengganggu stabilitas nasional," katanya lagi, persis pejabat, atau Pak Kades dalam film Si Unyil. Pendeknya, fenomena Ayah sembahyang pun ada kaitan dengan pembangunan.

Maka, malam itu saya pun salat habis-habisan. Saya cuma berdoa, semoga Ayah diangkat jadi menteri ... 




Sumber : 
Mohammad Sobary
Tempo, 31 Agustus 1991
Read more ...

Orang-orang Berjubah

Orang-orang Berjubah


ilustrasi Orang-orang Berjubah.  Sumber: di sini


Pintu flat saya diketuk. Dan, saya membukanya. Tiga orang berjubah hitam tampak di depan pintu.
Saya kaget. Apa salah saya, sampai orang-orang dari pengadilan datang kemari?
Bukan.

Ternyata, mereka orang-orang gereja. Yang di tangan mereka bukan kitab undang-undang, melainkan kitab suci. Ayem saya.

 "Are you Christian?" tanya salah seorang berjubah itu
"No, mate, I'm a Moslem."

Tak jadi soal. Mereka tetap mendakwahi saya. Disuruhnya saya membaca Bibel.
Saya merasa ditodong. Buat mereka, Bibel harus dibaca, sebab dunia ini rusak karena orang tak lagi membaca Bibel.

"Alangkah sepele sebab kerusakan dunia," pikir saya.
"Di dalam kitab ini, kunci keselamatan ditemukan," kata Christ yang brewok itu. Saya jadi takut. Keadaan kelihatannya genting. Namun, saya akui, uraiannya terlalu simplistik. Saya jadi mengerti, mengapa teman lain yang punya pengalaman serupa menggerutu. Tahulah saya, mengapa banyak orang menutup pintu bagi mereka.


Malam hari, saya suka datang ke Mesjid Noble Park. Semula, mesjid itu sebuah gereja. Karena sudah "bangkrut", gereja dijual. Orang-orang Polandia membelinya dan menjadikannya mesjid. Di mesjid itu, orang Polandia juga berjubah hitam. Mereka mengenakan sepatu waktu salat. Biasanya, selesai salat, tiap jemaah dilempari tasbih. Tampaknya, ada petugas yang khusus melempar-lempar. Suasananya enak. Tenang sekali buat berzikir.

Suatu malam, di tengah kenikmatan zikir itu, seorang berjubah menjawil. "My brother, where are you from?" tanyanya. "Indonesia." Diajaknya saya bicara Semangat brotherhood nya besar. Dia bertanya alamat di Indonesia. Juga, alamat di Australia.

Bagi brother dari Mesir ini, dunia juga rusak, karena orang terlalu mementingkan materi. Di Australia, misi yang dibawanya adalah "berjuang" mewujudkan tatanan Islami. Ia mengatakan, Islam itu sempurna. Paling sempurna. Dan, mudah. Sejauh orang menuruti jejak Kanjeng Nabi, hidup sudah beres. Tidak lupa pula, dia mengundang saya ke mesjid Preston, di mana saya bisa bertemu para brother muslim dari berbagai penjuru dunia.

Saya ingat, di Monash, banyak saya jumpai brother dari Malaysia yang punya semangat seperti itu. Mereka ini anggota Jami'atul Tabligh. Semangat mereka hebat dalam mengajak orang Islam untuk menjadi lebih Islam. Mereka fundamentalis.

Pandangan mereka juga simplistik. Kata-kata kunci mereka mudah diingat: dunia sudah rusak, muslim lain hanya sekumpulan domba yang sesat, dan tidak sempurna keislaman kita kalau kita tak berjenggot seperti mereka. Jadi, jenggot merupakan ukuran puritansi. Sebaliknya, kalau sudah seperti mereka, hidup akan amat mudah.

Salah seorang brother dari Malaysia ini meninggalkan istrinya di Malaysia. Saya tanya, apa tak "payah" hidup jauh dari istri. Dia tegar menjawab: "Allah will provide." Maksudnya, Allah akan menyediakan istri. Mereka membolehkan nikah mut'ah. Ketika itu, saya masih tinggal di hall yang mahal. Tapi, saya bilang, sulit mencari flat yang murah. "Allah will provide," katanya lagi. Tiap soal dijawab: "Allah will provide."

Pintu flat saya diketuk. Dan, saya membukanya. Di depan pintu, tampak orang-orang berjubah. Mereka bukan orang-orang dari gereja, melainkan dari mesjid. Satu orang saya kenal, karena pernah bertemu di Mesjid Noble Park. Mereka datang bersilaturahmi. Saya lega. Namun, ketika mereka bicara bahwa dunia sudah rusak, saya gelisah. Saya khawatir "khotbah" mereka berkepanjangan. Syukurlah, mereka segera tancap gas.

Di Pamulang, saya bertemu dengan orang-orang berjubah juga. Mereka jemaah Darul Arqam. Sambil meneliti, saya mengaji bersama mereka. Bagi mereka, dunia juga sudah rusak, karena kita kena penyakit "cinta dunia". Menurut mereka, sakit itu bisa diobati dengan tatanan Islami. Macam apa? Seperti contoh Kanjeng Nabi. Bagi mereka, jenggot dan jubah juga simbol keislaman. Di mana-mana, orang bicara bahwa "dunia sudah rusak".



Di mana-mana, orang bicara puritansi. Kritik saya sederhana: mereka lupa membedakan agama dari kebudayaan Arab dan Islam dicampur-aduk. Dikiranya, baru sah Islam kita kalau kita sudah "Arab". Mereka menolak iman yang tidak tampil dalam "wajah" Arab.

Pintu flat saya diketuk. Dan, saya membukanya. Orang-orang berjubah dari gereja dan dari mesjid hari Minggu itu datang bersama. Flat saya yang kecil itu menjadi gereja sekaligus mesjid. Saya tak setuju dengan pandangan keagamaan mereka. Tapi, bagaimanapun, melihat semangat dan ketulusan mereka, saya menaruh rasa hormat. Saya tetap bersikap baik. Sebab, siapa tahu --kalau benar mereka ini "penyelamat" dunia, seperti Kanjeng Nabi Nuh AS-- saya bisa menumpang selamat di perahu mereka.




Sumber : 
Mohammad Sobary Editor, No.30/Thn.IV/6 April 1991
Read more ...

Kang Sejo Melihat Tuhan

KANG SEJO MELIHAT TUHAN

 
Ilustrasi Kang Sejo Meliha Tuhan . Sumber: di sini


ANTARA BERAGAMA & BERKETUHANAN


Bukan salah saya kalau suatu hari saya ceramah agama di depan sejumlah mahasiswa Monash yang, satu di antaranya, Islamnya menggebu. Artinya, Islam serba berbau Arab. Jenggot mesti panjang. Ceramah mesti merujuk ayat, atau Hadis. Lauk mesti halal meat. Dan, semangat mesti ditujukan buat meng-Islam-kan orang Australia. Tanpa itu semua jelas tidak Islami.

Saya pun dicap tidak Islami. Iman saya campur aduk dengan wayang. Dus, kalau pakai kaca mata Geertz, seislam-islamnya saya, saya ini masih Hindu. Memang salah saya, sebab ketika itu saya main ibarat: Gatutkaca itu sufi. Ia satria-pandita. Tiap saat seperti tidur, padahal berzikir qolbi. Jasad di bumi, roh menemui Tuhan. Ini turu lali, mripat turu, ati tangi: mata tidur hati melek, seperti olah batin dalam dunia kaum sufi. Biar masih muda, hidup Gatutkaca seimbang, satu kaki di dunia satu lagi di akhirat. Mirip Nabi Daud: hari ini puasa, sehari esoknya berbuka. Dan saya pun dibabat ...

Juli tahun lalu saya dijuluki Gus Dur sebagai orang yang doanya pendek. Bukan harfiah cuma berdoa sebentar. Maksudnya, tak banyak doa yang saya hafal. Namun, yang tak banyak itu saya amalkan. "Dan itu betul. Artinya, banyak ilmu ndak diamalkan buat apa?" kata Pak Kiai sambil bergolek-golek di Hotel Sriwedari, Yogya.

Apa yang lebih indah dalam hidup ini, selain amal yang memperoleh pengakuan Romo Kiai? Saya merasa hidup jadi kepenak, nikmat. Dalam deretan Sufi, Al Adawiah disebut "raja." Wanita ini hamba yang total. Hidupnya buat cinta.
Gemerlap dunia tak menarik berkat pesona lain: getaran cinta ilahi. Pernah ia berkata, "Bila Kau ingin menganugerahi aku nikmat duniawi, berikan itu pada musuh-musuh-Mu. Dan bila ingin Kau limpahkan padaku nikmat surgawi, berikanlah pada sahabat-sahabat-Mu. Bagiku, Kau cukup." 
Ini tentu berkat ke-"raja"-annya. Lumrah.


KANG SEJO YANG SEDERHANA


Lain bila itu terjadi pada Kang Sejo. Ia tukang pijit -maaf, Kang, saya sebut itu- tunanetra. Kang Sejo pendek pula doanya. Bahasa Arab ia tak tahu. Doanya bahasa Jawa: Gusti Allah ora sare (Allah tak pernah tidur): potongan ayat Kursi itu. Zikir ia kuat. Soal ruwet apa pun yang dihadapi, wiridannya satu: "Duh, Gusti, Engkau yang tak pernah tidur ..." Cuma itu.

"Memang sederhana, wong hidup ini pun dasarnya juga sederhana," katanya, sambil memijit saya. Saya tertarik cara hidupnya. Saya belajar. Guru saya ya orang macam ini, antara lain. Rumahnya di Klender. Kantornya, panti pijat itu, di sekitar Blok M. Ketika saya tanya, apa yang dilakukannya di sela memijit, dia bilang, "Zikir Duh, Gusti ..." Di rumah, di jalan, di tempat kerja, di mana pun, doanya ya Duh, Gusti ... itu. Satu tapi jelas di tangan.
"Berapa kali Duh Gusti dalam sehari?" tanya saya. "Tidak saya hitung."
"Lho, apa tak ada aturannya? Para santri kan dituntun kiai, baca ini sekian ribu, itu sekian ribu," kata saya
"Monggo mawon (ya, terserah saja)," jawabnya.
"Tuhan memberi kita rezeki tanpa hitungan, kok.
Jadi, ibadah pun tanpa hitungan."
"Sampeyan itu seperti wali, lo, Kang," saya memuji.
"Monggo mawon. Ning (tapi) wali murid." Dia lalu ketawa.

Diam-diam ia sudah naik haji. Langganan lama, seorang pejabat, mentraktirnya ke Tanah Suci tiga tahun yang lalu. 'Senang sampeyan, Kang, sudah naik haji?" "Itu kan rezeki. Dan rezeki datang dari sumber yang tak terduga," katanya. "Ayat menyebutkan itu, Kang." "Monggo mawon. Saya tidak tahu." Ketularan bau Arab, saya tanya kenapa doanya bahasa Jawa. "Apa Tuhan tahunya cuma bahasa Arab?" "Kalau sampeyan Dah Duh Gusti di bis apa penumpang lain ..."
"Dalam hati, Mas. Tak perlu diucapkan."


KISAH KANG SEJO MELIHAT TUHAN


Ia, konon, pernah menolak zakat dari seorang tetangganya. Karena disodor-sodori, ia menyebut, "Duh, Gusti, yang tak pernah tidur ..." Pemberi zakat itu, entah bagaimana, ketakutan. Ia mengaku uang itu memang kurang halal. Ia minta maaf.
"Mengapa sampeyan tahu uang zakat itu haram"? tanya saya.
"Rumah saya tiba-tiba panas. Panaaaas sekali."
"Kok sampeyan tahu panas itu akibat si uang haram?"
"Gusti Allah ora sare, Mas," jawabnya.

Ya, saya mengerti, Kang Sejo. Ibarat berjalan, kau telah sampai. Dalam kegelapan matamu kau telah melihatNya. Dan aku? Aku masih dalam taraf terpesona. Terus-menerus






Sumber : 
Mohammad Sobary
Tempo, 12 Januari 1991
Read more ...

Tuhan Tersenyum

TUHAN TERSENYUM


Ilustrasi Tuhan Tersenyum.  Sumber: di sini

Pernahkah Tuhan tersenyum atau melucu?


Dalam kitab suci tak saya temukan dua hal itu. Begitu juga dalam hadis nabi. Pemahaman tekstual saya atas agama terbatas. Pengajian saya masih randah, kata orang Minang. Tapi kalau soalnya cuma "adakah khatib yang melucu, atau marah," saya punya data. Di tahun 1978, seorang khatib melucu di masjid UI Rawamangun. Akibatnya, jemaah yang tadinya sudah liyep-liyep jadi melek penuh. Mereka menyimak pesan Jumat, sambil senyum. Tapi khatib ini tak cuma menghasilkan senyum itu. Ia diganyang oleh khatib yang naik mimbar Jumat berikutnya. "Agama bukan barang lucu," semburnya. "Dan tak perlu dibikin lelucon. Mimbar Jumat bukan arena humor. Karena itu, sengaja melucu dalam khotbah dilarang ..." Vonis jatuh. Marah khatib kita ini. Dan saya mencatat "tambahan" larangan satu lagi.

Sebelum itu demonstrasi mahasiswa sudah dilarang "yang berwajib". Senat dan Dewan dibekukan. Milik mahasiswa yang tinggal satu itu, "melucu buat mengejek diri sendiri", akhirnya dilarang juga. Kita memang perlu norma. Tapi juga perlu kelonggaran. Maka, saya khawatir kalau menguap di masjid bakal dilarang. Siapa tahu, di rumah Allah hal itu tak sopan. Buat jemaah yang suka menguap macam saya, karena jarang setuju dengan isi khotbah, belum adanya larangan itu melegakan. Saya dengar Komar dikritik banyak pihak. Soalnya, dalam ceramah agamanya ia melucu. Tapi Komar punya alasan sahih. Ia, konon, sering mengamati sekitar. Di kampungnya, banyak anak muda tak tertarik pada ceramah agama. "Mengapa?" tanya Pak Haji Komar. "Karena isinya cuma sejumlah ancaman neraka." Wah ... Itu sebabnya ia, yang memang pelawak, memberi warna humor dalam ceramahnya. Dan remaja pun pada hadir.


Tuhan tersenyum : Jangan bawa organmu ke surga


Don't take your organs to heaven 
Heaven knows we need them here.

:)

Saya suka sufisme. Di sana Tuhan dilukiskan serba ramah. Dan bukannya marah melulu macam gambaran kita. A'u dibaca angu, tidak bisa. Dzubi jadi dubi, tidak boleh. Khotbah lucu, jangan. Lho? Bukankah alam ini pun "khotbah" Tuhan? Langit selebar itu tanpa tiang, bulan bergayut tanpa cantelan dan aman, apa bukan "khotbah" maha jenaka? Apa salahnya humor dalam agama? Di tahun 1960-an, Marhaen ingin hidup mati di belakang Bung Karno. Dalam humor, saya cukup di belakang Bung Komar. Artinya, bagi saya, humor agama bikin sehat iman. Dus, tidak haram jadah. Di Universitas Monash saya temukan striker: "Jangan bawa organmu ke surga. Orang surga sudah tahu kita lebih memerlukannya di sini". Imbauan ini bukan dari Gereja, melainkan dari koperasi kredit. Intinya: kita diajak berkoperasi. Dengan itu kita santuni kaum duafa, kaum lemah. Ini pun "khotbah" lucu.

Dalam kisah sufi ada disebut cerita seorang gaek penyembah patung. Ia menyembah tanpa pamrih. Tapi di usia ke-70 ia punya kebutuhan penting. Doa pun diajukan. Sayang, patung itu cuma diam. Kakek kecewa. Ia minta pada Allah. Dan ajaib: dikabulkan.

Bukan urusan dia bila masalah kemudian timbul, sebab Allah-lah, bukan dia, yang diprotes oleh para malaikat. "Mengapa ya, Allah, Kaukabulkan doa si kakek? Lupakah Kau ia penyembah patung? Bukankah ia kafir yang nyata?"

Allah senyum. "Betul," jawabnya, "Tapi kalau bukan Aku, siapa akan mengabulkan doanya? Kalau Aku pun diam, lalu apa bedanya Aku dengan patung?"

Siang malam aku pun berdoa, semoga humor kaum sufi ini tak dilarang.




Sumber: 
Mohammad Sobary
Tempo 27 Oktober 1990
Read more ...

Sendal Jepit Kesederhanaan

Sendal Jepit Kesederhanaan

 

Ilustrasi Sendal Jepit

 

Mungkin ada pesona tertentu yang menghubungkan rohani para penyair. Setahu saya, ada dua penyair yang terpesona pada kesederhanaan. 

Yang satu Taufiq Ismail. Yang satu lagi Emha Ainun Nadjib. 


Bulan Juni, 1979, ketika Ki Mohamad Said Reksohadiprodjo meninggal dunia, Taufiq terharu. Ia merasa kehilangan. Ia lalu menulis sajak, buat mengenang orang tua sederhana tapi memancarkan kewibawaan itu. Yang paling pertama ia ingat tentang orang tua itu ialah sandal jepitnya, yang selalu berbunyi soh, soh, soh, menggosok debu Jakarta, menggosok debu Indonesia. Di rumahnya, Taufiq mencari sepatu lari, yang ia beli di negara dunia kesatu. Harganya, tentu saja, mahal. Dan itu membuat Taufiq malu mengenang kesederhanaan Ki Mohamad Said. Penyair ini silau melihat kehidupan orang tua itu.

Ketika Mohamad Kasim Arifin, mahasiswa IPB yang selama 15 tahun "menghilang" di Waimital, P. Seram, kembali ke IPB dengan kisah suksesnya membantu petani transmigran yang miskin, Taufiq juga terharu. Kasim, sahabatnya itu, meraih keberhasilan dengan swadaya, tanpa sepeser pun bantuan dana dari pemerintah. Begitu melihat dirinya sendiri, seorang dokter hewan yang hanya bersyair-syair saja kerjanya (begitulah diakuinya dalam sajaknya untuk mengenang Mohamad Kasim Arifin), ia merasa perlu menyembunyikan wajahnya menyembul di kali Ciliwung itu. Kasim yang hidupnya tak gemerlapan itu pun, seperti halnya Ki Mohamad Said, membuatnya merasa malu, risi, dan bersalah. Getaran apakah yang membuat kita bisa merasa risau dan terpojok tak berdaya seperti itu? Mungkin cuma Taufiq sendiri yang tahu jawaban persisnya. Tapi, saya kira Taufiq mengharapkan agar kita punya lebih banyak lagi tokoh seperti Ki Mohamad Said dan Kasim Arifin. Ia, dengan kata lain, tak ingin melihat Ki Mohamad Said berangkat meninggalkan kita. Kematian memang sering bisa memberikan kenangan seperti itu. Dan, celakanya, kita seperti baru sadar, bahwa orang seperti itu penting dan kita perlukan.

Dalam "Sajak-sajak Sederhana"-nya, nampak bagaimana penyair Emha Ainun Nadjib gandrung pada kesederhanaan itu. 

"Tuhanku" katanya. "Ambillah aku sewaktu-waktu. Kematianku kehendak sederhana saja. Orang-orang menguburku hendaknya juga dengan sederhana saja."

Barangkali, ini pesan Emha. Tapi barangkali juga salah satu cermin dari pergulatan batinnya sebagai seorang seniman. Seperti Taufiq Ismail, Emha Ainun Nadjib juga kuat memperlihatkan pada kita pemihakannya pada nilai kesederhanaan.


Ketika Soedjatmoko meninggal dunia, Emha juga menulis kenangan. Ada sesuatu yang ia kagumi pada diri intelektual beken itu. Oleh karena itu, tak segan ia menyebut Soedjatmoko sebagai ulama. Benar, kata Arab itu artinya memang persis mencerminkan kehidupan Soedjatmoko: orang yang banyak ilmu. Tapi pemberian gelar ulama itu jelas memiliki konotasi lebih: bahwa almarhum bukan cuma berilmu tapi juga, dan ini yang lebih penting, mampu memberikan teladan laku bagi siapa saja.

Goenawan Mohamad bahkan menyebut Soedjatmoko bukan cuma teladan ilmu, melainkan juga teladan "laku". Bagi Soedjatmoko, apa yang dikatakan dan yang ditulis tidak cuma cermin ketangkasan berolah pikir, melainkan juga cermin pergulatan batinnya. Orang bilang, keteladanan adalah sesuatu yang hilang dari kita. Kita tak lagi punya sesuatu yang kita banggakan. Tak ada lagi sosok pribadi yang layak kita jadikan teladan. Tampil secara sederhana saja misalnya, juga sesuatu yang tak mudah. Imbauan untuk menyederhanakan hidup sebetulnya pas buat kita. Ia bukan cuma problem bagi orang kaya yang cenderung hidup gemerlapan. Orang miskin pun, entah berkat rangsangan virus apa, banyak yang tak mau tampil apa adanya. Mereka tidak gemerlap, mungkin juga memperlihatkan sikap anti pada gaya hidup itu, barangkali hanya karena belum ada kesempatan.


Benar kekaguman Taufiq pada Ki Mohamad Said, karena orang itu telah membuktikan dalam hidupnya. Ia bukan cuma orang sederhana, melainkan mungkin kesederhanaan itu sendiri.





Sumber:
Mohammad Sobary
Jawa Pos 12 Januari 1992
Read more ...

Kotak Sosio-Kultural

Kotak Sosio-Kultural 

 

  ilustrasi kotak sosio kultural.  sumber: di sini

"Makin lama makin cinta pada Muhammadiyah. 
Saya ingin bila kelak saya mati, keranda saya ditutup bendera Muhammadiyah." 

Ini ucapan Bung Karno. Ketika tokoh ini kemudian wafat dalam kesepian di Wisma Yaso, Jakarta, jenazahnya disalatkan oleh almarhum Buya Hamka, tokoh yang pernah disudutkannya secara politis. Buya Hamka bersedia menyembahyangkan Bung Karno karena Menteri Sekretaris Negara Alamsyah, waktu itu, membujuk agar Buya berbesar jiwa. Saya dengar alasan ini dari Buya Hamka sendiri dalam suatu salat Jumat di Mesjid Agung Al-Azhar, Jakarta. Saya tidak tahu pasti, adakah keranda Bung Karno kemudian ditutup bendera Muhammadiyah. Samar-samar saya ingat, ada berita dari seorang warga Muhammadiyah, bahwa wasiat beliau dipenuhi.


Nurcholish Madjid pernah menulis di harian Pelita, komitmen kita sebagai umat Islam ialah komitmen pada nilai, bukan pada golongan. 
Pemikiran ini menarik. Kita tahu, nilai memiliki kepastian relatif. Sedang golongan tidak. Seseorang boleh "berkulit" haji, berbendera Muhammadiyah atau NU memang; tapi jaminan dari orang itu bahwa ia akan senantiasa lurus dan bersikap luhur sebagaimana nilai-nilai yang melekat pada baju yang dipakainya, tidak ada. Bagaimanakah corak pemihakan Bung Karno pada Muhammadiyah? Kita tidak tahu. Bung Karno sendiri tak secara eksplisit menjelaskannya. Sementara itu sumber tertulis tidak ada. Dugaan saya, Bung Karno punya banyak komitmen nilai, sekaligus golongan.

Di tengah kaum Marhaen, ia bilang ia juga Marhaenis. Di tengah orang-orang Komunis dia bilang bahwa dia seorang Marxis. Orang pun tahu, ia juga menyebut dirinya seorang agamawan. Apakah Bung Karno plin-plan? Ia Bapak bangsa. Ia merasa harus berdiri di atas semua golongan. Agaknya ia beranggapan, meskipun tak dikatakannya, keragaman identik dengan perpecahan. Sedang ia gandrung akan persatuan. Kata Bernard Dahm, hanya Bung Karno-lah yang karena ke-Jawa-annya, bisa menggabungkan ketiga hal berbeda satu sama lain itu ke dalam satu sintesa harmonis. Karena bagi orang Jawa, segala sesuatu itu pada dasarnya satu.


Dalam salah satu sajak religiusnya, Farriduddin Attar memandang Dunia, penyair Taufiq Ismail bicara tentang pemikiran Attar. Bagi Attar, katanya, dunia ini nampak sebagai sebuah kotak. Manusia hidup, beranak, bercucu, berkemenakan, bekerja, tidur dan bermimpi, di dalam kotak. Manusia, di dunia ini, kerjanya sibuk membuat kotak-kotak.

Amir Machdum, guru saya, melarang saya masuk partai politik. Alasannya, partai mengurung, membatasi kita. Padahal ia sendiri, dulu, orang PNI. Saya sendiri anak Muhammadiyah karena lahir di lingkungan Muhammadiyah, dan sekolah di sekolah Muhammadiyah. Setelah saya tahu NU, ibadah saya mirip NU tapi "partai" saya tetap Muhammadiyah.

Ketika mahasiswa, kotak yang saya pilih HMI. Tapi ketika Ogi Indra Yoga, golongan independen, mencalonkan diri jadi ketua Senat Mahasiswa FIS UI (nama dulu), saya mendukungnya karena dia populer, rajin bekerja, dan mau berpikir. Masriel Mansyur, lawannya dari HMI, tidak saya dukung. Benar dugaan saya, Masriel kalah.

Toh saya menolak tawaran Ogi, sang pemenang, untuk menjadi salah satu stafnya. Saya memperlihatkan solidaritas terhadap kawan-kawan HMI lain, yang tak satu pun mendapat tawaran Ogi. Dalam hal ini, saya tegas memperlihatkan warna "jaket" HMI. "Lebih baik, kalau tidak mau, bilang saja tidak mau. Jangan banyak alasan," katanya.

Belakangan saya mikir, kita gandrung demokrasi dan sadar akan kebhinekaan etnis, agama, dan corak pemikiran dalam masyarakat kita, tapi mengapa kita tak cukup longgar mendengar argumen lain yang tak sejalan dengan kita? Mengapa kita tak sabar menghadapi kebhinekaan? 

"Kalau mau serba seragam," kata Rendra, "lebih baik jadilah pembuat batu bata."


Keseragaman memang mengesankan berfungsinya mesin rekayasa yang otoriter, kaku, dan dingin, mirip teriak kebulatan tekad yang mekanistis. Saya lebih suka kebhinekaan. Tapi dalam kebhinekaan ada cacat yang tak saya sukai. Di sini orang bisa, dan mungkin mudah, tergelincir ke dalam kotak fanatisme yang selalu siap mengurung kita. Potensi ricuh dalam kotak ini sama besar dengan rasa sumpek di bawah keseragaman yang serba otoriter. Kedua-duanya, dengan kata lain, punya kemungkinan untuk jadi jelek.

Namun, karena lazimnya orang harus memilih, bagi saya, kebhinekaan itu baik, asal kita tidak terkurung. Artinya, di saat diperlukan, kita harus bisa keluar dari kepompong (agama, kelompok, golongan, etnis, partai politik) yang mengurung kita karena, sekali lagi mengutip Nurcholish Madjid, komitmen kita pada nilai, bukan pada golongan.





Sumber:
Mohammad Sobary
Editor, No. 24/Thn. IV/23 Februari 1991
Read more ...

Kesalehan Sosial, Kesalehan Ritual

Ilustrasi Kesalehan Sosial: Anak-anak SD Muhammadiyah membersihkan Sungai, sumber : di sini

Ketika dalam "Robohnya Surau Kami" A.A. Navis memasukkan Haji Saleh (yang yakin bakal masuk sorga itu) ke neraka, sebenarnya ia sedang berbicara tentang suatu corak keagamaan yang tak ia "restui". Navis sedang menggugat kesalehan ritual: jenis kesalehan yang ukurannya ditentukan berdasarkan seberapa taat seseorang menjalankan salat lima waktu, seberapa panjang zikir-zikir sesudah salat, dan seberapa sering salat sunat ia lakukan. Pendek kata, kesalehan itu ditentukan berdasarkan ukuran serba legal formal sebagaimana kata ajaran.

Dan biasanya, untuk ini ada-ada saja orang yang merasa memiliki otoritas buat menilai kredibilitas moral orang lain. Ia menjadi semacam tim pemeriksa dan penilai keimanan orang lain. Islam bukan agama individual. Ajaran yang dibawa Gusti Kanjeng Nabi Muhammad itu, dari "atas" memang dirancang buat rahmat bagi semesta alam. Orang yang paling saleh pun dengan demikian tak punya hak monopoli atas agama itu. Kita tak berhak menentukan tingkat kesalehan tetangga sebelah. Dan tak satu pun di antara kita punya wewenang "mengontrol" ibadah orang lain. Terutama bila hal itu disertai sikap sinis dan cemooh, seperti Haji Saleh dalam Robohnya Surau Kami itu.

Kita tahu Bang Navis orang Minang dan ia sedang bicara tentang situasi kultural Minang. Tapi corak keagamaan itu tak dengan sendirinya cuma milik orang Minang. Di Jawa pun, pada saat yang sama, tiga puluhan tahun yang lalu, ketika perpecahan ideologi kultural kuat mewarnai kehidupan masyarakat, gejala serupa juga menonjol. Terjadinya polarisasi santri-abangan, sebagaimana dirumuskan Clifford Geertz, adalah produk zaman tersebut. Namun juga tak berarti cuma milik zaman itu. Sekarang pun, setelah tiga puluhan tahun yang berlalu, kecenderungan agamis seperti itu toh masih juga terasa.

Maka pada tahun 1980-an, ketika Gus Dur giat menganjurkan agar kita istirahat sebentar dari kesibukan berdebat tentang batalnya wudlu, untuk khusyuk bersama-sama memikirkan bagaimana kemiskinan umat ditangani, ia seperti memberi jawaban atas persoalan yang merunyamkan A.A. Navis tersebut. Dengan kata lain, Gus Dur sedang berbicara tentang kesalehan sosial: suatu bentuk kesalehan yang tak cuma ditandai oleh rukuk dan sujud, melainkan juga oleh cucuran keringat dalam praksis hidup keseharian kita. Orang semacam Gus Dur dan mayoritas umat yang miskin tentu saja juga memerlukan penyelamatan sorgawi seperti Haji Saleh itu.

Bedanya, Haji saleh mengesankan sikap hidup egoistis, ingin mencari selamat sendiri, sedangkan Gus Dur tampak altruis, ingin menikmati penyelamatan sorgawi bersama umat. Kalau boleh, mungkin mau masuk sorga dengan sandal kulitnya itu sekaligus. Kecuali itu, Haji Saleh yakin bahwa sorga bisa digapai dengan kesalehan ritual.
Gus Dur melihat bahwa sorga justru (setelah melihat konteks sosio-ekonomis umat yang compang-camping) harus lebih diraih dengan kesalehan sosial.

Usahanya "menerobos" pintu Bank Summa untuk melakukan kerja sama ekonomi dengan membuka BPR, misalnya, jelas mempertegas wawasan keagamaannya. Dalam kitab suci disebutkan bahwa sorga itu ada tingkatan-tingkatannya.

Tanpa menodai ajaran, saya sering menafsirkan bahwa rasanya, sekarang pun saya sudah menikmati sebagian kenyamanan sorga itu. Maka, tafsiran saya selanjutnya, sorga bagi rakyat kecil, mayoritas umat yang miskin tentu juga sederhana tingkatannya: yakni sekadar buat pemenuhan kebutuhan jasmani (sandang, pangan, papan).
Buat kebutuhan rohani, (membaca salawat buat Kanjeng Nabi, maupun segala puja dan puji kepada Allah) tentu dirasa sebagai kebutuhan luks. Dus, belum merupakan kebutuhan primer.

Tafsiran serupa saya dengar pernah dibuat oleh seorang pastur muda yang arif. Sehabis mengkhotbahi habis-habisan para "domba" yang miskin, ia antar mereka pulang. Di tengah nyala obor, di sepanjang jalan licin dan becek di daerah Malang, terjadilah dialog antara sang pastur dan dan para jemaahnya. Sang pastur kemudian menyimpulkan: saya ini keliru. Kongkret, mereka butuh makan. Tapi saya beri mereka cerita tentang sorga, cinta kasih, dan Tuhan Bapa ... Pemikiran keagamaan seperti ini ternyata juga bukan monopoli kaum terpelajar, seperti Romo Pastur muda tadi.

Di Desa Ciater, Serpong, tempat saya melakukan penelitian tentang hubungan antara agama dan tingkah laku ekonomi, saya temukan seorang haji tua, pedagang kecil, yang beranggapan bahwa kesalehan itu terletak dalam praksis, bukan dalam doa-doa. Ketika saya tanyakan kepadanya, orang yang bagaimana yang disebut sebagai orang saleh, Haji Asnen bin Haji Thalib itu menjawab: "Orang yang menyeimbangkan ushali dan usaha," katanya. Baginya, kedua hal itu harus diseimbangkan.

Namun, jika ia harus memilih, ia akan lebih memilih yang kedua dulu. "Mengapa?" tanya saya. "Karena kalau anak-anak lapar, kita harus memberikan jawab kongkret: kasih makan. Dan makan itu kita peroleh dari usaha." "Doa mah kaga enak dimakan," katanya lagi. Dengan kata lain, haji dari Betawi ini pun sedang bicara bahwa dalam kondisi tertentu, kesalehan sosial terasa agak lebih, dan karena itu perlu didahulukan dari kesalehan ritual. Dengan begini, gugatan Navis kini terasa berdengung kembali dan memperoleh lagi relevansinya.

Bukan haji kalau ia tak bisa memperkuat argumentasinya dengan contoh kuat. Maka, Haji Asnen pun mengutip sebuah Hadis. Katanya, seorang sahabat pernah memuji kesalehan orang lain di depan Kanjeng Nabi. "Mengapa ia kau sebut sangat saleh?" tanya Gusti Kanjeng Nabi Muhammad SAW. "Soalnya, tiap saya masuk masjid ini dia sudah salat dengan khusyuk dan tiap saya sudah pulang, dia masih saja khusyuk berdoa."

"Lho, lalu siapa yang memberinya makan dan minum?" tanya Kanjeng Nabi lagi. "Kakaknya," sahut sahabat tersebut. "Kakaknya itulah yang layak disebut saleh," sahut Kanjeng Nabi lebih lanjut. Sahabat itu diam. Sebuah pengertian baru terbentuk dalam benaknya. Ukuran kesalehan, dengan begitu, menjadi lebih jelas diletakkan pada tindakan nyata. Kesalehan, jadinya, lalu dilihat dampak kongkretnya dalam kehidupan sosial. Tentu saja, hanya kesalehan sosial yang bisa diukur dengan cara seperti itu.


 Dalam agama, sebenarnya kedua corak kesalehan itu merupakan wajah sebuah kemestian yang tak usah ditawar. Secara normatif, keduanya haruslah merupakan bagian hidup tiap-tiap hamba. Kita, pendeknya, selalu diminta tampil ideal. Artinya, secara ritual kita saleh, secara sosial pun kita mestinya saleh juga. Maka, betapa pun pahitnya harus diakui bahwa memang, silang selisih antara mereka yang lebih menggarisbawahi kesalehan ritual dengan mereka yang lebih memilih kesalehan sosial masih bisa terjadi terus-menerus. Ini tak menjadi soal. Sebab, bukankah silang selisih itu sendiri merupakan sebuah dialog untuk mencapai takaran ideal itu juga?




Sumber: 
Mohammad Sobary
Jawa Pos, Minggu Legi, 29 Desember 1991
Read more ...

Nasruddin: Filsuf itu Orang Bodoh dan Bingung



Nasruddin, sumber : di sini


Berikut adalah salah satu kisah Nasruddin yang dikutip dari The Exploits of The Incomparable Nasruddin, buku yang disusun oleh seorang sufi abad akhir, Idries Shah.

Alkisah, para filusuf, ahli ilmu mantiq, dan ahli hukum berkumpul di istana. Mereka bergabung untuk menginterogasi Nasruddin. Perkara Nasruddin telah dianggap sebagai sebuah kasus yang amat serius. Persoalannya adalah; Nasruddin seringkali datang ke berbagai tempat meneriakkan satu khotbah yang sama. Dalam khotbahnya itu, ia menyebut orang-orang berilmu, seperti para filsuf, sebagai mereka yang bodoh, kebingungan, dan tak bisa mengambil keputusan. Tentu saja, ceramah Nasruddin ini dianggap subversif dan mengganggu ketertiban negara.

Singkat cerita, mereka yang merasa tersinggung meminta Raja untuk mengadili Nasruddin. Digelarlah sebuah pengadilan dengan Nasruddin sebagai terdakwa tunggal. "Hai Nasruddin," ucap Raja, "kau mendapat giliran untuk bicara terlebih dahulu."

Nasruddin lalu meminta agar dibawakan beberapa lembar kertas dan pena. Setelah itu ia berkata, "Tolong bagikan kepada para pakar yang ada di ruangan ini, masing-masing secarik kertas dan sebilah pena."

Setelah setiap orang pakar mendapatkan kertas dan pena, Nasruddin berkata lagi, "Aku mohon kepada setiap ahli untuk menuliskan di atas kertas itu jawaban untuk pertanyaan ini; Apa yang disebut dengan roti?"

Setiap cerdik cendekia yang ada di tempat itu lalu menuliskan apa yang mereka ketahui tentang roti. Jawaban para pakar itu lalu dikumpulkan dan diserahkan kepada Raja. Raja pun membacanya satu demi satu.

Orang bijak pertama menulis, "Roti adalah sebuah makanan."
Si bijak kedua menjawab, "Roti adalah tepung bercampur dengan air."
Si bijak ketiga menulis, "Roti adalah karunia Tuhan."
Si bijak selanjutnya menjawab, "Roti adalah terigu yang telah dimasak."
Orang berikutnya menulis, "Roti merupakan makanan bergizi."
Dan demikian seterusnya.
Setiap orang yang terkenal pandai itu, menulis jawaban yang berbeda-beda, masing-masing bergantung pada pemaknaan mereka akan sebuah roti.
Salah seorang dari mereka bahkan menulis, "Tak ada seorang pun yang tahu sebenarnya apa yang dimaksud dengan roti."

Setelah mendengar semua jawaban itu, Nasruddin berkata kepada sang Raja, "Ketika mereka dapat menentukan apa yang disebut sebagai roti, barulah mereka bisa menentukan hal-hal selain roti. Misalnya, menentukan apakah khotbahku benar atau tidak."

la melanjutkan, "Dapatkah Baginda mempercayakan urusan penilaian atau keputusan kepada orang-orang seperti ini?
Bukankah amat aneh bila mereka tidak sepakat akan sesuatu yang mereka makan setiap hari, tetapi mereka sepakat untuk menentukan bahwa aku seorang ahli bid'ah?"


Cerita Nasruddin di atas sebetulnya merupakan sebuah sindiran orang-orang sufi kepada mereka yang merasa bijak, mereka yang sibuk mempelajari agama lalu ramai berdebat untuk memutuskan mazhab mana yang benar dan mana yang sesat. Bukankah ketika kita belajar fikih, kita dihadapkan kepada berbagai perbedaan pendapat. Kita akan dianggap orang yang paling pandai apabila kita bisa mengetahui segala pendapat yang berbeda itu, lalu memutuskan bahwa pendapat kitalah yang paling benar.

Kepada mereka yang kebingungan, Nasruddin berkata, “Janganlah kau ikuti berbagai macam pendapat yang ada. Kau takkan mungkin dapat mempersamakan para ulama itu."   Para ulama yang berbeda paham tersebut hanya mencapai bagian luar dari ajaran agama. Dimensi eksoteris agama akan selalu menghasilkan perbedaan pendapat. Namun bila kita menukik lebih dalam lagi, ke substansi dari ajaran agama, semua mazhab akan menemukan titik temu."

Read more ...

Doa yang Tak Membebaskan

DOA YANG TAK MEMBEBASKAN


DIALOG TENTANG "ISI PESAN"

 

 Ilustrasi Pesantren Tempo Doeloe, sumber: di sini


Para santri pun akhirnya berkumpul lagi setelah beberapa lama sebelumnya mereka menerima tugas dari sang kiai. "Sudah mengerti pesan dalam surat itu?" tanya kiai, membuka pertemuan kembali.
"Sudah, kiai, alhamdulillah," sahut salah seorang santri.
"Bagaimana isi pesan itu?" Santri itu memperdengarkan bacaannya yang bagus atas surat Al Ma'un.
"Aroaital ladzi yukadzibu biddin ...," merdu suaranya. Dan ia pun meneruskan pembacaan dan terjemahannya, sampai selesai.

"Kamu?!" kata sang kiai kepada santri yang lain. Santri itu pun mengulangi hal yang sama. Ia pun membaca ayat-ayat suci itu, disertai terjemahannya. Setelah para santri lain memberi jawaban yang sama, sang kiai tak lagi meneruskan bertanya pada santri berikutnya. Ia berkesimpulan, semua santri pasti akan berbuat serupa. "Kalian belum mengerti kalau begitu. Kalian cuma hapal. Mengerti dan hapal itu beda," katanya lagi, dengan intonasi lembut seperti semula. Kiai kita ini ialah pendiri perserikatan yang bernama Muhammadiyah yang terkenal itu: Kiai Haji Ahmad Dahlan.

Dialog ini terkenal di kalangan keluarga Muhammadiyah. Orang Muhammadiyah menganggap "peristiwa" ini penting karena dalam dialog itu terselip sebuah pesan jelas, bahwa agama tak cuma minta dipahami, melainkan diamalkan. Ketika agama berhenti pada titik pemahaman, saat itu mungkin agama diturunkan derajadnya menjadi "cuma" sejenis filsafat. Agama, dengan kata lain, dipreteli fungsi-fungsi sosialnya yang begitu penting dan yang paling relevan dengan hidup kemasyarakatan kita. Syahdan, sejak dialog antara kiai dan santri itu lalu didirikan sebuah panti asuhan, tempat menampung anak-anak yatim-piatu.

Langkah ini diambil KH Ahmad Dahlan untuk memenuhi perintah yang dikandung di dalam surat Al Ma'un tersebut. Ini merupakan contoh kongkret bagi para santrinya, mengenai bagaimana mereka harus memahami kandungan isi kitab suci Al Qur'an. Di sana memang ada kalimat: "Tahukah kamu, orang-orang yang mendustakan agama? " Dan dalam surat ini dijelaskan bahwa orang yang menyia-nyiakan anak yatim serta tak memberi makan orang miskin, dimasukkan dalam kategori dusta itu.


RELEVANSI SOSIAL DARI AGAMA

 

Ilustrasi "Isi Pesan", sumber di sini


Agama diturunkan Tuhan buat manusia, dan bukan buat kepentingan Tuhan itu sendiri. Tuhan sudah kelewat mulia, kelewat luhur, kelewat kaya. Pendeknya ia tak perlu apa-apa lagi. Oleh karena itu, sekali lagi, pemahaman KH Ahmad Dahlan itu sungguh sangat kontekstual buat situasi kita saat itu, dan juga kini. Ayat-ayat suci sungguh bukan untuk dibaca, dilagukan, dan dipertandingkan dari tingkat kabupaten sampai tingkat nasional, melainkan untuk dimengerti, dipahami dan dilaksanakan. Sikap KH Ahmad Dahlan begitu tegas: ia tak ingin umat Islam hanya menjadi "burung nyanyi", (seperti contoh para santrinya) yang mengandalkan suara merdu. Baginya, yang terpenting adalah tindakan dan amal nyata. Relevansi sosial dari agama, pendeknya, merupakan hal yang penting. Mungkin malah yang terpenting. Ibadah puasa selama sebulan itu ditutup dengan lebaran. Suasana khusu', penuh tirakat dan sikap prihatin yang nampaknya dalam itu diakhiri dengan sebuah pesta: makan, minum, rokok dan segala macam yang selama sebulan dilarang, di hari itu halal semata hukumnya.

Dan kita bersyukur. Tradisi yang mewarnainya, dus sesuatu yang bukan bagian dari ajaran, ialah sungkem pada orang-tua, mertua, bertemu sanak keluarga, teman kongkow, teman ngaji, teman sekolah atau kantor, dan juga para tetangga. Suasana gembira memancar di tiap wajah. Hati pun terbuka buat saling memaafkan. Urusan ibadah kita menjadi juga urusan nasional. Negara mendapat untung, setidaknya dari penjualan benda-benda pos. Permintaan dan pengiriman maaf tak bisa jalan tanpa amplop dan perangko. Pulang ke kampung juga merupakan tradisi lain yang ikut mewarnai kemeriahan lebaran. Negara juga ikut terlibat dalam acara ini. Mungkin juga memperoleh untung dari penjualan tiket kereta, pesawat dan kapal laut, buat kepentingan orang-orang yang bergembira ini. Suasana tirakat tak boleh berlama-lama. Tuhan menghendaki segala yang mudah, sederhana dan kepenak, bagi hamba-hambaNya.


APA YANG KONKRIT ? 

 

Ilustrasi : Muara dari Pengembaraan Rohani, sumber di sini

Tapi persoalannya, jika puasa sebulan itu dianggap media latihan hidup asketik, pengerahan segenap kekuatan lahir dan batin untuk menangkap esensi serta makna ajaran suciNya, apakah kemudian yang kita bawa "pulang" ke dunia ini? Apa hasil pengembaraan rohaniah, yang bisa kongkret kita abdikan buat kepentingan kemanusiaan? Pertama-tama, barangkali harus diakui bahwa tak setiap hamba memang telah "berhasil" menghayati esensi ajaran yang terkandung dalam puasa. Mungkin kita ini masih pada tataran "burung nyayi": kita baru hapal, dan belum mengerti, seperti kata Kiai Dahlan tadi. Kita sibuk ngaji, sibuk bertilawatil Qur'an, mungkin kurang sibuk berbuat. Kecuali itu, dari tahun ke tahun, mungkin suasana "tirakat" dalam bulan puasa semakin nampak berubah.

Benar, kita masih fasih bicara solidaritas sosial, kita juga punya kepedulian terhadap kemiskinan, tapi bagaimanakah tindakan kita? Acara buka puasa menggejala di mana-mana. Acara-acara semacam itu sering berarti makan besar dan enak. Dan kita boleh bertanya pada diri sendiri, berapa puluh kalikah acara seperti itu kita hadiri selama sebulan itu? Atas nama kekeluargaan, kangen-kangenan antara sesama teman dalam organisasi ketika mahasiswa, kumpul tanpa suatu tujuan tertentu selain buka bersama, atau bahkan dengan motivasi bisnis, acara buka puasa bersama diadakan di hotel mewah. Tak jadi soal memang, karena kita makin makmur. Tapi "kita" di sini siapa gerangan orangnya? Nampaknya cuma kelas menengah dan atas. Dengan kata lain, golongan rakyat yang sehari penghasilannya 2-3 ribu, tak akan pernah ikut acara macam ini.


AJARAN BUKANLAH REALITAS TINDAKAN



Tak jadi soal juga memang, kalau kita tak ada kepedulian terhadap mereka. Tak jadi soal kalau kita tak belajar menaruh iba dan rasa kasih pada mereka yang di bawah, yang tertindas. Jarak antara sesama kita, sebenarnya jauh. Setidaknya, tak sedekat yang kita bayangkan. Dan tak sedekat yang kita gambarkan secara ideal bahwa tiap umat, menurut ajaran, satu sama lain adalah saudara. "Saudara yang bagaimana?" saya bertanya ...

Soal serius dalam hidup kita, umat, ialah bahwa kita lupa, ajaran itu bukan realitas. Tapi kita sudah puas dengan semua yang ideal. Dan berhentilah kita di tataran itu. Maka kita pun menyanyikan lagu bahwa agama memperhatikan yang miskin dan menyantuni yang yatim. Kita menyanyi dalam arti sebenarnya karena kita lupa bahwa agama di situ menuntut tindakan kita.

Ucapan "Selamat Lebaran" yang kita sampaikan pada mereka yang lebih miskin jadinya cuma ucapan kosong atau setengah kosong, karena tanpa kita sertai tindakan yang jelas bisa membebaskan mereka dari struktur yang mengurung dan memiskinkan mereka itu. Sebagai doa, ucapan kita jelas mulia. Tapi bagaimanapun, ia belum merupakan doa yang membebaskan.





Sumber : 
Mohammad Sobary
Jakarta Jakarta, No.300, 28 Maret- 3 April 1992
Read more ...

Kisah Tiga Orang Darwis

Kisah Tiga Orang Darwis



Ilustrasi Tiga Orang Darwis, sumber : di sini

Konon, ada tiga orang, mereka bernama Yak, Do, dan Se. Mereka masing-masing berasal dari Utara, Barat, dan Selatan. Mereka memiliki suatu hal yang sama: berusaha mencari Kebenaran Dalam, oleh karenanya mereka mencari Jalan.

Yang pertama, Yak-Baba, duduk dan merenung sampai kepalanya pening. Yang kedua, Do-Aghas tegak dengan kepala di bawah sehingga kakinya kaku. Yang ketiga, Se-Kalandar, membaca buku-buku sampai hidungnya mengeluarkan darah.

Akhirnya mereka memutuskan untuk berusaha bersama-sama.

Mereka mengundurkan diri ke tempat sunyi dan melakukan latihan bersama, mengharap agar ketiga kekuatan yang digabung akan cukup kuat untuk mendatangkan Kebenaran, yang mereka sebut Kebenaran Dalam.
-------------

Empat puluh hari empat puluh malam lamanya mereka bertahan menderita. Akhirnya, dalam pusaran asap putih muncullah kepala seorang lelaki yang sangat tua di hadapan mereka; tampaknya ia muncul dari tanah. "Apakah kau Kidir yang gaib itu, pemandu manusia?" tanya darwis pertama.
"Bukan, ia Kutub, Tiang Semesta," sahut yang kedua.
"Aku yakin, itu pasti tak lain salah seorang dari para Abdal. Orang-orang Yang Terubah," kata yang ketiga.

"Salah semua" teriak bayang-bayang itu keras-keras, "tetapi aku adalah apapun yang kau inginkan tentangku. Dan kini kalian menginginkan satu hal, yakni yang kau sebut Kebenaran Dalam?"

"Ya, O Guru," sahut mereka serentak.
"Pernahkah kalian mendengar peribahasa, ada banyak Jalan sebanyak hati manusia?" tanya kepala itu.

Bagaimanapun, inilah jalanmu:
"Darwis pertama akan mengembara melalui Negeri Orang Tolol; 
Darwis Kedua harus menemukan Cermin Ajaib; 
Darwis Ketiga harus meminta pertolongan Jin Pusaran Air."
Setelah berkata demikian, kepala itupun menghilang.
-----------------------------------------------------

Mereka bertiga membicarakan masalah itu, tidak hanya karena mereka memerlukan penjelasan lebih lanjut sebelum berangkat, tetapi juga karena meskipun mereka semua telah mengadakan latihan berbagai cara, masing-masing percaya bahwa hanya ada satu cara yakni caranya sendiri, tentu saja.

Dan kini, masing-masing tidak yakin benar bahwa caranya sendiri itu cukup berguna, meskipun boleh dikatakan telah mampu mendatangkan bayang-bayang yang baru saja mereka saksikan tadi, yang namanya sama sekali tidak mereka ketahui.
----------------------------------

Yak-Babalah pertama-tama meninggalkan tempat samadinya; biasanya ia akan bertanya kepada orang yang ditemuinya, apakah ada orang bijaksana yang tinggal dekat-dekat daerah itu; tetapi kini ia bertanya apakah mereka mengetahui Negeri Orang Tolol. Akhirnya setelah berbulan-bulan lamanya, ada juga yang tahu, dan berangkatlah ia menuju kesana. Segera setelah ia memasuki negeri itu, dilihatnya seorang wanita menggendong pintu.

"Wanita," tanyanya, "mengapa kau gendong pintu itu?"
"Sebab, pagi tadi, sebelum berangkat kerja, suamiku berpesan: "Istriku, di rumah kita ini tersimpan harta berharga. Jangan kau perbolehkan orang melewati pintu ini." Karena aku pergi, ku bawa pintu ini agar tidak ada yang melewatinya.

"Kini perkenankanlah saya melewatimu." "Apakah saya boleh menjelaskan sesuatu agar kau tahu bahwa sebenarnya tak perlu kau bawa kemana-mana pintu itu?" tanya Darwis Yak-Baba.

"Tidak usah," kata wanita itu. "Satu-satunya yang bisa menolong adalah apabila Saudara bisa menjelaskan cara memperingan bobot pintu ini."
"Wah, itu saya tidak tahu," kata Darwis. Dan mereka pun berpisah.


Beberapa langkah kemudian ia menjumpai sekelompok orang. Mereka semua gemetar ketakutan di depan sebuah semangka besar yang tumbuh di ladang. "Kami belum pernah melihat raksasa itu sebelumnya," mereka menjelaskan kepada Darwis itu, "dan tentunya ia akan tumbuh semakin besar dan membunuh kami semua. Tetapi kami takut menyentuhnya."
"Bolehkah saya mengatakan sesuatu kepada kalian tentang itu?" tanyanya kepada mereka.
"Jangan goblok!" jawab mereka. "Bunuhlah ia, dan kau akan diberi hadiah, tetapi kami tidak mau tahu apapun tentangnya." Maka Darwis itupun mengeluarkan pisau, mendekati semangka itu, memotong seiris, dan kemudian mulai memakannya. Di tengah-tengah jerit ketakutan yang hiruk-pikuk orang-orang itu memberinya uang.

Ketika ia pergi, mereka berkata, "Kami mohon jangan kembali kemari, Tuan Pembunuh Raksasa. Jangan datang kemari dan memakan kami seperti tadi!" Demikianlah, sedikit demi sedikit ia mengerti bahwa di Negeri Orang Tolol, agar bisa bertahan hidup, orang harus bisa berfikir dan berbicara seperti orang tolol.

Setelah beberapa tahun lamanya, ia mencoba mengubah beberapa orang tolol menjadi waras, dan sebagai hadiahnya pada suatu hari Darwis itu mendapatkan Pengetahuan Dalam. Meskipun ia menjadi orang suci di Negeri Orang Tolol, rakyat mengingatnya hanya sebagai Orang yang Membelah Raksasa Hijau dan Meminum Darahnya. Mereka mencoba melakukan hal yang sama, untuk mendapatkan Pengetahuan Dalam -- dan mereka tak pernah mendapatkannya.
------------------------------------------

Sementara itu, Do-Agha, Darwis Kedua, memulai perjalanannya mencari Pengetahuan Dalam. Kali ini ia tidak menanyakan tentang orang-orang suci atau cara-cara latihan yang baru, tetapi tentang Cermin Ajaib, Jawaban-jawaban yang menyesatkan sering didengarnya, namun akhirnya ia mengetahui tempat Cermin itu. Cermin itu tergantung di sumur pada seutas tali yang selembut rambut, dan sebenarnya hanya sebagian saja, sebab Cermin itu terbuat dari pikiran-pikiran manusia, dan tidak ada cukup pikiran untuk bisa membuatnya sebuah Cermin yang utuh.

Setelah itu ia berhasil menipu raksasa yang menjaganya, Do-Agha menatap Cermin itu dan meminta Pengetahuan Dalam.  Sekejap saja ia sudah memilikinya. Iapun tinggal di sebuah tempat dan mengajar dengan penuh kebahagiaan beberapa tahun lamanya. Tetapi pengikut-pengikutnya tidak bisa mencapai taraf pemusatan pikiran yang diperlukan untuk memperbaharui cermin itu secara teratur, cermin itu pun lenyaplah.
Namun, sampai hari ini masih ada orang-orang yang menatap cermin, membayangkan bahwa Cermin Ajaib Do-Agha, Sang Darwis.
------------------------

Sedangkan Darwis Ketiga, Se-Kalandar, ia pergi ke mana-mana mencari Jin Pusaran Air. Jin itu dikenal dengan pelbagai nama, namun Se-Kalandar tidak mengetahuinya; dan bertahun-tahun lamanya ia bersilang jalan dengan Jin itu, senantiasa gagal menemuinya karena Jin itu di sana tidak dikenal sebagai Jin dan mungkin tidak dikait-kaitkan dengan pusaran air.

Akhirnya, setelah bertahun-tahun lamanya, ia pergi ke sebuah dusun dan bertanya, "O Saudara-saudara! apakah ada diantara kalian yang pernah mendengar tentang Jin Pusaran Air?"
"Saya tak pernah mendengar tentang Jin itu," kata seseorang, "tetapi desa ini disebut Pusaran Air."

Darwis merubuhkan tubuhnya ke tanah dan berteriak, "Aku tak akan meninggalkan tempat ini sampai Jin Pusaran Air muncul di hadapanku!"

Dan Jin itu, yang sedang lewat dekat tempat itu, memutar langkahnya dan berkata, "Kami tidak menyukai orang asing di desa kami, darwis. Karena itu aku datang padamu. Nah, apa yang kau cari?" 

"Aku mencari Pengetahuan Dalam, dan aku diberi tahu bahwa dalam keadaan tertentu kau bisa mengatakan padaku bagaimana mendapatkannya."
"Tentu, aku bisa," kata Si Jin. "Kau telah mengalami banyak hal. Yang harus kau lakukan tinggal mengucapkan ungkapan ini, menyanyikan lagu itu, melakukan tindakan itu. Kau pun nanti akan mendapatkan Pengetahuan Dalam." 

Darwis itu mengucapkan terima kasih kepada Jin, lalu memulai latihannya.
Bulan-bulan berlalu, kemudian bertahun-tahun, sampai akhirnya ia berhasil melakukan pengabdian dan ketaatannya secara benar. Orang-orang datang dan menyaksikannya dan kemudian meniru-nirunya, karena semangatnya, dan karena ia dikenal sebagai orang yang taat dan saleh. Akhirnya Darwis itu mencapai Pengetahuan Dalam; jauh meninggalkan pengikut-pengikutnya yang setia, yang meneruskan cara-caranya.
Tentu saja mereka itu tidak pernah mencapai Pengetahuan Dalam, sebab mereka memulai pada akhir telaah Sang Darwis.
-------------

Setelah itu, apabila ada pengikut-pengikut ketiga Darwis itu bertemu, salah seorang berkata,
"Aku memiliki kaca Tataplah, dan kau akan mencapai Pengetahuan Dalam."

Yang lain menjawab, "Korbankan semangka, ia akan menolongmu seperti yang pernah terjadi atas Yak-Baba." 

Yang ketiga menyela, "Tak mungkin: Satu-satunya cara adalah tabah dalam mempelajari dan menyusun latihan tertentu, sembahyang, dan bekerja keras."
-----------------

Ketika pada kenyataannya ketiga Darwis itu berhasil mencapai Pengetahuan Dalam, mereka bertiga mengetahui bahwa tak mampu menolong mereka yang telah mereka tinggalkan di belakang: seperti ketika seorang terbawa oleh air pasang dan melihat di darat ada seorang diburu singa, dan tidak bisa menolongnya.



Catatan 
Petualangan-petualangan orang-orang ini nama-nama mereka berarti "satu," "dua" dan "tiga" --kadang-kadang diartikan sebagai ejekan terhadap agama yang lazim. Kisah ini merupakan ringkasan sebuah kisah ajaran yang terkenal, Apa yang Terjadi atas Mereka Bertiga."

Kisah ini dianggap sebagai ciptaan guru Sufi, Murad Shami, kepala Kaum Muradi, yang meninggal tahun 1719. Para darwis yang menceritakannya menyatakan bahwa kisah ini mempunyai pesan dalam yang jauh lebih penting dalam hal-hal praktis, daripada arti yang diluarnya saja.




Sumber :
Kisah-kisah Sufi
Kumpulan kisah nasehat para guru sufi selama seribu tahun yang lampau
Terjemahan Sapardi Djoko Damono
Penerbit Pustaka Firdaus, 1984.
Read more ...