Sendal Jepit Kesederhanaan

Sendal Jepit Kesederhanaan

 

Ilustrasi Sendal Jepit

 

Mungkin ada pesona tertentu yang menghubungkan rohani para penyair. Setahu saya, ada dua penyair yang terpesona pada kesederhanaan. 

Yang satu Taufiq Ismail. Yang satu lagi Emha Ainun Nadjib. 


Bulan Juni, 1979, ketika Ki Mohamad Said Reksohadiprodjo meninggal dunia, Taufiq terharu. Ia merasa kehilangan. Ia lalu menulis sajak, buat mengenang orang tua sederhana tapi memancarkan kewibawaan itu. Yang paling pertama ia ingat tentang orang tua itu ialah sandal jepitnya, yang selalu berbunyi soh, soh, soh, menggosok debu Jakarta, menggosok debu Indonesia. Di rumahnya, Taufiq mencari sepatu lari, yang ia beli di negara dunia kesatu. Harganya, tentu saja, mahal. Dan itu membuat Taufiq malu mengenang kesederhanaan Ki Mohamad Said. Penyair ini silau melihat kehidupan orang tua itu.

Ketika Mohamad Kasim Arifin, mahasiswa IPB yang selama 15 tahun "menghilang" di Waimital, P. Seram, kembali ke IPB dengan kisah suksesnya membantu petani transmigran yang miskin, Taufiq juga terharu. Kasim, sahabatnya itu, meraih keberhasilan dengan swadaya, tanpa sepeser pun bantuan dana dari pemerintah. Begitu melihat dirinya sendiri, seorang dokter hewan yang hanya bersyair-syair saja kerjanya (begitulah diakuinya dalam sajaknya untuk mengenang Mohamad Kasim Arifin), ia merasa perlu menyembunyikan wajahnya menyembul di kali Ciliwung itu. Kasim yang hidupnya tak gemerlapan itu pun, seperti halnya Ki Mohamad Said, membuatnya merasa malu, risi, dan bersalah. Getaran apakah yang membuat kita bisa merasa risau dan terpojok tak berdaya seperti itu? Mungkin cuma Taufiq sendiri yang tahu jawaban persisnya. Tapi, saya kira Taufiq mengharapkan agar kita punya lebih banyak lagi tokoh seperti Ki Mohamad Said dan Kasim Arifin. Ia, dengan kata lain, tak ingin melihat Ki Mohamad Said berangkat meninggalkan kita. Kematian memang sering bisa memberikan kenangan seperti itu. Dan, celakanya, kita seperti baru sadar, bahwa orang seperti itu penting dan kita perlukan.

Dalam "Sajak-sajak Sederhana"-nya, nampak bagaimana penyair Emha Ainun Nadjib gandrung pada kesederhanaan itu. 

"Tuhanku" katanya. "Ambillah aku sewaktu-waktu. Kematianku kehendak sederhana saja. Orang-orang menguburku hendaknya juga dengan sederhana saja."

Barangkali, ini pesan Emha. Tapi barangkali juga salah satu cermin dari pergulatan batinnya sebagai seorang seniman. Seperti Taufiq Ismail, Emha Ainun Nadjib juga kuat memperlihatkan pada kita pemihakannya pada nilai kesederhanaan.


Ketika Soedjatmoko meninggal dunia, Emha juga menulis kenangan. Ada sesuatu yang ia kagumi pada diri intelektual beken itu. Oleh karena itu, tak segan ia menyebut Soedjatmoko sebagai ulama. Benar, kata Arab itu artinya memang persis mencerminkan kehidupan Soedjatmoko: orang yang banyak ilmu. Tapi pemberian gelar ulama itu jelas memiliki konotasi lebih: bahwa almarhum bukan cuma berilmu tapi juga, dan ini yang lebih penting, mampu memberikan teladan laku bagi siapa saja.

Goenawan Mohamad bahkan menyebut Soedjatmoko bukan cuma teladan ilmu, melainkan juga teladan "laku". Bagi Soedjatmoko, apa yang dikatakan dan yang ditulis tidak cuma cermin ketangkasan berolah pikir, melainkan juga cermin pergulatan batinnya. Orang bilang, keteladanan adalah sesuatu yang hilang dari kita. Kita tak lagi punya sesuatu yang kita banggakan. Tak ada lagi sosok pribadi yang layak kita jadikan teladan. Tampil secara sederhana saja misalnya, juga sesuatu yang tak mudah. Imbauan untuk menyederhanakan hidup sebetulnya pas buat kita. Ia bukan cuma problem bagi orang kaya yang cenderung hidup gemerlapan. Orang miskin pun, entah berkat rangsangan virus apa, banyak yang tak mau tampil apa adanya. Mereka tidak gemerlap, mungkin juga memperlihatkan sikap anti pada gaya hidup itu, barangkali hanya karena belum ada kesempatan.


Benar kekaguman Taufiq pada Ki Mohamad Said, karena orang itu telah membuktikan dalam hidupnya. Ia bukan cuma orang sederhana, melainkan mungkin kesederhanaan itu sendiri.





Sumber:
Mohammad Sobary
Jawa Pos 12 Januari 1992
Read more ...

Gado-gado Cak Nun

Gado-gado Cak Nun


Malam Minggu kemarin, 20 September 2014, di lapangan Korpri Provinsi Lampung, ada hajatan budaya yang digagas teman-teman SEKALA Lampung.  Di acara tersebut, hadir teman-teman dari Galaxy Nasyid, Paduan Suara Universita Lampung, Cerpenis Lampung Mbak Yuli Nugrahani, Budayawan Lampung Isbedy Setiawan, Pak Gie Sugiyanto, Tokoh Masyarakat, Pemuka Agama, Anggota DPR, dan Budayawan Emha Ainun Najib, dan tentunya saya, sebagai penonton (sopo rek sing takok ! ... ha ha :D )

Acara dibuka dengan penampilan dari teman-teman grup Nasyid Galaxy, Paduan Suara Universitas Lampung, pembacaan puisi oleh Isbedy Setiawan dan Yuli Nugrahan.

 Galaxy Nasyid in Action

 "Muli" oleh Isbedy Setiawan

Yuli Nugrahani dengan "Menuntut Bukti"-nya


 Emha Ainun Najib, tentang Kebhinneka Manunggal Ikaan


Tokoh Masyarakat dan Tokoh Agama Lampung




Beberapa wacana yang tercatat di kepala, dari acara budaya bertema Kebhinneka Manunggal Ika an, yang diprakarsai  Sekala Lampung, dan kemudian saya beri judul sendiri Gado-gado dari Cak Nun, diantaranya :


1. Gado-gado itu enak, ketika bahan-bahannya berkualitas. Kolnya, kacangnya, lontongnya, kentangnya, tahunya, semuanya fresh (dan kemudian diolah dengan benar). Gado-gado enak, ketika bahan-bahan tadi tetap menjadi dirinya sendiri: Kol ya benar-benar kol, bukan kol-kolan, dan seterusnya. Demikian analogi untuk Kebhinneka Manunggal Ika an.
Jika selama ini kita terlalu terpaku dengan Kebhinnekaan, ke depan kita juga perlu memberikan porsi perhatian lebih besar terhadap Kemanunggal Ikaan. Ketika Lampung, Jawa, Sunda, Bali, menjadi lampung-lampungan, Jawa-jawaan, Sunda-sundaan, Bali-balian, dan seterusnya, apakah akan menjadi gado2 Indonesia yang berkualitas ?!
Jadi cara berfikirnya: Manunggal ika, menyatu tanpa kehilangan identitas aslinya. 

Lampung, Jawa, Bali, madura dan seterusnya itu lebih dulu ada dari yang namanya Indonesia, justru Indonesia tak akan ada tanpa semua tadi.
Maka yang dibutuhkan justru menjaga identitas itu, dan untuk kepentingan Kemanunggal Ikaan, yang dibutuhkan adalah perekat berupa "keterbukaan", "saling menerima perbedaan" ...
Saya senang mendengar sudah ada yang mulai mengumpulkan "kata-kata mutiara Lampung" ... itu merupakan modal.  (Cak Nun)

2. Dari sisi religiusitas, kalimat "Allahuakbar" adalah bentuk tertinggi ketakjuban akan pengalaman empiris. Ketakjuban dari (kesadaran) sang rendah kepada (karya) Sang Maha Tinggi. Maka rancu ketika kalimat maha sakral tersebut justru digunakan untuk kepentingan gagah-gagahan. (Cak Nun)
3. Acara semacam ini, ada baiknya dikonsep agar seperti fase-fase yang disampaikan Bapak pendidikan : "ing ngarso Sung tulodo, ing madyo mangunkarso, tut wuri handayani". ketika semakin ke sana porsi saya dan kita yang tua-tua semakin sedikit, dan bisa digantikan dengan yang muda-muda ini, itu berarti acara yang digagas Skala Selampung dan komunitas-komunitas yang hadir di sini, semakin berhasil (Cak Nun)
4. Kearian lokal, Filsafat lampung "Piil Pasenggiri", dari yang saya alami dalam keluarga saya, terutama dari Ibu saya, lebih bermakna sebagai "gengsi" yang diukur sebagai segi Kemanfaatan orang Lampung terhadap dirinya dan orang lain (Advokad Lampung, dulunya orang teater -- namanya lupa)
5. Pluralitas itu realitas, menolaknya berarti menolak realitas. Realitas yang bersumber dari Sang Sumber hidup. Jika punya pendirian demikian silahkan resikonya ditanggung sendiri (Corat-coret Penulis).

Dan satu pesan Cak Nun, ketika aktivitas ini diselenggarakan menjadi rutin, idealnya peran Cak Nun dan para tokoh senior semakin sedikit porsinya, seiring meningkatnya porsi peran generasi muda Lampung.  

Itulah corat-coret ide, pemikiran, wacana tentang Kebhinneka Tunggal Ika an yang sempat tercatat dalam artikel Gado-gado Cak Nun ini.  Semoga hajatan semacam ini bisa diselenggarakan secara terus menerus, untuk membuat Lampung, Indonesia lebih sejuk, lebih damai, dengan berpijak pada budaya Indonesia itu sendiri.




Tabik pun !

Salam Hangat,



Thomas Pras









Read more ...

Kotak Sosio-Kultural

Kotak Sosio-Kultural 

 

  ilustrasi kotak sosio kultural.  sumber: di sini

"Makin lama makin cinta pada Muhammadiyah. 
Saya ingin bila kelak saya mati, keranda saya ditutup bendera Muhammadiyah." 

Ini ucapan Bung Karno. Ketika tokoh ini kemudian wafat dalam kesepian di Wisma Yaso, Jakarta, jenazahnya disalatkan oleh almarhum Buya Hamka, tokoh yang pernah disudutkannya secara politis. Buya Hamka bersedia menyembahyangkan Bung Karno karena Menteri Sekretaris Negara Alamsyah, waktu itu, membujuk agar Buya berbesar jiwa. Saya dengar alasan ini dari Buya Hamka sendiri dalam suatu salat Jumat di Mesjid Agung Al-Azhar, Jakarta. Saya tidak tahu pasti, adakah keranda Bung Karno kemudian ditutup bendera Muhammadiyah. Samar-samar saya ingat, ada berita dari seorang warga Muhammadiyah, bahwa wasiat beliau dipenuhi.


Nurcholish Madjid pernah menulis di harian Pelita, komitmen kita sebagai umat Islam ialah komitmen pada nilai, bukan pada golongan. 
Pemikiran ini menarik. Kita tahu, nilai memiliki kepastian relatif. Sedang golongan tidak. Seseorang boleh "berkulit" haji, berbendera Muhammadiyah atau NU memang; tapi jaminan dari orang itu bahwa ia akan senantiasa lurus dan bersikap luhur sebagaimana nilai-nilai yang melekat pada baju yang dipakainya, tidak ada. Bagaimanakah corak pemihakan Bung Karno pada Muhammadiyah? Kita tidak tahu. Bung Karno sendiri tak secara eksplisit menjelaskannya. Sementara itu sumber tertulis tidak ada. Dugaan saya, Bung Karno punya banyak komitmen nilai, sekaligus golongan.

Di tengah kaum Marhaen, ia bilang ia juga Marhaenis. Di tengah orang-orang Komunis dia bilang bahwa dia seorang Marxis. Orang pun tahu, ia juga menyebut dirinya seorang agamawan. Apakah Bung Karno plin-plan? Ia Bapak bangsa. Ia merasa harus berdiri di atas semua golongan. Agaknya ia beranggapan, meskipun tak dikatakannya, keragaman identik dengan perpecahan. Sedang ia gandrung akan persatuan. Kata Bernard Dahm, hanya Bung Karno-lah yang karena ke-Jawa-annya, bisa menggabungkan ketiga hal berbeda satu sama lain itu ke dalam satu sintesa harmonis. Karena bagi orang Jawa, segala sesuatu itu pada dasarnya satu.


Dalam salah satu sajak religiusnya, Farriduddin Attar memandang Dunia, penyair Taufiq Ismail bicara tentang pemikiran Attar. Bagi Attar, katanya, dunia ini nampak sebagai sebuah kotak. Manusia hidup, beranak, bercucu, berkemenakan, bekerja, tidur dan bermimpi, di dalam kotak. Manusia, di dunia ini, kerjanya sibuk membuat kotak-kotak.

Amir Machdum, guru saya, melarang saya masuk partai politik. Alasannya, partai mengurung, membatasi kita. Padahal ia sendiri, dulu, orang PNI. Saya sendiri anak Muhammadiyah karena lahir di lingkungan Muhammadiyah, dan sekolah di sekolah Muhammadiyah. Setelah saya tahu NU, ibadah saya mirip NU tapi "partai" saya tetap Muhammadiyah.

Ketika mahasiswa, kotak yang saya pilih HMI. Tapi ketika Ogi Indra Yoga, golongan independen, mencalonkan diri jadi ketua Senat Mahasiswa FIS UI (nama dulu), saya mendukungnya karena dia populer, rajin bekerja, dan mau berpikir. Masriel Mansyur, lawannya dari HMI, tidak saya dukung. Benar dugaan saya, Masriel kalah.

Toh saya menolak tawaran Ogi, sang pemenang, untuk menjadi salah satu stafnya. Saya memperlihatkan solidaritas terhadap kawan-kawan HMI lain, yang tak satu pun mendapat tawaran Ogi. Dalam hal ini, saya tegas memperlihatkan warna "jaket" HMI. "Lebih baik, kalau tidak mau, bilang saja tidak mau. Jangan banyak alasan," katanya.

Belakangan saya mikir, kita gandrung demokrasi dan sadar akan kebhinekaan etnis, agama, dan corak pemikiran dalam masyarakat kita, tapi mengapa kita tak cukup longgar mendengar argumen lain yang tak sejalan dengan kita? Mengapa kita tak sabar menghadapi kebhinekaan? 

"Kalau mau serba seragam," kata Rendra, "lebih baik jadilah pembuat batu bata."


Keseragaman memang mengesankan berfungsinya mesin rekayasa yang otoriter, kaku, dan dingin, mirip teriak kebulatan tekad yang mekanistis. Saya lebih suka kebhinekaan. Tapi dalam kebhinekaan ada cacat yang tak saya sukai. Di sini orang bisa, dan mungkin mudah, tergelincir ke dalam kotak fanatisme yang selalu siap mengurung kita. Potensi ricuh dalam kotak ini sama besar dengan rasa sumpek di bawah keseragaman yang serba otoriter. Kedua-duanya, dengan kata lain, punya kemungkinan untuk jadi jelek.

Namun, karena lazimnya orang harus memilih, bagi saya, kebhinekaan itu baik, asal kita tidak terkurung. Artinya, di saat diperlukan, kita harus bisa keluar dari kepompong (agama, kelompok, golongan, etnis, partai politik) yang mengurung kita karena, sekali lagi mengutip Nurcholish Madjid, komitmen kita pada nilai, bukan pada golongan.





Sumber:
Mohammad Sobary
Editor, No. 24/Thn. IV/23 Februari 1991
Read more ...

Kesalehan Sosial, Kesalehan Ritual

Ilustrasi Kesalehan Sosial: Anak-anak SD Muhammadiyah membersihkan Sungai, sumber : di sini

Ketika dalam "Robohnya Surau Kami" A.A. Navis memasukkan Haji Saleh (yang yakin bakal masuk sorga itu) ke neraka, sebenarnya ia sedang berbicara tentang suatu corak keagamaan yang tak ia "restui". Navis sedang menggugat kesalehan ritual: jenis kesalehan yang ukurannya ditentukan berdasarkan seberapa taat seseorang menjalankan salat lima waktu, seberapa panjang zikir-zikir sesudah salat, dan seberapa sering salat sunat ia lakukan. Pendek kata, kesalehan itu ditentukan berdasarkan ukuran serba legal formal sebagaimana kata ajaran.

Dan biasanya, untuk ini ada-ada saja orang yang merasa memiliki otoritas buat menilai kredibilitas moral orang lain. Ia menjadi semacam tim pemeriksa dan penilai keimanan orang lain. Islam bukan agama individual. Ajaran yang dibawa Gusti Kanjeng Nabi Muhammad itu, dari "atas" memang dirancang buat rahmat bagi semesta alam. Orang yang paling saleh pun dengan demikian tak punya hak monopoli atas agama itu. Kita tak berhak menentukan tingkat kesalehan tetangga sebelah. Dan tak satu pun di antara kita punya wewenang "mengontrol" ibadah orang lain. Terutama bila hal itu disertai sikap sinis dan cemooh, seperti Haji Saleh dalam Robohnya Surau Kami itu.

Kita tahu Bang Navis orang Minang dan ia sedang bicara tentang situasi kultural Minang. Tapi corak keagamaan itu tak dengan sendirinya cuma milik orang Minang. Di Jawa pun, pada saat yang sama, tiga puluhan tahun yang lalu, ketika perpecahan ideologi kultural kuat mewarnai kehidupan masyarakat, gejala serupa juga menonjol. Terjadinya polarisasi santri-abangan, sebagaimana dirumuskan Clifford Geertz, adalah produk zaman tersebut. Namun juga tak berarti cuma milik zaman itu. Sekarang pun, setelah tiga puluhan tahun yang berlalu, kecenderungan agamis seperti itu toh masih juga terasa.

Maka pada tahun 1980-an, ketika Gus Dur giat menganjurkan agar kita istirahat sebentar dari kesibukan berdebat tentang batalnya wudlu, untuk khusyuk bersama-sama memikirkan bagaimana kemiskinan umat ditangani, ia seperti memberi jawaban atas persoalan yang merunyamkan A.A. Navis tersebut. Dengan kata lain, Gus Dur sedang berbicara tentang kesalehan sosial: suatu bentuk kesalehan yang tak cuma ditandai oleh rukuk dan sujud, melainkan juga oleh cucuran keringat dalam praksis hidup keseharian kita. Orang semacam Gus Dur dan mayoritas umat yang miskin tentu saja juga memerlukan penyelamatan sorgawi seperti Haji Saleh itu.

Bedanya, Haji saleh mengesankan sikap hidup egoistis, ingin mencari selamat sendiri, sedangkan Gus Dur tampak altruis, ingin menikmati penyelamatan sorgawi bersama umat. Kalau boleh, mungkin mau masuk sorga dengan sandal kulitnya itu sekaligus. Kecuali itu, Haji Saleh yakin bahwa sorga bisa digapai dengan kesalehan ritual.
Gus Dur melihat bahwa sorga justru (setelah melihat konteks sosio-ekonomis umat yang compang-camping) harus lebih diraih dengan kesalehan sosial.

Usahanya "menerobos" pintu Bank Summa untuk melakukan kerja sama ekonomi dengan membuka BPR, misalnya, jelas mempertegas wawasan keagamaannya. Dalam kitab suci disebutkan bahwa sorga itu ada tingkatan-tingkatannya.

Tanpa menodai ajaran, saya sering menafsirkan bahwa rasanya, sekarang pun saya sudah menikmati sebagian kenyamanan sorga itu. Maka, tafsiran saya selanjutnya, sorga bagi rakyat kecil, mayoritas umat yang miskin tentu juga sederhana tingkatannya: yakni sekadar buat pemenuhan kebutuhan jasmani (sandang, pangan, papan).
Buat kebutuhan rohani, (membaca salawat buat Kanjeng Nabi, maupun segala puja dan puji kepada Allah) tentu dirasa sebagai kebutuhan luks. Dus, belum merupakan kebutuhan primer.

Tafsiran serupa saya dengar pernah dibuat oleh seorang pastur muda yang arif. Sehabis mengkhotbahi habis-habisan para "domba" yang miskin, ia antar mereka pulang. Di tengah nyala obor, di sepanjang jalan licin dan becek di daerah Malang, terjadilah dialog antara sang pastur dan dan para jemaahnya. Sang pastur kemudian menyimpulkan: saya ini keliru. Kongkret, mereka butuh makan. Tapi saya beri mereka cerita tentang sorga, cinta kasih, dan Tuhan Bapa ... Pemikiran keagamaan seperti ini ternyata juga bukan monopoli kaum terpelajar, seperti Romo Pastur muda tadi.

Di Desa Ciater, Serpong, tempat saya melakukan penelitian tentang hubungan antara agama dan tingkah laku ekonomi, saya temukan seorang haji tua, pedagang kecil, yang beranggapan bahwa kesalehan itu terletak dalam praksis, bukan dalam doa-doa. Ketika saya tanyakan kepadanya, orang yang bagaimana yang disebut sebagai orang saleh, Haji Asnen bin Haji Thalib itu menjawab: "Orang yang menyeimbangkan ushali dan usaha," katanya. Baginya, kedua hal itu harus diseimbangkan.

Namun, jika ia harus memilih, ia akan lebih memilih yang kedua dulu. "Mengapa?" tanya saya. "Karena kalau anak-anak lapar, kita harus memberikan jawab kongkret: kasih makan. Dan makan itu kita peroleh dari usaha." "Doa mah kaga enak dimakan," katanya lagi. Dengan kata lain, haji dari Betawi ini pun sedang bicara bahwa dalam kondisi tertentu, kesalehan sosial terasa agak lebih, dan karena itu perlu didahulukan dari kesalehan ritual. Dengan begini, gugatan Navis kini terasa berdengung kembali dan memperoleh lagi relevansinya.

Bukan haji kalau ia tak bisa memperkuat argumentasinya dengan contoh kuat. Maka, Haji Asnen pun mengutip sebuah Hadis. Katanya, seorang sahabat pernah memuji kesalehan orang lain di depan Kanjeng Nabi. "Mengapa ia kau sebut sangat saleh?" tanya Gusti Kanjeng Nabi Muhammad SAW. "Soalnya, tiap saya masuk masjid ini dia sudah salat dengan khusyuk dan tiap saya sudah pulang, dia masih saja khusyuk berdoa."

"Lho, lalu siapa yang memberinya makan dan minum?" tanya Kanjeng Nabi lagi. "Kakaknya," sahut sahabat tersebut. "Kakaknya itulah yang layak disebut saleh," sahut Kanjeng Nabi lebih lanjut. Sahabat itu diam. Sebuah pengertian baru terbentuk dalam benaknya. Ukuran kesalehan, dengan begitu, menjadi lebih jelas diletakkan pada tindakan nyata. Kesalehan, jadinya, lalu dilihat dampak kongkretnya dalam kehidupan sosial. Tentu saja, hanya kesalehan sosial yang bisa diukur dengan cara seperti itu.


 Dalam agama, sebenarnya kedua corak kesalehan itu merupakan wajah sebuah kemestian yang tak usah ditawar. Secara normatif, keduanya haruslah merupakan bagian hidup tiap-tiap hamba. Kita, pendeknya, selalu diminta tampil ideal. Artinya, secara ritual kita saleh, secara sosial pun kita mestinya saleh juga. Maka, betapa pun pahitnya harus diakui bahwa memang, silang selisih antara mereka yang lebih menggarisbawahi kesalehan ritual dengan mereka yang lebih memilih kesalehan sosial masih bisa terjadi terus-menerus. Ini tak menjadi soal. Sebab, bukankah silang selisih itu sendiri merupakan sebuah dialog untuk mencapai takaran ideal itu juga?




Sumber: 
Mohammad Sobary
Jawa Pos, Minggu Legi, 29 Desember 1991
Read more ...

Nasruddin: Filsuf itu Orang Bodoh dan Bingung



Nasruddin, sumber : di sini


Berikut adalah salah satu kisah Nasruddin yang dikutip dari The Exploits of The Incomparable Nasruddin, buku yang disusun oleh seorang sufi abad akhir, Idries Shah.

Alkisah, para filusuf, ahli ilmu mantiq, dan ahli hukum berkumpul di istana. Mereka bergabung untuk menginterogasi Nasruddin. Perkara Nasruddin telah dianggap sebagai sebuah kasus yang amat serius. Persoalannya adalah; Nasruddin seringkali datang ke berbagai tempat meneriakkan satu khotbah yang sama. Dalam khotbahnya itu, ia menyebut orang-orang berilmu, seperti para filsuf, sebagai mereka yang bodoh, kebingungan, dan tak bisa mengambil keputusan. Tentu saja, ceramah Nasruddin ini dianggap subversif dan mengganggu ketertiban negara.

Singkat cerita, mereka yang merasa tersinggung meminta Raja untuk mengadili Nasruddin. Digelarlah sebuah pengadilan dengan Nasruddin sebagai terdakwa tunggal. "Hai Nasruddin," ucap Raja, "kau mendapat giliran untuk bicara terlebih dahulu."

Nasruddin lalu meminta agar dibawakan beberapa lembar kertas dan pena. Setelah itu ia berkata, "Tolong bagikan kepada para pakar yang ada di ruangan ini, masing-masing secarik kertas dan sebilah pena."

Setelah setiap orang pakar mendapatkan kertas dan pena, Nasruddin berkata lagi, "Aku mohon kepada setiap ahli untuk menuliskan di atas kertas itu jawaban untuk pertanyaan ini; Apa yang disebut dengan roti?"

Setiap cerdik cendekia yang ada di tempat itu lalu menuliskan apa yang mereka ketahui tentang roti. Jawaban para pakar itu lalu dikumpulkan dan diserahkan kepada Raja. Raja pun membacanya satu demi satu.

Orang bijak pertama menulis, "Roti adalah sebuah makanan."
Si bijak kedua menjawab, "Roti adalah tepung bercampur dengan air."
Si bijak ketiga menulis, "Roti adalah karunia Tuhan."
Si bijak selanjutnya menjawab, "Roti adalah terigu yang telah dimasak."
Orang berikutnya menulis, "Roti merupakan makanan bergizi."
Dan demikian seterusnya.
Setiap orang yang terkenal pandai itu, menulis jawaban yang berbeda-beda, masing-masing bergantung pada pemaknaan mereka akan sebuah roti.
Salah seorang dari mereka bahkan menulis, "Tak ada seorang pun yang tahu sebenarnya apa yang dimaksud dengan roti."

Setelah mendengar semua jawaban itu, Nasruddin berkata kepada sang Raja, "Ketika mereka dapat menentukan apa yang disebut sebagai roti, barulah mereka bisa menentukan hal-hal selain roti. Misalnya, menentukan apakah khotbahku benar atau tidak."

la melanjutkan, "Dapatkah Baginda mempercayakan urusan penilaian atau keputusan kepada orang-orang seperti ini?
Bukankah amat aneh bila mereka tidak sepakat akan sesuatu yang mereka makan setiap hari, tetapi mereka sepakat untuk menentukan bahwa aku seorang ahli bid'ah?"


Cerita Nasruddin di atas sebetulnya merupakan sebuah sindiran orang-orang sufi kepada mereka yang merasa bijak, mereka yang sibuk mempelajari agama lalu ramai berdebat untuk memutuskan mazhab mana yang benar dan mana yang sesat. Bukankah ketika kita belajar fikih, kita dihadapkan kepada berbagai perbedaan pendapat. Kita akan dianggap orang yang paling pandai apabila kita bisa mengetahui segala pendapat yang berbeda itu, lalu memutuskan bahwa pendapat kitalah yang paling benar.

Kepada mereka yang kebingungan, Nasruddin berkata, “Janganlah kau ikuti berbagai macam pendapat yang ada. Kau takkan mungkin dapat mempersamakan para ulama itu."   Para ulama yang berbeda paham tersebut hanya mencapai bagian luar dari ajaran agama. Dimensi eksoteris agama akan selalu menghasilkan perbedaan pendapat. Namun bila kita menukik lebih dalam lagi, ke substansi dari ajaran agama, semua mazhab akan menemukan titik temu."

Read more ...

Doa yang Tak Membebaskan

DOA YANG TAK MEMBEBASKAN


DIALOG TENTANG "ISI PESAN"

 

 Ilustrasi Pesantren Tempo Doeloe, sumber: di sini


Para santri pun akhirnya berkumpul lagi setelah beberapa lama sebelumnya mereka menerima tugas dari sang kiai. "Sudah mengerti pesan dalam surat itu?" tanya kiai, membuka pertemuan kembali.
"Sudah, kiai, alhamdulillah," sahut salah seorang santri.
"Bagaimana isi pesan itu?" Santri itu memperdengarkan bacaannya yang bagus atas surat Al Ma'un.
"Aroaital ladzi yukadzibu biddin ...," merdu suaranya. Dan ia pun meneruskan pembacaan dan terjemahannya, sampai selesai.

"Kamu?!" kata sang kiai kepada santri yang lain. Santri itu pun mengulangi hal yang sama. Ia pun membaca ayat-ayat suci itu, disertai terjemahannya. Setelah para santri lain memberi jawaban yang sama, sang kiai tak lagi meneruskan bertanya pada santri berikutnya. Ia berkesimpulan, semua santri pasti akan berbuat serupa. "Kalian belum mengerti kalau begitu. Kalian cuma hapal. Mengerti dan hapal itu beda," katanya lagi, dengan intonasi lembut seperti semula. Kiai kita ini ialah pendiri perserikatan yang bernama Muhammadiyah yang terkenal itu: Kiai Haji Ahmad Dahlan.

Dialog ini terkenal di kalangan keluarga Muhammadiyah. Orang Muhammadiyah menganggap "peristiwa" ini penting karena dalam dialog itu terselip sebuah pesan jelas, bahwa agama tak cuma minta dipahami, melainkan diamalkan. Ketika agama berhenti pada titik pemahaman, saat itu mungkin agama diturunkan derajadnya menjadi "cuma" sejenis filsafat. Agama, dengan kata lain, dipreteli fungsi-fungsi sosialnya yang begitu penting dan yang paling relevan dengan hidup kemasyarakatan kita. Syahdan, sejak dialog antara kiai dan santri itu lalu didirikan sebuah panti asuhan, tempat menampung anak-anak yatim-piatu.

Langkah ini diambil KH Ahmad Dahlan untuk memenuhi perintah yang dikandung di dalam surat Al Ma'un tersebut. Ini merupakan contoh kongkret bagi para santrinya, mengenai bagaimana mereka harus memahami kandungan isi kitab suci Al Qur'an. Di sana memang ada kalimat: "Tahukah kamu, orang-orang yang mendustakan agama? " Dan dalam surat ini dijelaskan bahwa orang yang menyia-nyiakan anak yatim serta tak memberi makan orang miskin, dimasukkan dalam kategori dusta itu.


RELEVANSI SOSIAL DARI AGAMA

 

Ilustrasi "Isi Pesan", sumber di sini


Agama diturunkan Tuhan buat manusia, dan bukan buat kepentingan Tuhan itu sendiri. Tuhan sudah kelewat mulia, kelewat luhur, kelewat kaya. Pendeknya ia tak perlu apa-apa lagi. Oleh karena itu, sekali lagi, pemahaman KH Ahmad Dahlan itu sungguh sangat kontekstual buat situasi kita saat itu, dan juga kini. Ayat-ayat suci sungguh bukan untuk dibaca, dilagukan, dan dipertandingkan dari tingkat kabupaten sampai tingkat nasional, melainkan untuk dimengerti, dipahami dan dilaksanakan. Sikap KH Ahmad Dahlan begitu tegas: ia tak ingin umat Islam hanya menjadi "burung nyanyi", (seperti contoh para santrinya) yang mengandalkan suara merdu. Baginya, yang terpenting adalah tindakan dan amal nyata. Relevansi sosial dari agama, pendeknya, merupakan hal yang penting. Mungkin malah yang terpenting. Ibadah puasa selama sebulan itu ditutup dengan lebaran. Suasana khusu', penuh tirakat dan sikap prihatin yang nampaknya dalam itu diakhiri dengan sebuah pesta: makan, minum, rokok dan segala macam yang selama sebulan dilarang, di hari itu halal semata hukumnya.

Dan kita bersyukur. Tradisi yang mewarnainya, dus sesuatu yang bukan bagian dari ajaran, ialah sungkem pada orang-tua, mertua, bertemu sanak keluarga, teman kongkow, teman ngaji, teman sekolah atau kantor, dan juga para tetangga. Suasana gembira memancar di tiap wajah. Hati pun terbuka buat saling memaafkan. Urusan ibadah kita menjadi juga urusan nasional. Negara mendapat untung, setidaknya dari penjualan benda-benda pos. Permintaan dan pengiriman maaf tak bisa jalan tanpa amplop dan perangko. Pulang ke kampung juga merupakan tradisi lain yang ikut mewarnai kemeriahan lebaran. Negara juga ikut terlibat dalam acara ini. Mungkin juga memperoleh untung dari penjualan tiket kereta, pesawat dan kapal laut, buat kepentingan orang-orang yang bergembira ini. Suasana tirakat tak boleh berlama-lama. Tuhan menghendaki segala yang mudah, sederhana dan kepenak, bagi hamba-hambaNya.


APA YANG KONKRIT ? 

 

Ilustrasi : Muara dari Pengembaraan Rohani, sumber di sini

Tapi persoalannya, jika puasa sebulan itu dianggap media latihan hidup asketik, pengerahan segenap kekuatan lahir dan batin untuk menangkap esensi serta makna ajaran suciNya, apakah kemudian yang kita bawa "pulang" ke dunia ini? Apa hasil pengembaraan rohaniah, yang bisa kongkret kita abdikan buat kepentingan kemanusiaan? Pertama-tama, barangkali harus diakui bahwa tak setiap hamba memang telah "berhasil" menghayati esensi ajaran yang terkandung dalam puasa. Mungkin kita ini masih pada tataran "burung nyayi": kita baru hapal, dan belum mengerti, seperti kata Kiai Dahlan tadi. Kita sibuk ngaji, sibuk bertilawatil Qur'an, mungkin kurang sibuk berbuat. Kecuali itu, dari tahun ke tahun, mungkin suasana "tirakat" dalam bulan puasa semakin nampak berubah.

Benar, kita masih fasih bicara solidaritas sosial, kita juga punya kepedulian terhadap kemiskinan, tapi bagaimanakah tindakan kita? Acara buka puasa menggejala di mana-mana. Acara-acara semacam itu sering berarti makan besar dan enak. Dan kita boleh bertanya pada diri sendiri, berapa puluh kalikah acara seperti itu kita hadiri selama sebulan itu? Atas nama kekeluargaan, kangen-kangenan antara sesama teman dalam organisasi ketika mahasiswa, kumpul tanpa suatu tujuan tertentu selain buka bersama, atau bahkan dengan motivasi bisnis, acara buka puasa bersama diadakan di hotel mewah. Tak jadi soal memang, karena kita makin makmur. Tapi "kita" di sini siapa gerangan orangnya? Nampaknya cuma kelas menengah dan atas. Dengan kata lain, golongan rakyat yang sehari penghasilannya 2-3 ribu, tak akan pernah ikut acara macam ini.


AJARAN BUKANLAH REALITAS TINDAKAN



Tak jadi soal juga memang, kalau kita tak ada kepedulian terhadap mereka. Tak jadi soal kalau kita tak belajar menaruh iba dan rasa kasih pada mereka yang di bawah, yang tertindas. Jarak antara sesama kita, sebenarnya jauh. Setidaknya, tak sedekat yang kita bayangkan. Dan tak sedekat yang kita gambarkan secara ideal bahwa tiap umat, menurut ajaran, satu sama lain adalah saudara. "Saudara yang bagaimana?" saya bertanya ...

Soal serius dalam hidup kita, umat, ialah bahwa kita lupa, ajaran itu bukan realitas. Tapi kita sudah puas dengan semua yang ideal. Dan berhentilah kita di tataran itu. Maka kita pun menyanyikan lagu bahwa agama memperhatikan yang miskin dan menyantuni yang yatim. Kita menyanyi dalam arti sebenarnya karena kita lupa bahwa agama di situ menuntut tindakan kita.

Ucapan "Selamat Lebaran" yang kita sampaikan pada mereka yang lebih miskin jadinya cuma ucapan kosong atau setengah kosong, karena tanpa kita sertai tindakan yang jelas bisa membebaskan mereka dari struktur yang mengurung dan memiskinkan mereka itu. Sebagai doa, ucapan kita jelas mulia. Tapi bagaimanapun, ia belum merupakan doa yang membebaskan.





Sumber : 
Mohammad Sobary
Jakarta Jakarta, No.300, 28 Maret- 3 April 1992
Read more ...

Sokrates di Pasar

 Sokrates, sumber: di sini


Sokrates, seorang filsuf sejati, yakin bahwa orang yang bijaksana dengan sendirinya akan hidup sederhana. Ia sendiri tidak memakai sepatu, namun ia terus-menerus tertarik oleh keramaian pasar dan sering pergi ke sana untuk melihat segala macam barang yang dipertontonkan.

Ketika salah seorang kawannya bertanya mengapa demikian, Sokrates berkata:

"Saya senang pergi ke sana untuk mengetahui berapa banyak barang yang meskipun tidak memilikinya, saya tetap gembira."


Hidup batin adalah tidak mengetahui apa yang engkau kehendaki tetapi memahami yang tidak engkau butuhkan.



Sumber : 
Doa Sang Katak 2
Anthony de Mello SJ
Cetakan 12, 1990
Penerbit Kanisius
Read more ...