Ayah dan Pici

AYAH DAN PICI


Ilustrasi Ayah dan Pici : Jawaharlal Nehru memakai Pici.  Sumber: di sini

AYAH


Manusia bukan gunung.  Ini pepatah Rusia yang saya dengar dalam film The Gulag Archipelago.  Artinya, manusia bisa berubah. Begitu juga Ayah.
Saya hidup dalam dunia kecil yang ruwet. Desa saya desa Muhammadiyah. Pengajian saya pun, di sore hari, Muhammadiyah; maka, jadilah saya anak Muhammadiyah. Ayah lain lagi. Ia sudah ada sebelum datang ke desa kami unsur pembaru itu.

Ia abangan. Apa boleh buat.
Abangan? Ia memang tak mendefinisikan diri begitu. Maka, baiknya diperjelas: ia tak salat lima waktu. Tapi ia pernah bertapa, seperti dilakukan Gusti Kanjeng Nabi Muhammad sebelum masa kenabiannya. Ayah juga mengajar saya berhenti makan sebelum terlalu kenyang seperti teladan Kanjeng Rasul. Dan ia pun doyan tirakat, seperti riadloh teman-teman NU di pesantren: makan cuma umbi-umbian, cegah daging, cegah garam. Dan melek malam. Wisdom-nya: jangan sebut keburukan orang. Lupakan kebaikanmu sendiri. Baginya, agama itu hidup. Kalau kita sudah mengerti makna hidup, baru kita paham apa itu agama

Ketika saya masih sembilan tahunan ia pernah menegur, "Untuk apa kamu jengkang-jengking (salat)? Tahu apa kamu?" Saya sedih. Di luar rumah, tahun 1960-an itu, teman-teman yang lebih dewasa bicara ideologi. Juga soal jihad, perang sabil, dan keluhuran agama. Tapi tiap lagu Genjer-Genjer dinyanyikan sebelum dan sesudah pertunjukan ketoprak, terasa di sana bagaimana pihak "musuh" meremehkan agama. Ada bahkan ketoprak dengan lakon: Patine Gusti Allah (Kematian Tuhan).

Di tengah kemiskinan yang mencekam, bicara tentang ideologi dan tentang kawan dan lawan memang terasa seperti jalan keluar yang baik. Ideologi membuat lupa bahwa sebetulnya kita lapar, dan bahwa kita tak mampu beli beras. Beras ibarat semahal emas. Kami makan bubur. Mungkin lebih tepat minum, sebab terlalu encer. Itu pun kadang kurang. Sering Ayah menahan diri dan tak makan. Hampir tiap malam Ibu tidur di lantai, di depan pintu, tanda prihatin. Menjelang tidur, Simbah selalu bicara tentang zaman normal, zaman lampau yang lebih baik, ketika Ayah masih anak-anak. Simbah, Ayah, dan Ibu percaya zaman susah itu akan berakhir segera setelah datang Ratu Adil suatu hari nanti. Saya tidak tahu Ratu Adil. Yang saya ketahui ialah bahwa saya takut. Sikap mereka, bicara setengah berbisik, bercerita setengah berharap, buat saya terasa seolah isyarat akan datangnya sesuatu yang lebih gawat.

Goro-goro, menurut orang Jawa, pertanda akan datangnya perubahan alam serta zaman. Dalam dunia wayang, setelah goro-goro di tengah malam itu, keluar Petruk, Semar, Gareng, Bagong: simbolisasi rakyat. Mereka mengawal, dan juga gigih membantu, satria utama menegakkan kebenaran. Gerakan 30 September PKI yang bikin bumi kita gonjang-ganjing, barangkali juga goro-goro itu. Pemerintahan diganti sesudahnya. Tatanan politik diubah. Pancasila dan UUD 45 dikedepankan. Partai politik dibuat sederhana. Dan kehidupan agama lebih semarak. Terbukti, ketakwaan kepada Tuhan jadi salah satu syarat pengangkatan seorang menteri.

Rapat-rapat raksasa dan ganyang ini ganyang itu harus juga menjadi jiwa dan semangat rakyat di zaman Orla dulu, tetapi deru "mesin" pembangunan Orba menggantikannya. Kurang lebih jargonnya berbunyi: partai/ideologi politik mengakibatkan perpecahan, pembangunan menghasilkan beras. Kongkret sekali. Keadilan sosial belum tercapai tak menjadi soal karena pembangunan belum selesai. Maka, rakyat harus membantu para "satria" mendorong roda pembangunan. Tiap suasana kritis, rakyat diminta mengetatkan sabuk. Ini demi pembangunan. Betul jihad itu bukan melulu berarti kibasan pedang dalam luapan rasa marah. Tapi kata itu telanjur tidak cocok buat alam pembangunan. Petugas KB malah diberi hak "mengintip" kamar tidur tiap pasangan suami-istri agar mereka tak terlalu banyak bersanggama. Alasannya pun jelas: lebih baik energi itu buat pembangunan.


AYAH DAN KEISLAMAN


Wajah Indonesia berubah cepat. Di sana-sini yang tampak cuma pembangunan dan pembangunan. Begitu juga wajah desa saya. Muhammadiyah makin gaya. Pembinaan umat meluas. Dan Ayah kini sembahyang. Ke sana kemari bersafari dan berpici. Seolah takut bahwa tanpa pici lalu bukan Islam. "Saya senang Ayah jadi santri," saya kasih komentar.

"Dari dulu, sebetulnya Ayah juga Islam," sahutnya. "Hanya dulu itu belum 'nglakoni' (menjalankan)." Dari dulu Islam? Saya tak mengerti. Dalam benak saya terpola rumusan Clifford Geertz: yang salat itu santri, yang tidak berarti abangan.

"Tidak begitu," kata Bambang Pranowo dalam disertasi doktornya di Universitas Monash Australia itu. "Keislaman bukan state of being. Ia state of becoming. Dikotomi santri abangan itu tidak tepat."

"Sekarang Ayah salat," Ayah menjelaskan, "tapi tetap seperti dulu: tak suka ideologi karena bikin ricuh, mengganggu stabilitas nasional," katanya lagi, persis pejabat, atau Pak Kades dalam film Si Unyil. Pendeknya, fenomena Ayah sembahyang pun ada kaitan dengan pembangunan.

Maka, malam itu saya pun salat habis-habisan. Saya cuma berdoa, semoga Ayah diangkat jadi menteri ... 




Sumber : 
Mohammad Sobary
Tempo, 31 Agustus 1991
Read more ...

Simbol

Sang Guru menyatakan bahwa dunia yang dilihat oleh kebanyakan orang bukan dunia Kenyataan, melainkan dunia yang diciptakan oleh pikiran mereka.

 

 

SIMBOL


Ilustrasi "Simbol".  Sumber: di sini



Ketika seorang ahli datang untuk berdebat soal itu, Sang Guru meletakkan dua batang korek api di atas lantai dalam bentuk huruf "T" dan bertanya,

"Apa yang kamu lihat di sini?"

"Huruf T," jawab ahli itu.

"Persis seperti yang saya pikirkan," kata Sang Guru.

"Tak ada huruf T; itu hanyalah sebuah simbol di kepalamu.

Apa yang kamu lihat di sini adalah dua potong kayu berbentuk batang."




Sumber: 
Berbasa-basi Sejenak
Anthony de Mello SJ
Penerbit Kanisius
Cetakan 1, 1997
Read more ...

Orang-orang Berjubah

Orang-orang Berjubah


ilustrasi Orang-orang Berjubah.  Sumber: di sini


Pintu flat saya diketuk. Dan, saya membukanya. Tiga orang berjubah hitam tampak di depan pintu.
Saya kaget. Apa salah saya, sampai orang-orang dari pengadilan datang kemari?
Bukan.

Ternyata, mereka orang-orang gereja. Yang di tangan mereka bukan kitab undang-undang, melainkan kitab suci. Ayem saya.

 "Are you Christian?" tanya salah seorang berjubah itu
"No, mate, I'm a Moslem."

Tak jadi soal. Mereka tetap mendakwahi saya. Disuruhnya saya membaca Bibel.
Saya merasa ditodong. Buat mereka, Bibel harus dibaca, sebab dunia ini rusak karena orang tak lagi membaca Bibel.

"Alangkah sepele sebab kerusakan dunia," pikir saya.
"Di dalam kitab ini, kunci keselamatan ditemukan," kata Christ yang brewok itu. Saya jadi takut. Keadaan kelihatannya genting. Namun, saya akui, uraiannya terlalu simplistik. Saya jadi mengerti, mengapa teman lain yang punya pengalaman serupa menggerutu. Tahulah saya, mengapa banyak orang menutup pintu bagi mereka.


Malam hari, saya suka datang ke Mesjid Noble Park. Semula, mesjid itu sebuah gereja. Karena sudah "bangkrut", gereja dijual. Orang-orang Polandia membelinya dan menjadikannya mesjid. Di mesjid itu, orang Polandia juga berjubah hitam. Mereka mengenakan sepatu waktu salat. Biasanya, selesai salat, tiap jemaah dilempari tasbih. Tampaknya, ada petugas yang khusus melempar-lempar. Suasananya enak. Tenang sekali buat berzikir.

Suatu malam, di tengah kenikmatan zikir itu, seorang berjubah menjawil. "My brother, where are you from?" tanyanya. "Indonesia." Diajaknya saya bicara Semangat brotherhood nya besar. Dia bertanya alamat di Indonesia. Juga, alamat di Australia.

Bagi brother dari Mesir ini, dunia juga rusak, karena orang terlalu mementingkan materi. Di Australia, misi yang dibawanya adalah "berjuang" mewujudkan tatanan Islami. Ia mengatakan, Islam itu sempurna. Paling sempurna. Dan, mudah. Sejauh orang menuruti jejak Kanjeng Nabi, hidup sudah beres. Tidak lupa pula, dia mengundang saya ke mesjid Preston, di mana saya bisa bertemu para brother muslim dari berbagai penjuru dunia.

Saya ingat, di Monash, banyak saya jumpai brother dari Malaysia yang punya semangat seperti itu. Mereka ini anggota Jami'atul Tabligh. Semangat mereka hebat dalam mengajak orang Islam untuk menjadi lebih Islam. Mereka fundamentalis.

Pandangan mereka juga simplistik. Kata-kata kunci mereka mudah diingat: dunia sudah rusak, muslim lain hanya sekumpulan domba yang sesat, dan tidak sempurna keislaman kita kalau kita tak berjenggot seperti mereka. Jadi, jenggot merupakan ukuran puritansi. Sebaliknya, kalau sudah seperti mereka, hidup akan amat mudah.

Salah seorang brother dari Malaysia ini meninggalkan istrinya di Malaysia. Saya tanya, apa tak "payah" hidup jauh dari istri. Dia tegar menjawab: "Allah will provide." Maksudnya, Allah akan menyediakan istri. Mereka membolehkan nikah mut'ah. Ketika itu, saya masih tinggal di hall yang mahal. Tapi, saya bilang, sulit mencari flat yang murah. "Allah will provide," katanya lagi. Tiap soal dijawab: "Allah will provide."

Pintu flat saya diketuk. Dan, saya membukanya. Di depan pintu, tampak orang-orang berjubah. Mereka bukan orang-orang dari gereja, melainkan dari mesjid. Satu orang saya kenal, karena pernah bertemu di Mesjid Noble Park. Mereka datang bersilaturahmi. Saya lega. Namun, ketika mereka bicara bahwa dunia sudah rusak, saya gelisah. Saya khawatir "khotbah" mereka berkepanjangan. Syukurlah, mereka segera tancap gas.

Di Pamulang, saya bertemu dengan orang-orang berjubah juga. Mereka jemaah Darul Arqam. Sambil meneliti, saya mengaji bersama mereka. Bagi mereka, dunia juga sudah rusak, karena kita kena penyakit "cinta dunia". Menurut mereka, sakit itu bisa diobati dengan tatanan Islami. Macam apa? Seperti contoh Kanjeng Nabi. Bagi mereka, jenggot dan jubah juga simbol keislaman. Di mana-mana, orang bicara bahwa "dunia sudah rusak".



Di mana-mana, orang bicara puritansi. Kritik saya sederhana: mereka lupa membedakan agama dari kebudayaan Arab dan Islam dicampur-aduk. Dikiranya, baru sah Islam kita kalau kita sudah "Arab". Mereka menolak iman yang tidak tampil dalam "wajah" Arab.

Pintu flat saya diketuk. Dan, saya membukanya. Orang-orang berjubah dari gereja dan dari mesjid hari Minggu itu datang bersama. Flat saya yang kecil itu menjadi gereja sekaligus mesjid. Saya tak setuju dengan pandangan keagamaan mereka. Tapi, bagaimanapun, melihat semangat dan ketulusan mereka, saya menaruh rasa hormat. Saya tetap bersikap baik. Sebab, siapa tahu --kalau benar mereka ini "penyelamat" dunia, seperti Kanjeng Nabi Nuh AS-- saya bisa menumpang selamat di perahu mereka.




Sumber : 
Mohammad Sobary Editor, No.30/Thn.IV/6 April 1991
Read more ...

Pengaruh Spiritualitas

PENGARUH SPIRITUALITAS


 Ilustrasi Pengaruh Spiritualitas.  Sumber : di sini
 

"Sebutkan satu pengaruh praktis dan nyata dari spiritualitas," kata seorang skeptis yang siap berdebat.

"Salah satunya ialah," kata Sang Guru,
"ketika seseorang menyerang kamu, kamu dapat membangkitkan rohmu ke ketinggian  yang tidak dapat dicapai oleh serangan mana pun."



Sumber : 
Berbasa-basi Sejenak
Anthony de Mello SJ
Cetakan 1, 1997
Penerbit Kanisius
Read more ...

Tidak Bekerja Tidak ada Makanan

TIDAK BEKERJA TIDAK ADA MAKANAN



Ilustrasi Tidak Bekerja Tidak ada Makan.  Sumber: di sini



GURU ZEN YANG TERBIASA BEKERJA BERSAMA MURID-MURIDNYA

 

Hyakujo, seorang guru Zen berkebangsaan China, terbiasa bekerja beserta dengan murid-muridnya .
Bahkan pada usianya yang sudah delapan puluh tahun, memangkas rumput taman, membersihkan halaman, dan merapikan tanaman.  

Para muridnya merasa tidak tega melihat guru mereka yang telah tua renta masih bekerja berat, tetapi mereka tahu bahwa guru mereka tidak akan mendengarkan nasihat untuk berhenti bekerja, sehingga mereka menyembunyikan perkakas kerjanya.
 
Pada hari itu, guru mereka tidak makan. Hari berikutnya juga, dan demikian pula dengan keesokan harinya lagi. "Ia mungkin marah karena kita menyimpan perkakasnya," duga murid-muridnya. "Sebaiknya kita kembalikan lagi perkakasnya itu."  


MAKAN ADALAH MEMENUHI KEBUTUHAN ENERGI UNTUK KERJA


Setelah mereka mengembalikannya, guru mereka kembali bekerja dan makan sebagaimana sebelumnya. Pada malam hari, ia menginstruksikan mereka, "Tidak bekerja, tidak ada makanan."



Sumber :
Daging Zen Tulang Zen
Bunga Rampai Karya Tulis Pra-Zen dan Zen
Dikumpulkan oleh: Paul Reps Edisi Keenam Oktober 1996
Yayasan Penerbit Karaniya
Read more ...

Filsafat

Filsafat

Pengantar ...
Filsafat, terutama Filsafat Barat muncul di Yunani semenjak kira-kira abad ke 7 S.M.. Filsafat muncul ketika orang-orang mulai memikirkan dan berdiskusi akan keadaan alam, dunia, dan lingkungan di sekitar mereka dan tidak menggantungkan diri kepada agama lagi untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini.

Banyak yang bertanya-tanya mengapa filsafat muncul di Yunani dan tidak di daerah yang beradab lain kala itu seperti Babilonia, Yudea (Israel) atau Mesir.  Jawabannya sederhana: di Yunani, tidak seperti di daerah lain-lainnya tidak ada kasta pendeta sehingga secara intelektual orang lebih bebas.

Orang Yunani pertama yang bisa diberi gelar filsuf ialah Thales dari Mileta, sekarang di pesisir barat Turki. Tetapi filsuf-filsuf Yunani yang terbesar tentu saja ialah: Sokrates, Plato dan Aristoteles. Sokrates adalah guru Plato sedangkan Aristoteles adalah murid Plato. Bahkan ada yang berpendapat bahwa sejarah filsafat tidak lain hanyalah “Komentar-komentar karya Plato belaka”. Hal ini menunjukkan pengaruh Plato yang sangat besar pada sejarah filsafat. Buku karangan plato yg terkenal adalah berjudul "etika, republik, apologi, phaedo, dan krito".

Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar. Filsafat tidak didalami dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan masalah secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu. Akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektika.

Untuk studi falsafi, mutlak diperlukan logika berpikir dan logika bahasa. Dialektik (Dialektika) berasal dari kata dialog yang berarti komunikasi dua arah, istilah ini telah ada sejak masa yunani kuno ketika diintrodusir pemahaman bahwa segala sesuatu berubah (panta rei). Kemudian Hegel menyempurnakan konsep dialektika dan menyederhanakannya dengan memaknai dialektika ke dalam trilogi tesis, anti-tesis dan sintesis (gabungan tesis dan antitesis). Menurut Hegel tidak ada satu kebenaran yang absolut karena berlaku hukum dialektik, yang absolut hanyalah semangat revolusionernya (perubahan / pertentangan atas tesis oleh anti-tesis menjadi sintesis). Menurut Tan Malaka dalam bukunya yang berjudul Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika) dialektika mengandung 4 hal : Waktu; Pertentangan; Timbal balik; dan Seluk-beluk (pertalian).

Logika merupakan sebuah ilmu yang sama-sama dipelajari dalam matematika dan filsafat. Hal itu membuat filasafat menjadi sebuah ilmu yang pada sisi-sisi tertentu berciri eksak di samping nuansa khas filsafat, yaitu spekulasi, keraguan, rasa penasaran dan ketertarikan. Filsafat juga bisa berarti perjalanan menuju sesuatu yang paling dalam, sesuatu yang biasanya tidak tersentuh oleh disiplin ilmu lain dengan sikap skeptis yang mempertanyakan segala hal.

Kata filsafat atau falsafah dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab yang juga diambil dari bahasa Yunani; philosophia. Dalam bahasa ini, kata ini merupakan kata majemuk dan berasal dari kata-kata (philia = persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia = "kebijaksanaan"). Sehingga arti harafiahnya adalah seorang “pencinta kebijaksanaan”. Kata filosofi yang dipungut dari bahasa Belanda juga dikenal di Indonesia. Bentuk terakhir ini lebih mirip dengan aslinya. Dalam bahasa Indonesia seseorang yang mendalami bidang falsafah disebut "filsuf".

Dewasa ini filsafat biasa dibagi menjadi dua kategori besar menurut wilayah dan menurut latar belakang agama. Hal ini disebabkan karena dalam membangun tradisi filsafat banyak orang mengajukan pertanyaan yang sama , menanggapi, dan meneruskan karya-karya pendahulunya sesuai dengan latar belakang budaya, bahasa, bahkan agama tempat tradisi filsafat itu dibangun. Oleh karena itu, filsafat biasa diklasifikasikan menurut daerah geografis dan latar belakang budayanya. Menurut wilayah, filsafat bisa dibagi menjadi: filsafat barat, filsafat timur, dan filsafat Timur Tengah. Sementara, menurut latar belakang agama, filsafat dibagi menjadi: filsafat Islam, filsafat Budha, filsafat Hindu, dan filsafat Kristen.

Filsafat Timur adalah tradisi falsafi yang terutama berkembang di Asia, khususnya di India, Republik Rakyat Tiongkok dan daerah-daerah lain yang pernah dipengaruhi budayanya. Sebuah ciri khas Filsafat Timur ialah dekatnya hubungan filsafat dengan agama. Meskipun hal ini kurang lebih juga bisa dikatakan untuk Filsafat Barat, terutama di Abad Pertengahan, tetapi di Dunia Barat filsafat ’an sich’ masih lebih menonjol daripada agama. Nama-nama beberapa filsuf Timur, antara lain Sidharta Budha Gautama/Budha, Bodhidharma, Lao Tse, Kong Hu Cu, Zhuang Zi dan juga Mao Zedong.

Filsafat Barat adalah ilmu yang biasa dipelajari secara akademis di universitas-universitas di Eropa dan daerah-daerah jajahan mereka. Filsafat ini berkembang dari tradisi filsafat orang Yunani kuno. Tokoh utama filsafat Barat antara lain Plato, Thomas Aquinas, Réne Descartes, Immanuel Kant, Georg Hegel, Arthur Schopenhauer, Karl Heinrich Marx, Friedrich Nietzsche, dan Jean-Paul Sartre. Dalam tradisi filsafat Barat, dikenal adanya pembidangan dalam filsafat yang menyangkut tema tertentu. Dalam tradisi filsafat Barat, dikenal adanya pembidangan dalam filsafat yang menyangkut tema tertentu. Pembidangan yang dikenal dalam filsafat Barat, meliputi : Metafisika, yang mengkaji hakikat segala yang ada. Dalam bidang ini, hakikat yang ada dan keberadaan (eksistensi) secara umum dikaji secara khusus dalam Ontologi. Adapun hakikat manusia dan alam semesta dibahas dalam Kosmologi.

Dalam metafisika sendiri ada berbagai perbedaan teori-teori filsafat. Idealisme, misalnya, adalah keyakinan bahwa realitas yang dibangun mental atau material sementara realisme menyatakan bahwa realitas, atau setidaknya beberapa bagian dari itu, ada secara independen dari pikiran. Idealisme subyektif menggambarkan objek sebagai tidak lebih dari koleksi atau "bundel" dari data yang masuk dalam perseptor. Filsuf abad ke-18 George Berkeley berpendapat bahwa keberadaan secara mendasar terkait dengan persepsi dengan kalimat Esse est aut percipi aut percipere atau "Untuk menjadi yang dirasakan atau melihat". Selain pandangan tersebut, ada juga dikotomi ontologis dalam metafisika antara konsep khusus dan universal. Khusus adalah benda-benda yang dikatakan ada dalam ruang dan waktu, sebagai lawan dari benda-benda abstrak, seperti nomor. Universal adalah sifat yang dimiliki oleh beberapa hal khusus, seperti kemerahan atau gender. Jenis eksistensi, jika ada, universal dan benda-benda abstrak adalah masalah perdebatan serius dalam filsafat metafisik. Realisme adalah posisi filosofis universal yang pada kenyataannya memang ada, sementara nominalisme adalah negasi, atau penolakan universal, benda abstrak, atau keduanya. Konseptualisasi menyatakan bahwa universal ada, tetapi hanya dalam persepsi pikiran.

Epistemologi mengkaji tentang hakikat dan wilayah pengetahuan (episteme secara harafiah berarti “pengetahuan”). Epistemologi membahas berbagai hal tentang pengetahuan seperti batas, sumber, serta kebenaran suatu pengetahuan. Skeptisisme adalah posisi yang mempertanyakan kemungkinan yang benar-benar membenarkan kebenaran apapun. Argumen regresi, masalah mendasar dalam epistemologi, terjadi ketika untuk benar-benar membuktikan pernyataan apapun, pembenaran itu sendiri perlu didukung oleh pembenaran lain. Rasionalisme adalah penekanan pada penalaran sebagai sumber pengetahuan. Empirisme adalah penekanan pada bukti pengamatan melalui pengalaman indrawi atas bukti lain sebagai sumber pengetahuan. Parmenides (fl. 500 SM) berpendapat bahwa tidak mungkin untuk meragukan dari berpikir yang benar-benar terjadi. Tapi berpikir harus memiliki objek, oleh karena itu sesuatu yang melampaui pemikiran benar-benar ada.

Aksiologi membahas masalah nilai atau norma yang berlaku pada kehidupan manusia. Dari aksiologi lahirlah dua cabang filsafat yang membahas aspek kualitas hidup manusia: Etika dan estetika Etika Etika, atau filsafat moral, membahas tentang bagaimana seharusnya manusia bertindak dan mempertanyakan bagaimana kebenaran dari dasar tindakan itu dapat diketahui. Beberapa topik yang dibahas di sini adalah soal kebaikan, kebenaran, tanggung jawab, suara hati, dan sebagainya. Estetika membahas mengenai keindahan dan implikasinya pada kehidupan. Dari estetika lahirlah berbagai macam teori mengenai kesenian atau aspek seni dari berbagai macam hasil budaya.

Filsafat Timur Tengah dilihat dari sejarahnya merupakan para filsuf yang bisa dikatakan juga merupakan ahli waris tradisi Filsafat Barat. Sebab para filsuf Timur Tengah yang pertama-tama adalah orang-orang Arab atau orang-orang Islam dan juga beberapa orang Yahudi, yang menaklukkan daerah-daerah di sekitar Laut Tengah dan menjumpai kebudayaan Yunani dengan tradisi falsafah mereka. Lalu mereka menterjemahkan dan memberikan komentar terhadap karya-karya Yunani. Bahkan ketika Eropa setalah runtuhnya Kekaisaran Romawi masuk ke Abad Pertengahandan melupakan karya-karya klasik Yunani, para filsuf Timur Tengah ini mempelajari karya-karya yang sama dan bahkan terjemahan mereka dipelajari lagi oleh orang-orang Eropa. Nama-nama beberapa filsuf Timur Tengah adalah Ibnu Sina, Ibnu Tufail, Kahlil Gibran dan Averroes.

Filsafat Islam merupakan filsafat yang seluruh cendekianya adalah muslim. Ada sejumlah perbedaan besar antara filsafat Islam dengan filsafat lain. Pertama, meski semula filsuf-filsuf muslim klasik menggali kembali karya filsafat Yunani terutama Aristoteles dan Plotinus, namun kemudian menyesuaikannya dengan ajaran Islam. Kedua, Islam adalah agama tauhid. Maka, bila dalam filsafat lain masih 'mencari Tuhan', dalam filsafat Islam justru Tuhan 'sudah ditemukan, dalam arti bukan berarti sudah usang dan tidak dibahas lagi, namun filsuf islam lebih memusatkan perhatiannya kepada manusia dan alam, karena sebagaimana kita ketahui, pembahasan Tuhan hanya menjadi sebuah pembahasan yang tak pernah ada finalnya.

Filsafat Kristen mulanya disusun oleh para bapa gereja untuk menghadapi tantangan zaman di abad pertengahan. Saat itu dunia barat yang Kristen tengah berada dalam zaman kegelapan (dark age). Masyarakat mulai mempertanyakan kembali kepercayaan agamanya. Filsafat Kristen banyak berkutat pada masalah ontologis dan filsafat ketuhanan. Hampir semua filsuf Kristen adalah teologian atau ahli masalah agama. Sebagai contoh: Santo Thomas Aquinas dan Santo Bonaventura.

-----------------------


Catatan Pengantar :

Page ini lebih mengkhususkan pada 'Filsafat Terbuka' -- filsafat dengan spirit meragukan, skeptis, sehingga mempertanyakan segala-sesuatu, ... suatu wahana permainan menuju 'kedalaman', sehingga 'Filsafat Tertutup' semacam 'Filsafat Agama' dengan 'Premis awal' "Tuhan pasti ada" itu -- 'tidak diterima' di Page ini.

Tenang, jangan esmosi dulu, he he, maksudnya tidak dimasukkan ke Page Filsafat ini, tapi masuknya ke page Sufisme. 

Bagi yang berminat menceburkan diri ke ranah filsafat, berselancar di ranah 'logika tanpa batas', silahkan masuk ke: Daftar Tulisan Filsafat ... (maaf, masih under construction, he he)


dan selamat menikmati perjalanan menuju kedalaman, mengasah metodenya, dan memanfaatkan Filsafat untuk menerangi kehidupan ...

Salam Hangat,



Thomas Pras


Sumber : Wikipedia, Filsafat
Read more ...

Kang Sejo Melihat Tuhan

KANG SEJO MELIHAT TUHAN

 
Ilustrasi Kang Sejo Meliha Tuhan . Sumber: di sini


ANTARA BERAGAMA & BERKETUHANAN


Bukan salah saya kalau suatu hari saya ceramah agama di depan sejumlah mahasiswa Monash yang, satu di antaranya, Islamnya menggebu. Artinya, Islam serba berbau Arab. Jenggot mesti panjang. Ceramah mesti merujuk ayat, atau Hadis. Lauk mesti halal meat. Dan, semangat mesti ditujukan buat meng-Islam-kan orang Australia. Tanpa itu semua jelas tidak Islami.

Saya pun dicap tidak Islami. Iman saya campur aduk dengan wayang. Dus, kalau pakai kaca mata Geertz, seislam-islamnya saya, saya ini masih Hindu. Memang salah saya, sebab ketika itu saya main ibarat: Gatutkaca itu sufi. Ia satria-pandita. Tiap saat seperti tidur, padahal berzikir qolbi. Jasad di bumi, roh menemui Tuhan. Ini turu lali, mripat turu, ati tangi: mata tidur hati melek, seperti olah batin dalam dunia kaum sufi. Biar masih muda, hidup Gatutkaca seimbang, satu kaki di dunia satu lagi di akhirat. Mirip Nabi Daud: hari ini puasa, sehari esoknya berbuka. Dan saya pun dibabat ...

Juli tahun lalu saya dijuluki Gus Dur sebagai orang yang doanya pendek. Bukan harfiah cuma berdoa sebentar. Maksudnya, tak banyak doa yang saya hafal. Namun, yang tak banyak itu saya amalkan. "Dan itu betul. Artinya, banyak ilmu ndak diamalkan buat apa?" kata Pak Kiai sambil bergolek-golek di Hotel Sriwedari, Yogya.

Apa yang lebih indah dalam hidup ini, selain amal yang memperoleh pengakuan Romo Kiai? Saya merasa hidup jadi kepenak, nikmat. Dalam deretan Sufi, Al Adawiah disebut "raja." Wanita ini hamba yang total. Hidupnya buat cinta.
Gemerlap dunia tak menarik berkat pesona lain: getaran cinta ilahi. Pernah ia berkata, "Bila Kau ingin menganugerahi aku nikmat duniawi, berikan itu pada musuh-musuh-Mu. Dan bila ingin Kau limpahkan padaku nikmat surgawi, berikanlah pada sahabat-sahabat-Mu. Bagiku, Kau cukup." 
Ini tentu berkat ke-"raja"-annya. Lumrah.


KANG SEJO YANG SEDERHANA


Lain bila itu terjadi pada Kang Sejo. Ia tukang pijit -maaf, Kang, saya sebut itu- tunanetra. Kang Sejo pendek pula doanya. Bahasa Arab ia tak tahu. Doanya bahasa Jawa: Gusti Allah ora sare (Allah tak pernah tidur): potongan ayat Kursi itu. Zikir ia kuat. Soal ruwet apa pun yang dihadapi, wiridannya satu: "Duh, Gusti, Engkau yang tak pernah tidur ..." Cuma itu.

"Memang sederhana, wong hidup ini pun dasarnya juga sederhana," katanya, sambil memijit saya. Saya tertarik cara hidupnya. Saya belajar. Guru saya ya orang macam ini, antara lain. Rumahnya di Klender. Kantornya, panti pijat itu, di sekitar Blok M. Ketika saya tanya, apa yang dilakukannya di sela memijit, dia bilang, "Zikir Duh, Gusti ..." Di rumah, di jalan, di tempat kerja, di mana pun, doanya ya Duh, Gusti ... itu. Satu tapi jelas di tangan.
"Berapa kali Duh Gusti dalam sehari?" tanya saya. "Tidak saya hitung."
"Lho, apa tak ada aturannya? Para santri kan dituntun kiai, baca ini sekian ribu, itu sekian ribu," kata saya
"Monggo mawon (ya, terserah saja)," jawabnya.
"Tuhan memberi kita rezeki tanpa hitungan, kok.
Jadi, ibadah pun tanpa hitungan."
"Sampeyan itu seperti wali, lo, Kang," saya memuji.
"Monggo mawon. Ning (tapi) wali murid." Dia lalu ketawa.

Diam-diam ia sudah naik haji. Langganan lama, seorang pejabat, mentraktirnya ke Tanah Suci tiga tahun yang lalu. 'Senang sampeyan, Kang, sudah naik haji?" "Itu kan rezeki. Dan rezeki datang dari sumber yang tak terduga," katanya. "Ayat menyebutkan itu, Kang." "Monggo mawon. Saya tidak tahu." Ketularan bau Arab, saya tanya kenapa doanya bahasa Jawa. "Apa Tuhan tahunya cuma bahasa Arab?" "Kalau sampeyan Dah Duh Gusti di bis apa penumpang lain ..."
"Dalam hati, Mas. Tak perlu diucapkan."


KISAH KANG SEJO MELIHAT TUHAN


Ia, konon, pernah menolak zakat dari seorang tetangganya. Karena disodor-sodori, ia menyebut, "Duh, Gusti, yang tak pernah tidur ..." Pemberi zakat itu, entah bagaimana, ketakutan. Ia mengaku uang itu memang kurang halal. Ia minta maaf.
"Mengapa sampeyan tahu uang zakat itu haram"? tanya saya.
"Rumah saya tiba-tiba panas. Panaaaas sekali."
"Kok sampeyan tahu panas itu akibat si uang haram?"
"Gusti Allah ora sare, Mas," jawabnya.

Ya, saya mengerti, Kang Sejo. Ibarat berjalan, kau telah sampai. Dalam kegelapan matamu kau telah melihatNya. Dan aku? Aku masih dalam taraf terpesona. Terus-menerus






Sumber : 
Mohammad Sobary
Tempo, 12 Januari 1991
Read more ...