GURU ZEN DAN SEORANG KRISTEN

Seorang Kristen suatu hari mengunjungi seorang Guru Zen dan berkata:

"Bolehkah aku membacakan beberapa kalimat dari Khotbah di Bukit?"

"Silahkan, dengan senang hati aku akan mendengarkannya," kata Guru Zen itu.

Orang Kristen itu membaca beberapa kalimat, lalu berhenti sejenak dan melihat Guru.
Guru tersenyum dan berkata: "Siapa pun yang pernah mengucapkan kalimat-kalimat ini, pastilah sudah mendapatkan penerangan budi."

 Ilustrasi Kotbah Tekstual, sumber: di sini


Orang Kristen senang. Ia meneruskan membaca.
Sang Guru menyela dan berkata: "Orang yang mengucapkan ajaran ini, sungguh dapat disebut Penyelamat dunia!"

Orang Kristen itu gembira ria. Ia terus membaca sampai habis.
Lalu sang Guru berkata: "Khotbah itu disampaikan oleh Seorang yang memancarkan cahaya ilahi."

Sukacita orang Kristen itu meluap-luap tanpa batas.
Ia minta diri dan bermaksud kembali untuk meyakinkan Guru Zen itu, agar ia sendiri sepantasnya menjadi seorang Kristen juga.

Dalam perjalanan pulang ke rumahnya, ia berjumpa dengan Kristus di pinggir jalan. "Tuhan," serunya dengan penuh semangat, "Saya berhasil membuat orang itu mengaku bahwa Engkau adalah Tuhan."

Yesus tersenyum dan berkata: "Apa gunanya hal itu bagimu, selain membesarkan ego Kristenmu?"


Sumber:
Burung Berkicau,
Anthony de Mello SJ,
Yayasan Cipta Loka Caraka,
Cetakan 7, 1994
Read more ...

Menemukan Allah

MENEMUKAN ALLAH



Ilustrasi Menemukan Allah Sumber: di sini


MUNGKINKAH ALLAH DITEMUKAN ?


Waktu itu,  waktu ceramah.
Sang Guru berkata,
"Kehebatan seorang komponis diketahui lewat nada-nada musiknya, tetapi menganalisis nada-nada saja tidak akan mengungkapkan kehebatannya. 
Keagungan penyair termuat dalam kata-katanya, namun mempelajari kata-katanya tidak akan mengungkapkan inspirasi 
Tuhan mewahyukan diri-Nya dalam ciptaan, tetapi dengan meneliti ciptaan secermat apa pun kamu tidak akan menemukan Allah; demikian juga bila kamu ingin menemukan jiwa melalui pemeriksaan cermat terhadap tubuhmu."


CARA MENEMUKAN ALLAH

 Pada waktu tanya jawab, seseorang bertanya, "Kalau begitu, bagaimana kami akan menemukan Allah?" "Dengan melihat ciptaan, tapi bukan dengan menganalisisnya."

"Dan bagaimana seseorang harus melihat?"
"Seorang petani keluar untuk melihat keindahan pada waktu matahari terbenam, tetapi yang ia saksikan hanyalah matahari, awan, langit, dan cakrawala - sampai ia memahami bahwa keindahan bukan 'sesuatu,' melainkan cara khusus melihat.

Kamu akan sia-sia mencari Allah sampai kamu memahami bahwa Allah tidak bisa dilihat sebagai sesuatu. Yang diperlukan ialah cara khusus untuk melihat - mirip seperti cara seorang anak kecil yang pandangannya tidak diganggu oleh pelbagai ajaran dan keyakinan yang telah dibentuk sebelumnya."





Sumber: 
Berbasa-basi Sejenak
Anthony de Mello SJ
Penerbit Kanisius
Cetakan 1, 1997
Read more ...

Gengsi

Gengsi

Sumber: di sini


Meskipun gengsi itu tidak enak dimakan, sering dalam hidup ini kita mati-matian memburunya. Demi gengsi orang bersedia melakukan apa saja, berapa pun besar ongkos dan risikonya. Banyak tindakan melawan hukum, tata susila dan moral, dilakukan demi mengejar gengsi. Lain orang lain pula simbol-simbol yang dipandang bergengsi.

Unsur etnis, kesukuan, agama, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, jenis kelamin dan tingkat usia seseorang, sering mewarnai perbedaan-perbedaan tadi. Unsur lokal (di daerah mana atau kompleks apa) seseorang tinggal, juga mempengaruhi corak perbedaan gengsi tadi. Di kompleks perumahan sederhana, orang masih bisa bangga betapa ia baru pulang dari Blok M membeli mesin cuci atau video. Pekerjaan "mulia" itu biasanya diemban oleh, maaf agak terus terang, kaum ibu.

Di kalangan sarjana, lain lagi ulah orang untuk menunjukkan gengsi ini. Pernah seorang doktor dari Indonesia memberi ceramah di Universitas Monash, Australia, di depan mahasiswa Indonesia. Dalam sepuluh dari tiga puluh menit ceramahnya ia sibuk bicara tentang dirinya, termasuk bahwa ia murid Ivan Illich dan Rostow yang beken itu. Arti simbolik dari "pidato"-nya itu pun merupakan usaha menunjukkan gengsi untuk menimbulkan efek "wah". Memang banyak orang terkesima mendengar murid Rostow itu bicara. Namun ada juga yang tampak gelisah. Saya malah mengantuk. Ketika ceramah selesai, orang pun menggerutu. Katanya, ceramahnya tidak bermutu. Saya tidak setuju. Mana bisa doktor tidak bermutu? "Kamu tidur kok bisa tidak setuju," gerutu salah seorang. Maksud saya, mutu sudah terang ada, cuma tak setinggi langit harapan kita. Memang salah para pendengar. Mereka terlalu banyak berharap. Orang sering keliru, dikiranya kualitas luar negeri (dan murid sarjana kenamaan) mesti hebat.

Sebenarnya, kita musti sepaham dulu dalam dua hal: bahwa kebesaran guru belum tentu merembes ke murid, dan bahwa doktor haruslah pertama-tama dilihat, apa boleh buat, cuma sebagai lambang selesainya sebuah proses administratif. Artinya, tak usah dulu bicara tentang kemampuan akademisnya. Namun, apa yang terjadi di sekitar kita memang lain. Kita terlanjur menilai, doktor itu sebuah gengsi akademis yang tinggi. Sikap seorang doktor dengan orang awam pun jadinya ada keserupaan. Mereka, pada dasarnya, kelewat bangga terhadap gengsi. Kenyataan tidak seimbangnya gelar dengan kemampuan akademis, atau, tak seimbangnya gengsi dengan esensinya sebagai seorang doktor, merupakan soal lain. Kita lihat saja, misalnya, betapa gigih mahasiswa sekadar mengejar lulus demi gelar. Jadi demi gengsi. Dan bukan memburu esensi.

Sudah barang tentu sikap mereka salah. Tapi kurang adil kita menimpakan kesalahan hanya pada para pemburu gengsi itu. Soalnya, mungkin kita semua punya kontribusi terhadap terbentuknya sikap dan orientasi hidup seperti itu. Mungkin kita semua sudah gila gengsi. Membanggakan mantan guru, almamater, jabatan, orang tua, atau gelar akademis, diam-diam lalu menjadi lumrah. Tidak punya kemandirian dianggap biasa. Jarang jadinya orang yang berani bersikap lugas, apa adanya. Kalau toh ada juga, itu sebuah kekecualian. 



Beberapa bulan lalu, saya berkenalan dengan seorang yang rambutnya mulai memutih. Saya sulit menduga sebagai apa dia. Dia hanya mengaku bekerja di sebuah departemen, yang saya tahu pusat penelitiannya baik. Tapi ketika saya tanya apakah dia peneliti, dengan datar dia menjawab: "Saya cuma birokrat." Tak ada kesan apa-apa di wajahnya. Di masyarakat kita, birokrat sering dipandang remeh. Setidak-tidaknya gelar birokrat tampak tak seluhur cendekiawan, dramawan, penyair atau ahli ini ahli itu. Citra birokrat terlanjur negatif. Pengakuan "saya cuma birokrat" itu lalu terasa mengesankan kegetiran. Tapi mungkin juga keberanian. Penasaran saya jadinya. Dari orang lain akhirnya saya tahu, dia bukan sembarang orang. Dia seorang Dirjen. Kabarnya, Menteri pernah menawarinya rumah di Menteng. Tapi dia menolak. Lebih suka dia tinggal di rumah sederhana yang dibelinya sendiri.

Sebagai birokrat, rumus kerjanya cuma dua: "Bikin tiap orang yang keluar dari kamarmu tersenyum bahagia. Jadikan jabatanmu sarana ngibadah (beribadah)". Saya kagum. Saleh orang ini. Tak banyak di negeri kita orang yang bicara tentang jabatan sebagai sarana ngibadah. Umumnya, jabatan dijadikan wahana mewujudkan impian-impian dan sarana menjunjung tinggi (secara sosial, ekonomi, dan politis) gengsi keluarga, anak cucu dan para cicit.




Sumber:
Mohammad Sobary
Suara Pembaruan, 18 Januari 1992
Read more ...

Terserah Tuhan

TERSERAH TUHAN

Ilustrasi Terserah Tuhan. Sumber: di sini


Hidup di zaman kebangkitan Islam (kalau benar konsep ini menggambarkan realitas sosial sekarang) memiliki persoalan tersendiri. Ke dalam lingkungan mana pun saya masuk, di sana saya jumpai orang yang semangat Islamnya menggelora.

Ketika di Universitas Muhammadiyah Jakarta saya diminta bicara di depan segenggam mahasiswa "penjaga mesjid", saya diingatkan agar lebih menguasai Islam secara tekstual. Karena, pendekatan saya, kata salah seorang dari mereka, bersifat "ilmu sosial" biasa. Bagi banyak pihak, yang bersifat formalis macam ini, sesuatu termasuk "agama" hanya bila ia diwarnai Quran dan Hadis. Dari tahun ke tahun, ada saja mahasiswa Indonesia, di Universitas Monash, yang bersemangat memburu daging halal. Dasarnya, daging di supermarket haram karena disembelih tidak dengan cara Islam. Penjelasan --bahwa makanan para ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) halal bagi Muslim-- tidak pernah laku.

Akhir-akhir ini, saya memberi ceramah. Tanpa menyebut sepotong pun ayat, saya bicara agama. Buat saya, agama terpancar dalam hidup, bukan dalam kitab. Saya tidak kitab minded, karena, agama lebih menuntut tindakan, bukan kecanggihan ilmu, dari pemeluknya. Kita bisa jadi pemeluk yang baik tanpa harus menjadi ahli. Persoalan muncul. Saya diultimatum oleh wanita berjilbab: "Lain kali, hati-hati. Kalau ceramah begitu di Indonesia bisa pulang tinggal nama."

Betapa mengerikannya. Memang, hanya orang yang paham yang tahu bahwa saya pun sebenarnya berpijak pada ayat Tuhan, yakni ayat kauniah yang tak disebutkan dalam kitab suci. Mas Djohan (Djohan Effendi) pernah bicara tentang guru yang membikin murid bertanya-tanya.

Saat pelajaran agama, anak-anak diajak membersihkan halaman, kamar mandi dan WC.

"Pak, katanya, pelajaran agama?" tanya seorang murid.
"Ya, ini juga pelajaran agama," kata Pak Guru, tenang.  
"Dasar teorinya: 'kebersihan adalah sebagian dari iman'.  
Nah, dengan tindakan tadi, kita buktikan, kita pun beriman.."
Anak-anak mesem.
Agama, dengan begitu, masih tetap agama biarpun tak diwarnai bunyi ayat-ayat dalam kitab suci.


Hardi itu lulusan PGA. Ia setengah kiai. Paham Quran dan Hadis. Bahkan, juga kitab kuning. Tapi, ia gelisah. Ada yang tak beres dalam hidupnya. Ia pun datang pada Pak Kiai, mohon petunjuk.
"Kamu tidak butuh kiai macam saya," kata Pak Kiai.
"Pergilah kamu pada Kamin."

Hardi kaget. Orang tahu, Kamin itu cuma tukang bakso. Tahu apa tukang bakso, yang tak pernah sekolah, tentang rahasia hidup? "Kiai gendeng," pikirnya.
"Tidak, saya serius, Nak," kata Pak Kiai.

Hardi sungkem. Seperti sujud, ia mencium dengkul Pak Kiai, sambil minta maaf atas 'gendeng'-nya tadi. Tapi, mengapa Kamin? Ia masih penasaran. Tentu saja, Pak Kiai bermaksud baik. Bukankah, kadang, kiai tak mau bicara langsung?

Dengan rumusan itu di kepala, ia pergi ke rumah Kamin.
Tak ada yang istimewa di sana, selain bahwa Kamin sekeluarga bekerja keras. Anak-anaknya dikerahkan untuk membantu mencuci gelas. Yang lain mengerok kelapa muda untuk campuran es. Yu Ginah, istrinya, menggoreng krupuk.

Setelah periksa sana periksa sini, Kamin ke warung kecil di depan rumahnya itu, melayani pembeli. Warung itu maju. Bakso, krupuk udang, dan es kelapa, jadi pasangan serasi. Pembeli berjejal. Anak-anak Kamin, empat orang, semua sekolah. Biayanya, ya, dari warung kecil itu. Biaya sekolah dari situ. Biaya hidup dari situ. Mereka hidup tentram.

Hardi mulai tertarik. Ia mencoba mengamati lebih dekat, lebih dalam. Setelah salat bersama pada suatu hari, mereka dialog.  Tapi, Kamin itu pendiam. Ia bicara sedikit.

"Apa doa kang Kamin sehabis salat?" tanya Hardi.
"Saya serahkan hidup ini pada Tuhan," jawabnya, polos.

"Warung Anda maju. Apa rahasianya?"
"Tidak ada. Semua terserah Tuhan."

"Anak-anak Anda sekolah. Apa rencana Anda untuk mereka?"
"Semua saya serahkan Tuhan."

"Maksudnya?"
"Saya orang bodoh, tidak tahu apa mereka bisa jadi pegawai, buruh, atau tukang bakso juga. Saya percaya, Tuhan mahapengatur. Jadi, semua terserah Tuhan."

Hardi pernah mendengar, orang barat yang mengagumi Soedjatmoko, menganggap bahwa almarhum adalah jenis orang yang belum dirusak oleh sistem pendidikan tinggi. Ia masih murni.

Kamin, si tukang bakso ini, iman dan takwanya juga murni, dan total.
Hardi sujud. Bijaksana Pak Kiai mengirim dia ke Kamin.  
Ketulusan macam Kamin itu, memang, yang belum dimilikinya selama ini.




Sumber: 
Mohammad Sobary
Editor, No.32/Thn.IV/27 April 1991
Read more ...

Doa Kang Suto

DOA KANG SUTO

Ilustrasi Doa Kang Suto.  Sumber: di sini


SEBELUM KANG SUTO MUNCUL


Pernah saya tinggal di Perumnas Klender. Rumah itu dekat mesjid yang sibuk. Siang malam orang pada ngaji. Saya tak selalu bisa ikut. Saya sibuk ngaji yang lain. Lingkungan sesak itu saya amati. Tak cuma di mesjid. Di rumah-rumah pun setiap habis magrib saya temui kelompok orang belajar membaca Al Quran. Anak-anak, ibu-ibu dan bapak-bapak, di tiap gang giat mengaji. Ustad pun diundang.

Di jalan Malaka bahkan ada kelompok serius bicara sufisme. Mereka cabang sebuah tarekat yang inti ajarannya berserah pada Tuhan. Mereka banyak zikir. Solidaritas mereka kuat. Semangat agamis, pendeknya, menyebar di mana-mana. Dua puluh tahun lebih di Jakarta, tak saya temukan corak hidup macam itu sebelumnya. Saya bertanya: gejala apa ini?

Saya tidak heran Rendra dibayar dua belas juta untuk membaca sajak di Senayan. Tapi, melihat Ustad Zainuddin tiba-tiba jadi superstar pengajian (ceramahnya melibatkan panitia, stadion, puluhan ribu jemaah dan honor besar), sekali lagi saya dibuat bertanya: jawaban sosiologis apa yang harus diberikan buat menjelaskan gairah Islam, termasuk di kampus-kampus sekular kita? Benarkah ini wujud santrinisasi?

Di Klender yang banyak mesjid itu saya mencoba menghayati keadaan. Sering ustad menasihati, "Hiasi dengan bacaan Quran, biar rumahmu teduh." Para "Unyil" ke mesjid, berpici dan ngaji. Pendeknya, orang seperti kemarok terhadap agama.


MUNCULNYA KANG SUTO


Dalam suasana ketika tiap orang yakin tentang Tuhan, muncul Kang Suto, sopir bajaj, dengan jiwa gelisah. Sudah lama ia ingin salat. Tapi salat ada bacaan dan doanya. Dan dia tidak tahu. Dia pun menemui pak ustad untuk minta bimbingan, setapak demi setapak.

Ustad Betawi itu memuji Kang Suto sebagai teladan. Karena, biarpun sudah tua, ia masih bersemangat belajar. Katanya, "Menuntut ilmu wajib hukumnya, karena amal tanpa ilmu tak diterima. Repotnya, malaikat yang mencatat amal kita cuma tahu bahasa Arab. Jadi wajib kita paham Quran agar amal kita tak sia-sia." Setelah pendahuluan yang bertele-tele, ngaji pun dimulai. Alip, ba, ta, dan seterusnya. Tapi di tingkat awal ini Kang Suto sudah keringat dingin. Digebuk pun tak bakal ia bisa menirukan pak ustad.

Di Sruweng, kampungnya, 'ain itu tidak ada. Adanya cuma ngain. Pokoknya, kurang lebih, ngain. "Ain, Pak Suto," kata Ustad Bentong bin H. Sabit. "Ngain," kata Kang Suto. "Ya kaga bisa nyang begini mah," pikir ustad. Itulah hari pertama dan terakhir pertemuan mereka yang runyem itu. Tapi Kang Suto tak putus asa. Dia cari guru ngaji lain. Nah, ketemu anak PGA. Langsung Kang Suto diajarinya baca Al-Fatihah. "Al-kham-du ...," tuntun guru barunya. "Al-kam-ndu ...," Kang Suto menirukan. Gurunya bilang, "Salah." "Alkhamdulillah ...," panjang sekalian, pikir gurunya itu. "Lha kam ndu lilah ...," Guru itu menarik napas. Dia merasa wajib meluruskan. Dia bilang, bahasa Arab tidak sembarangan. Salah bunyi lain arti. Bisa-bisa kita dosa karena mengubah arti Quran.

Kang Suto takut. "Mau belajar malah cari dosa," gerutunya. Ia tahu, saya tak paham soal kitab. Tapi ia datang ke rumah, minta pandangan keagamaan saya. "Begini Kang," akhirnya saya menjawab. "Kalau ada ustad yang bisa menerima ngain, teruskan ngaji. Kalau tidak, apa boleh buat. Salat saja sebisanya. Soal diterima tidaknya, urusan Tuhan. Lagi pula bukan bunyi yang penting. Kalau Tuhan mengutamakan ain, menolak ngain, orang Sruweng masuk neraka semua, dan surga isinya cuma Arab melulu." Kang Suto mengangguk-angguk.

Saya ceritakan kisah ketika Nabi Musa marah pada orang yang tak fasih berdoa. Beliau langsung ditegur Tuhan. "Biarkan, Musa. Yang penting ketulusan hati, bukan kefasihan lidahnya." "Sira guru nyong," (kau guruku) katanya, gembira. Sering kami lalu bicara agama dengan sudut pandang Jawa. Kami menggunakan sikap semeleh, berserah, pada Dia yang Mahawelas dan Asih. Dan saya pun tak berkeberatan ia zikir, "Arokmanirokim," (Yang Pemurah, Pengasih).


KALA KANG SUTO BERDOA


Suatu malam, ketika Klender sudah lelap dalam tidurnya, kami salat di teras mesjid yang sudah tutup, gelap dan sunyi. Ia membisikkan kegelisahannya pada Tuhan. "Ya Tuhan, adakah gunanya doa hamba yang tak fasih ini. Salahkah hamba, duh Gusti, yang hati-Nya luas tanpa batas ..." Air matanya lalu bercucuran. Tiba-tiba dalam penglihatannya, mesjid gelap itu seperti mandi cahaya. Terang-benderang. Dan kang Suto tak mau pulang. Ia sujud, sampai pagi ...




Sumber : 
Mohammad Sobary
Editor, No.21/Thn.IV/2 Februari 1991
Read more ...

Ayah dan Pici

AYAH DAN PICI


Ilustrasi Ayah dan Pici : Jawaharlal Nehru memakai Pici.  Sumber: di sini

AYAH


Manusia bukan gunung.  Ini pepatah Rusia yang saya dengar dalam film The Gulag Archipelago.  Artinya, manusia bisa berubah. Begitu juga Ayah.
Saya hidup dalam dunia kecil yang ruwet. Desa saya desa Muhammadiyah. Pengajian saya pun, di sore hari, Muhammadiyah; maka, jadilah saya anak Muhammadiyah. Ayah lain lagi. Ia sudah ada sebelum datang ke desa kami unsur pembaru itu.

Ia abangan. Apa boleh buat.
Abangan? Ia memang tak mendefinisikan diri begitu. Maka, baiknya diperjelas: ia tak salat lima waktu. Tapi ia pernah bertapa, seperti dilakukan Gusti Kanjeng Nabi Muhammad sebelum masa kenabiannya. Ayah juga mengajar saya berhenti makan sebelum terlalu kenyang seperti teladan Kanjeng Rasul. Dan ia pun doyan tirakat, seperti riadloh teman-teman NU di pesantren: makan cuma umbi-umbian, cegah daging, cegah garam. Dan melek malam. Wisdom-nya: jangan sebut keburukan orang. Lupakan kebaikanmu sendiri. Baginya, agama itu hidup. Kalau kita sudah mengerti makna hidup, baru kita paham apa itu agama

Ketika saya masih sembilan tahunan ia pernah menegur, "Untuk apa kamu jengkang-jengking (salat)? Tahu apa kamu?" Saya sedih. Di luar rumah, tahun 1960-an itu, teman-teman yang lebih dewasa bicara ideologi. Juga soal jihad, perang sabil, dan keluhuran agama. Tapi tiap lagu Genjer-Genjer dinyanyikan sebelum dan sesudah pertunjukan ketoprak, terasa di sana bagaimana pihak "musuh" meremehkan agama. Ada bahkan ketoprak dengan lakon: Patine Gusti Allah (Kematian Tuhan).

Di tengah kemiskinan yang mencekam, bicara tentang ideologi dan tentang kawan dan lawan memang terasa seperti jalan keluar yang baik. Ideologi membuat lupa bahwa sebetulnya kita lapar, dan bahwa kita tak mampu beli beras. Beras ibarat semahal emas. Kami makan bubur. Mungkin lebih tepat minum, sebab terlalu encer. Itu pun kadang kurang. Sering Ayah menahan diri dan tak makan. Hampir tiap malam Ibu tidur di lantai, di depan pintu, tanda prihatin. Menjelang tidur, Simbah selalu bicara tentang zaman normal, zaman lampau yang lebih baik, ketika Ayah masih anak-anak. Simbah, Ayah, dan Ibu percaya zaman susah itu akan berakhir segera setelah datang Ratu Adil suatu hari nanti. Saya tidak tahu Ratu Adil. Yang saya ketahui ialah bahwa saya takut. Sikap mereka, bicara setengah berbisik, bercerita setengah berharap, buat saya terasa seolah isyarat akan datangnya sesuatu yang lebih gawat.

Goro-goro, menurut orang Jawa, pertanda akan datangnya perubahan alam serta zaman. Dalam dunia wayang, setelah goro-goro di tengah malam itu, keluar Petruk, Semar, Gareng, Bagong: simbolisasi rakyat. Mereka mengawal, dan juga gigih membantu, satria utama menegakkan kebenaran. Gerakan 30 September PKI yang bikin bumi kita gonjang-ganjing, barangkali juga goro-goro itu. Pemerintahan diganti sesudahnya. Tatanan politik diubah. Pancasila dan UUD 45 dikedepankan. Partai politik dibuat sederhana. Dan kehidupan agama lebih semarak. Terbukti, ketakwaan kepada Tuhan jadi salah satu syarat pengangkatan seorang menteri.

Rapat-rapat raksasa dan ganyang ini ganyang itu harus juga menjadi jiwa dan semangat rakyat di zaman Orla dulu, tetapi deru "mesin" pembangunan Orba menggantikannya. Kurang lebih jargonnya berbunyi: partai/ideologi politik mengakibatkan perpecahan, pembangunan menghasilkan beras. Kongkret sekali. Keadilan sosial belum tercapai tak menjadi soal karena pembangunan belum selesai. Maka, rakyat harus membantu para "satria" mendorong roda pembangunan. Tiap suasana kritis, rakyat diminta mengetatkan sabuk. Ini demi pembangunan. Betul jihad itu bukan melulu berarti kibasan pedang dalam luapan rasa marah. Tapi kata itu telanjur tidak cocok buat alam pembangunan. Petugas KB malah diberi hak "mengintip" kamar tidur tiap pasangan suami-istri agar mereka tak terlalu banyak bersanggama. Alasannya pun jelas: lebih baik energi itu buat pembangunan.


AYAH DAN KEISLAMAN


Wajah Indonesia berubah cepat. Di sana-sini yang tampak cuma pembangunan dan pembangunan. Begitu juga wajah desa saya. Muhammadiyah makin gaya. Pembinaan umat meluas. Dan Ayah kini sembahyang. Ke sana kemari bersafari dan berpici. Seolah takut bahwa tanpa pici lalu bukan Islam. "Saya senang Ayah jadi santri," saya kasih komentar.

"Dari dulu, sebetulnya Ayah juga Islam," sahutnya. "Hanya dulu itu belum 'nglakoni' (menjalankan)." Dari dulu Islam? Saya tak mengerti. Dalam benak saya terpola rumusan Clifford Geertz: yang salat itu santri, yang tidak berarti abangan.

"Tidak begitu," kata Bambang Pranowo dalam disertasi doktornya di Universitas Monash Australia itu. "Keislaman bukan state of being. Ia state of becoming. Dikotomi santri abangan itu tidak tepat."

"Sekarang Ayah salat," Ayah menjelaskan, "tapi tetap seperti dulu: tak suka ideologi karena bikin ricuh, mengganggu stabilitas nasional," katanya lagi, persis pejabat, atau Pak Kades dalam film Si Unyil. Pendeknya, fenomena Ayah sembahyang pun ada kaitan dengan pembangunan.

Maka, malam itu saya pun salat habis-habisan. Saya cuma berdoa, semoga Ayah diangkat jadi menteri ... 




Sumber : 
Mohammad Sobary
Tempo, 31 Agustus 1991
Read more ...

Simbol

Sang Guru menyatakan bahwa dunia yang dilihat oleh kebanyakan orang bukan dunia Kenyataan, melainkan dunia yang diciptakan oleh pikiran mereka.

 

 

SIMBOL


Ilustrasi "Simbol".  Sumber: di sini



Ketika seorang ahli datang untuk berdebat soal itu, Sang Guru meletakkan dua batang korek api di atas lantai dalam bentuk huruf "T" dan bertanya,

"Apa yang kamu lihat di sini?"

"Huruf T," jawab ahli itu.

"Persis seperti yang saya pikirkan," kata Sang Guru.

"Tak ada huruf T; itu hanyalah sebuah simbol di kepalamu.

Apa yang kamu lihat di sini adalah dua potong kayu berbentuk batang."




Sumber: 
Berbasa-basi Sejenak
Anthony de Mello SJ
Penerbit Kanisius
Cetakan 1, 1997
Read more ...